Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Kecurigaan Ernest Pada Edo


__ADS_3

Di saat Edo sama teman-temannya lagi merencanakan sesuatu, Justin telah kembali mendekati Ernest sambil tersenyum lebar. Semua Justin lakukan demi menutupi luka di dalam hatinya agar tidak membuat Ernest ikut merasakan.


"Loh, kok, balik lagi? Kenapa enggak jadi main?" tanya Ernest sambil menyuapini cemilan untuk Barra.


"Mereka tidak mengizinkan Justin buat main, kata mereka Justin anak kecil. Jadi, kalau nanti main sama mereka terus jatuh nangis, gitu. Ya, sudah Justin balik lagi main sama daddy sama Barra aja lebih seru." Justin tertawa kecil agar terlihat baik-baik saja di depan Ernest.


Anak seusia Justin suah pandai menyembunyikan perasaannya yang lagi terluka demi melindungi hati Ernest. Sungguh, anak emas yang satu ini selalu bisa meluluhkan hati siapa pun yang mengetahui kebaikan hatinya.


Tidak banyak seseorang yang memiliki hati baik, bersih juga tidak peduli sama apa yang dia rasakan. Setidaknya dia bisa melindungi serta melihat orang-orang yang di sayang bisa bahagia.


"Sabar, ya, Sayang. Nanti juga Justin bisa mendapatkan teman kalau sudah sekolah, Daddy akan mendaftarkan Justin di sekolah yang banyak sekali temannya jadi Justin tidak akan merasa sedih juga kesepian. Gimana, setuju?" ucap Ernest.


"Setuju, yeyy ... Makasih, Dad. Makasih, Justin seneng banget. Justin bangga punya Daddy," jawab Justin begitu antusias sambil melompat-lompat penuh kegembiraan. Dia tidak menyangka Ernest akan berbaik hati untuk menyekolakannya seperti anak lainnya.


Justin memang sudah sekolah, tetapi sekolah play gtoup atau bisa di bilang seperti TK kecil TK besar. Teman-temannya tidak banyak seperti sekolah biasanya, hanya bisa kehitung dengan tangan. Berbeda jika Justin memasuki sekolah dasar yang akan memiliki banyak teman. Mulai dari teman sekelas, teman semeja, bahkan kakak kelas dan sebagainya.


Hanya dengan mendaftarkan Justin ke sekolah terbaik, tanpa di sadari Ernest telah menghilangkan luka di dalam hati Justin, sehingga dia bisa melupakan semua kesedihan yang terjadi pada dirinya beberapa saat lalu.


Namun, semua itu tidak berlangsung lama. Saat Edo dan teman-temannya datang, mereka terlihat tersenyum menyapa Justin. Akan tetapi, Justin malah terlihat gugup. Dia merasa kedatangan Edi dan teman-temannya akan membawa keburukan untuk kebahagiaannya mereka. Apa lagi Justin sangat takut kalau mereka ke sini hanya untuk menghina kondisi Ernest.


"Hai, Justin. Katanya tadi mau main sama kita, sekarang kita udah berubah pikiran nih," ucap Edo diangguki oleh kedua temannya di samping kanan dan kiri.


"Ti-tidak apa-apa, Kak. A-aku tidak jadi main sama kalian, aku takut merepotkan kalian kalau nanti ada apa-apa aku bisanya hanya nangis," jawab Justin terbata-bata ketika bisa merasakan aura negatif dari mereka.


Ernest memantau setiap pergerakan yang mereka lakukan, karena terdapat kejanggalan yang cukup aneh dari sifat Justin. Setahu Ernest, Justin jarang sekali nangis. Kalaupun terluka, Justin tetap tersenyum. Berbeda jika hatinya yang terluka barulah dia akan meneteskan air mata.

__ADS_1


"Loh, kenapa? Ayo, main sama kita, kamu tidak merepotkan Toh, kamu masih punya kedua kaki yang sehat jadi kita bisa berlari bersama. Ya, 'kan teman-teman?"


Edo menatap kedua temannya secara bergantian. Mereka hanya menyetujui apa yang Edo katakan untuk mewujudkan apa yang mereka rencanakan.


Akan tetapi, sindiran yang Edo berikan entah mengapa berhasil mencubit sedikit hati Ernest. Membicarakan tentang kaki yang sehat, Ernest spontan segra melihat ke arah kakinya sendiri yang tidak bisa melakukan hal banyak.


"Ti-tidak usah, Kak. Terima kasih, sudah ayo, Dad. Kita ke sana, aku mau main prosotan aja. Ayo, Pak. Tolong bantu daddy, dorong kursi rodanya ke sana. Cepat, Pak!"


Justin berusaha mengalihkan pembicaraan mereka agar Edo tidak seenak jidat bisa melakukan penghinaan terhadap Ernest. Kedua bodyguard yang berjaga juga ingin membantunya, tetapi Ernest melarang semua itu dan menahannya.


"Tunggu! Kalian kembali ke tempat semua, saya ingin bicara dengan anak saya!" titah Ernest, membuat kedua bodyguard kembali ke tempat dengan cara memundurkan beberapa langkah kebelakang.


Ernest meminta salah satu bodyguardnya untuk menaruh Barra di trollernya agar bisa leluasa bermain dengan mainannya. Setelah itu, Ernest menarik Justin untuk mendekat ke arahnya lalu memangkunya.


Ernest berusaha menjelaskan pada Justin dengan cara yang lembut. Melihat adanya ketakutan dari sorot mata Justin membuat Ernest semakin curiga oleh ketiga anak itu.


Tanpa di sadari mata Ernest melirik ke arah Edi dan teman-temannya yang lagi memasang posisi mereka. Di ana kedua lengan Edo menyandar di kedua bahu temannya. Terlihat sekali ke sombongannya yang semakin meyakinkan Ernest jika sesuatu sudah terjadi pada Ernest.


Belum lagi, saat Justin menceritakan penyebab dia tidak jadi main. Di situ Ernest sudah merasa tidak enak, dan semakin tidak nyaman dengan adanya ketiga anak tersebut.


Untuk mendapatkan penjelasan yang failed, Ernest berusaha mendorong Justin untuk bermain sama mereka. Hanya dengan cara itu Ernest bisa mengetahui ada apa di balik semua ini.


Selain itu juga, bodyguard yang di tugaskan untuk menjaga Justin tidak ikut lantaran Justin tidak ingin dibilang anak manja. Mereka hanya mengawasi dari jarak kurang lebih 2 sampe 3 meter. Jika Justin baik-baik saja, mereka hanya akan memantaunya.


Pintarnya Edo, dia tidak melakukan kekerasan. Dia hanya menggunakan kata-katanya untuk menarik emosi yang Justin miliki, hingga tidak akan ada satu orang yang mendengar percakapan Edo pada Justin.

__ADS_1


"Bukannya tadi Justin semangat banget buat main sama mereka, kok sekarang takut, hem? Kenapa? Apa mereka jahat?" tanya Ernest.


"Ti-tidak, Dad. Mereka baik, kok. Cuman Justin tidak main aja, tapi kalau mereka mau main sama Justin ya, sudah. Justin main sama mereka, deh. Daddy di sini aja sama Barra, ya. Nanti Justin kembali lagi," jawab Justin tersenyum.


Ada yang aneh dengan Justin, apa mereka melakukan sesuatu padanya? Terlihat jelas Justin kaya takut, entah rasa takut apa yang dia sembunyikan. Intinya sifatnya benar-benar aneh.


Ernest berbicara di dalam hatinya lantaran dia berusaha untuk tetap seolah-olah tidak tahu apa-apa. Begitu juga Justin, mungkin kalau dia bertahan di dekat Ernest pasti Edo kan kembali menyindir daddynya.


Jadi, suka tidak suka Justin harus membawa mereka menjauh serta memberikan peringatan agar mereka tidak mengganggu daddynya yang tidak memiliki kesalahan.


Ernest turun dari pangkuan Ernest sambil tersenyum. Erenst ikut membalas senyuman anaknya sambil memperhatikan mereka semua. Meskipun kakinya tidak bisa digerakkan, Ernest masih memiliki kedua tangan dan mata yang sehat untuk gunakan sebaik mungkin.


Edo menggandeng tangan Justin membuat Justin sedikit bingung, tapi senang. Ternyata Edo tidak seburuk yang ada di dalam pikiran Justin. Dari sikap Edo yang baik serta mengizinkan Justin bermain bersama mereka semua, sudah membuktikan kalau Edo sudah menyadari kesalahannya.


Siapa sangka, di balik kebaikan Edo dan teman-temannya terdapat sebuah makna tersirat. Sorotan mata mereka benar-benar sangat licik seakan memberikan kode satu sama lain untuk segera melakukan aksinya.


Ernest terkejut atas apa yang terjadi sama anak kesayangannya, dia langsung berusaha keras untuk menolongnya hingga terjatuh dari kursi rodanya. Begitu juga para bodyguard langsung sigap untuk menolong mereka.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...

__ADS_1


__ADS_2