
Disela-sela Moana sedang menyuapini Ernest, tiba-tiba saja Ernest menanyakan tentang keberadaan anak-anaknya yang tidak di lihatnya dari tadi.
"Di mana Justin? Kenapa dia tidak ke sini, apa Justin masih marah padaku?"
"Tidak, Justin tidak marah. Dia bahkan tidak mau meninggalkan kamu, sayangnya anak kecil tidak boleh terlalu lama di rumah sakit. Jadi, Justin dan Barra nginep di Apartemen bunda sama ayah."
"Ba-barra?"
"Ya, dia anak kandungmu yang sudah aku ceritakan tadi. Aku kira Barra tidak akan bertemu dengan daddynya, tapi aku salah. Sebelum dia bertanya tentang daddynya, kalian malah sudah di pertemukan seperti ini."
"Ma-maafkan aku, aku sudah menyakiti kalian. Aku benar-benar menyesali semua perbuatanku yang tidak patut untuk di lakukan. Intinya aku sangat berterima kasih, karena kamu dan anak-anak telah memberikanku kesempatan dengan cara memaafkan semua kesalahanku."
"Ssstt, sudahlah. Itu sudah berlalu, setidaknya kamu sudah berubah tidak seperti Ernest yang dahulu. Aku seneng lihat sikapmu yang seperti ini, rasanya kaya aku di pertemukan oleh orang baru dengan wadah yang sama."
Moana tersenyum setelah selesai menyuapi Ernest, lalu memberikan segelas air putih padanya. Setelah itu Moana memegang tangan Ernest penuh kasih sayang, di mana matanya menatap lurus ke arah sang suami.
Perubahan yang Ernest tunjukkan benar-benar bisa membuat Moana pangling. Dia tidak mengerti keajaiban apa yang terjadi pada hidupnya, sehingga kini mereka kembali dipersatukan.
"Terima kasih, Sayang. Kamu memang istri yang baik, aku senang bisa melihatmu kembali seceria ini. Mungkin sekarang masalah kita sudah selesai, tetapi aku tetap tidak akan berhenti begitu saja. Aku harus selalu berjuang demi meyakinkanmu kalau aku sudah berubah lebih baik dari sebelumnya, bukan hanya sekarang, tapi untuk selamanya."
"Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, jadi aku sudah memutuskan kalau kita ingin memulai semuanya dari awal, kita harus menikah ulang. Dengan begitu kita bisa memulainya dengan lembaran yang baru. Apa kamu setuju?"
__ADS_1
"Ya, aku tahu pasti kamu bingung, 'kan. Kenapa kita harus melakukan itu, hem? Jawabannya simpel, Sayang. Kita sudah 1 tahun lebih berpisah, jadi semua orang tahu kalau istri dan anakku sudah meninggal. Untuk membuat mereka kembali percaya serta tidak akan menyudutkanmu, jadi kita harus melakukan pernikahan ulang sekalian memberikan pengertian pada semua orang tentang musibah yang kita alami sebelumnya."
"Satu lagi, dengan adanya pernikahan ulang ini kita bisa memulai kehiduoan yang baru melalui langkah itu. Apa kau masih ingat, dulu kita menikah akibat paksaan atau tuntutan yang memang harus kita jalani. Sehingga hubungan rumah tangga kita sering kali di goncang oleh badai besar sampai membuat kita berpisah cukup lama. Jadi, kalau kita mau memulai semuanya dari nol. Mulailah dari pernikahan yang di dasari oleh cinta kasih bukan karena keterpaksaan seperti dulu. Gimana pendapatmu?"
Moana terdiam sejenak untuk mencoba mengerti apa yang Ernest jelaskan padanya. Mata Moana melirik ke arah tangannya yang di elus-elus dengan tujuan agar bisa membuat Moana menjadi lebih nyaman lagi.
Ernest bisa melihat Moana sedikit gugup atas apa yang dia bicarakan, bukan berarti Moana tidak menginginkan semua itu. Melainkan, dia kepikiran sama satu kalimat yang suaminya ucapkan demi menyelamatkan nama baik istrinya.
Apa yang di katakan Ernest memang benar, mungkin dengan begitu hubunganku dan Ernest bisa di dasari oleh cinta bukan lagi keterpaksaan. Akan tetapi, apakah ketika kita menikah lagi semua orang bisa menerima penjelasan yang kami katakan? Bagaimana kalau mereka malah berpikir jelek mengenai diriku yang menipu keluarga Ernest? Akhhh, sudahlah. Apapun resikonya nanti, aku harus bisa menerima semuanya. Setidaknya Ernest memiliki niat baik yang tidak boleh aku sia-siakan, apa lagi aku masih sangat mencintainya.
Suara hati Moana yang awalnya masih bimbang, kini sudah mulai diyakinkan oleh cintanya kepada Ernest. Moana tidak akan peduli apa yang di katakan semua orang nanti, setidaknya dia berhasil menjadi seorang ibu yang menyelamatkan anak-anaknya hingga sekarang bisa tumbuh menjadi anak yang baik juga menggemaskan.
Ernest yang melihat Moana sedikit melamun bisa langsung menangkap apa yang sedang dia pikirkan. Tanpa harus membuat Moana berpikir keras, Ernest kembali menjelaskannya secara selembut. Mungkin Moana merasa takut, jika apa yang akan mereka lakukan bisa menjadi pro dan kontra bagi semua orang.
Beberapa menit mereka mengobrol, akhirnya Moana telah menyetujui apa yang akan Ernest lakukan demi hubungan mereka agar bisa kembali membaik.
"Ya, sudah. Aku ikut saja, jika itu yang terbaik buat kita juga anak-anak maka aku setuju saja. Terpenting, satu. Apapun yang terjadi nantinya kita harus tetap bersama-sama untuk menghadapi semua cobaan yang Tuhan berikan. Sebanyak apapun rintangan, sesulit apapun jalannya. Kita harus tetap berpegangan tangan agar kita bisa melewatinya bersama," ucap Moana, tersenyum
"Pasti, Sayang. Aku tidak akan melepaskan pegangan tangan kita sampai kapan pun itu, intinya kita harus sama-sama membesarkan anak-anak agar tumbuh menjadi orang hebat, pintar, beprestasi juga sukses. Aamin ...," jawab Ernest membalas senyuman Moana sambil mengusap pipi sebelah kirinya.
"Aamin ... terima kasih, Sayang. Kamu sudah membuktikan padaku juga anak-anak, kalau kamu memang benar-benar berubah menjadi suami, ayah juga kepala rumah tangga yang akan selalu mengutamakan keluarganya terlebih dahulu," sahut Moana, diangguki oleh Ernest.
__ADS_1
"Doain aku terus ya, dan tegur aku bila aku melakukan kesalah. Jangan pernah tinggalin aku apapun keadaannya, aku tidak mau kehilangan kalian untuk kesekian kalinya!"
"Pasti, Sayang. Aku akan berusaha menjadi istri juga ibu yang baik buat anak-anak dan kamu. Intinya kita harus selalu bahagia terus, Oke?"
Ernest menganggukan kepalanya, lalu memeluk Moana cukup erat. Di mana air mata kebahagiaan mereka menetes satu persatu, tidak menyangka mereka bisa kembali seperti sekarang. Tidak terbayangkan kalau mereka tidak bertemu, mungkin selamanya mereka akan menderita hanya sekedar menahan rindu satu sama lain.
Ernest melepaskan pelukannya, lalu menatap Moana sesekali menciumi wajah cantik istrinya. Mereka tersenyum sambil tertawa kecil lantaran tidak menyangka, kalau mereka bisa menyatakan perasaannya secara bersamaan tanpa aba-aba sedikit pun.
Setelah selesai tertawa, Ernest langsung meminta Moana untuk menghubungi salah satu dari orang tuanya agar bisa melakukan video call bersama anak-anaknya.
Betapa bahagianya Moana dan Ernest saat mereka bisa menyaksikan betapa senangnya kedua orang tua Ernest ketika bermain bersama kedua cucunya. Ernest tidak menyangka, ternyata dia memiliki anak kandung setampan Barra dan anak sambung yang penuh kasih sayang seperti Justin.
Biasanya anak seusia Justin banyak yang masih belum siap ketika dia memiliki adik. Akan ada rasa takut di hatinya akibat perhatian kedua orang tua yang mulai berkurang, tapi Justin. Dia anak yang sangat bertanggung jawab untuk menjaga adiknya, terlihat dari cara Justin memperlakukan Barra meski beberapa kai Barra merebut miliknya. Justin selalu sabar untuk memomongnya bersama kedua orang tua Ernest.
Pemandangan itu benar-benar sangat menyejukkan hati Moana serta Ernest. Sampai mereka tertawa atas tingkah lucu anak-anaknya, setelah kurang lebih 1 jam mereka video call Elice menutupnya akibat Barra sudah mulai menangis akibat ngantuk. Jadi, Elice harus menidurkan cucu-cucunya. Apa lagi jam telah menunjukkan pukul 10 malam. Artinya sudah waktunya mereka semua harus beristirahat, begitu juga Ernest. Dia beristirahat di ranjangnya, sementara Moana di kursi panjang dalam posisi menghadap ke arah bangkar.
.......
.......
.......
__ADS_1
...💜💜>Bersambung<💜💜...