
Sentuhan tangan Ernest membuat Moana bingung juga sedikit risih. Soalnya, Moana sangat tahu. Disekitar mereka, pasti ada bodyguard yang tugaskan khusus menjaga Moana.
Sementara 2 lainnya tetap berada di sisi Barra juga Justin, jadi Moana tidak terlalu khawatir meninggalkan mereka bersama kedua mertua yang juga berada dilindungan para bodyguard.
Satu kalimat yang Ernest ucapkan pada Moana, berhasil membuatnya sangat terkejut, "Mau nen, boyeh?"
Ernest berbicara menggunakan suara yang sangat lembut, tidak lupa diselipkan sedikit rengekkan manja agar membuat Moana merasa gemas kepadanya.
Namun, diluar dugaan Ernest. Moana malah menggelengkan kepalanya berulang kali untuk mempertegas, kalau dia tidak akan mengizinkan itu terjadi di tempat umum.
"Tidak! Ini di luar ya, bukan di dalam kamar. Jadi, enggak usah aneh-aneh. Bisa, 'kan? Bagimana kalau ada yang melihatnya, apa kamu gak malu? Belum lagi di sekitar sini pasti ada anak buah kakakku, kalau dikeram terus dikirim ke kakaku, gimana?" tanya Moana.
"Emang kenapa? Kita 'kan udah halal ini, jadi suka-suka aku dong. Kalaupun dia merekam terus kirim ke kakakmu, ya biarkan saja. Malah bagus, kakakmu bisa tahu kalau kita ini memang saling mencintai. Jadi, dia tidak akan bisa memisahkan kita," jawab Ernest spontan, tanpa berpikir panjang bahwa aksinya bisa bikin malu Moana di depan Thoms.
"Ehh, kalau ngomong! Ini asetku ya, kalau sampai orang merekamnya habislah kita! Di sangka kita sudah memperlihatkan adegan tidak senonoh buat orang lain, paham!"
"Terus, kalau kakakku melihat semua itu pasti dia akan berubah. Apa lagi kau tahu bagaimana jantan, bukan? Pasti si kecil akan bereaksi, saat melihat adegan tersebut!"
Moana berbicara sedikit melototkan matanya, ketika melihat reaksi Ernest yang begitu meresahkan. Sikap manja sang suami, benar-benar menguji kesabaran Moana.
"Aaa ... Aku mau, nen! Aku haus, Sayang. Masa kamu tega, nanti kalau aku ma*ti gimana?" rengek Ernest membuat Moana jengkel dan langsung meraup bibir suaminya.
"Iya, bilang aja terus kaya gitu! Kalau emang haus ya, kita beli minumlah, bukan malah nen di sini, aneh! Kalau perlu itu ada air laut banyak, mau aku ambilkan?" jawab Moana.
"Ckk, emangnya kamu kira aku ini apaan. Mendingan nen, udah kenyang, bernutrisi, sehat lagi. Dari pada itu, asin, kembung bikin sakit darah tinggi!" sahut Ernest, mengembungkan pipinya yang malah membuat Moana terkekeh geli.
Moana tidak menyangka, kelucuan Ernest melebihi lucunya Barra yang masih balita. Sehingga, Moana sangat gemas dan mencoba untuk menggoda sang suami yang lagi merajuk.
"Hihi, cupcupcup, huhh ... Sayang, sayang, sayang. Cini-cini peyuk aku duyu!" Moana memeluk Ernest dengan sedikit merubah cara bicaranya seperti anak kecil.
__ADS_1
"Hem, suamiku yang tampan. Sabar ya, Sayang. Nanti kalau udah di rumah baru boleh nen, oke? Ini tempat umum loh, mending sekarang kita balik ke sana, yuk! Kasihan bunda sama ayah, mereka pasti kesulitan menjaga anak-anak. Apa lagi Barra, dia sudah mulai aktif bergerak. Aku takut ayah sama bunda kelelahan bermain sama mereka, semalam juga pasti mereka kurang tidur karena kita. Jadi, kita balik dulu, ya!"
"Ishhh ... tapi, aku pengen nen, Sayang. Pokoknya nanti kalau udah sampai rumah harus nen, ya? Janji?"
Ernest menatap tajam ke arah Moana, sedangkan Moana mengangguki kepalanya ketika sudah melepaskan pelukan dari suami tercinta. Ernest terus memasang wajah cemberut yang semakin membuat Moana terkekeh langsung mencubit kedua pipi Ernest sambil menggoyangkannya penuh rasa gemas.
"Akhhh, suamiku ini lucu banget sih kalau ketawa. Jadi, gemes deh, pengen---"
"Pengen nge*we!"
Moana benar-benar syok saat mendengar perkataan Ernest. Kedua mata Moana melotot bersamaan dengan tangan yang sudah dia lepaskan secara perlahan.
"Kenapa kok, kaget? Benar 'kan apa yang aku omongin. Aku ini menggemaskan, jadi membuatmu gemas untuk mengen*totku hihihi ...."
Ernest tertawa geli ketima baru menyadari kekonyolan kata-kata yang spontan keluar dari mulutnya, tanpa di saring terlebih dahulu.
Moana malah refleks menampar pipi serta mencubit perut Ernest kencang akibat rasa kesalnya, meskipun tamparan itu tidak kencang. Akan tetapi, cubitan kecil di perut berhasil membuat Ernest memekik keras.
Ernest mengelus perutnya sendiri saat Moana sudah berdiri tepat dihadapan sang suami dalam keadaan wajah kesal. Moana merapikan pakaiannya, lalu pergi meninggalkan Ernest. Di mana Ernest langsung menjalankan kursi roda tersebut untuk mengejar Moana yang berjalan sedikit lebih cepat.
"Sayang, tunggu! Aku minta maaf, aku tidak bermaksud mengatakan semua itu. Aku cuman spontan, akhhh ... maafkan aku!" teriak Ernest, membuat Moana hanya sekilas menengok kebelakang dan kembali meneruskan langkah cepatnya.
"Sayang, tu--akhhhh ...."
Teriakan kali ini membuat Moana langsung menghentikan langkahnya, kemudian berbalik melihar sang suami sudah tergeletak di pasir putih dalam keadaan kursi roda yang terbalik.
"Ernest!" Moana berlari kencang, lalu membenarkan posisi kursi rodanya sambil mengunci kedua ban agar tidak bisa bergerak.
Setelah itu, Moana mengangkat tubuh Ernest dibantu oleh bodyguard yang telah sigap menolong mereka. Setelah Ernest duduk di kursinya, Moana segera membersihkan wajah serta tubuh yang telah dipenuhi oleh pasir putih.
__ADS_1
"Astaga, kamu ini kenapa sih, makannya hati-hati. Udah tahu ini pasir, pasti akan membuat ban kesulitan berjalan. jadi, harusnya kamu itu pelan-pelan, bukan malah kebut-kebutan seperti itu, hasilnya jatuh 'kan!" ucap Moana tegas, saat memarahi suaminya.
"Ma-maaf, lagian aku kebut-kebutan juga karena harua ngejar kamu yang lari. Kalau saja kakiku normal juga aku tidak akan jatuh, dan langsung menangkap untuk meminta maaf. Aku tidak sengaja mengatakan kata-kata kasar atau jorok itu, habisnya aku hanya pengan nen. Cuman, kamunya enggak mau tidak ngasih," jawab Ernest menundukkan kepalanya sambil memainkan jari.
"Siapa suruh, ngomong kaya gitu. Lagi pula aku bilang nanti aja di rumah, karena ini tempat umum. Buktinya bodyguard itu langsung sigap menolongmu, terus kalau dia melihat asetku, apa kamu tidak akan marah? Jika ada pria lain yang melihat tubuhku yang mulus ini, kalau gitu aku pakai baju terbuka aja sekalian kaya bule-bule pasti akan tambah cantik. Hitung-hitung bagi rezeki, 'kan?"
Sindiran yang Moana berikan pada Ernest, langsung membuat kepala Ernest terangkat sambil menunjukkan kedu mata yang sedang menatap tajam ke arahnya.
"Kalau sampai ada pria lain yang melihat aset milikku, maka aku akan langsung mencolot matanya hingga dia buta!" ucap Ernest penuh penekanan disetiap kata-katanya.
"Bagaimana jika yang melihatnya bodyguard itu, terus dia merekam dan mengirimnya ke Kak Thom. Apa kamu berani mencolok mata kakakku sendiri?" tanya Moana, meyakinkan Ernest kembali.
"Y-ya, mana aku berani. Kakakmu itu menyeramkan, taoi aku tidak takut. Pokoknya hanya aku yang bisa melihat asetku itu. Paham!" sahut Ernest.
"Makannya, jangan macem-macem. Kalau pengen itu liat situasi, ini tempat umum bukan pantai milikmu sendiri!"
"Ya, ya, ya. Aku minta maaf, Sayang. Aku janji enggak lagi-lagi minta di tempat seperti ini, kalau di rumah aku hatus minta setiap hari kalau perlu. Oke? Heheh ...."
Moana menggelengkan kepala secara perlahan, kalau Ernest bersikap semenyebalkan ini rasanya Moana ingin sekali mendorong Ernest ke tengah laut. Hanya saja, Moana juga tidak bisa berbohong kalau dia lebih suka Ernest yang manja dari pada cuek.
Selepas itu, mereka meneruskan perjalanannya untuk kembali ke tempat semula. Di mana, saat Justin melihat Moana dan Ernest sudah selesai jalan-jalan, dia langsung berlari memanggil mereka dan
berhambur memeluk secara bergantian.
.......
.......
.......
__ADS_1
...💜💜>Bersambung<💜💜...