Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Tampar!


__ADS_3

Suka tidak suka Thoms harus meninggalkan ruangan untuk sementara sampai sang dokter selesai melakukan pemeriksaan.


Sungguh, ini semua kejadian yang sangat langkat. Di mana keadaan Nay yang awalnya baik-baik saja, tiba-tiba ambruk terjatuh hingga harus mengalami mati suri dalam waktu beberapa menit.


Thoms masih terlihat syok dan sedikit bingung atas kejadian yang menimpa Nay, ditambah gadis itu mengatakan sesuatu yang berkaitan dengan dirinya. Jelas-jelas Nay itu habis mengalami kema*tian yang membuat Thoms sangat cemas hingga menangis.


Akan tetapi, dengan Nay mengatakan seperti itu Thoms malah dibuat pusing. Dia harus berpikir keras tentang perkataan Nay yang berbicara kalau Thoms akan mengajak gadis gemoy itu untuk pergi jalan-jalan, sampai akhirnya Nay kembali bangkit dari kema*tiannya sendiri.


Thoms terdiam dalam keadaan berdiri tepat di depan ruangan UGD, kemudian matanya melirik ke arah beberapa bodyguard yang langsung menunduk tanpa berani menatap King Mafia tersebut.


"Kau, sini!" titah Thoms menunjuk ke arah salah satu dari anak buahnya. Tanpa berkata apa-apa, bodyguard itu segera berjalan mendekat ke arah Thoms dan menundukan kepala.


"Tampar pipi saya, sekarang!" pinta Thoms membuat semua bodyguard langsung terkejut. Mereka refleks secara bersamaan menatap wajah King Mafia kejam itu dengan penuh keseriusan.


Baru kali ini seorang King Mafia meminta salah satu anak buahnya untuk menyakiti dirinya sendiri. Sementara biasanya, mereka sedikit saja melakukan kesalahan maka nyawalah yang akan menjadi taruhannya.


Namun, hanya karena hadirnya gadis yang baru dikenal seketika semua sifat Thoms berubah drastis. Thoms malah terlihat seperti orang biasa yang sedikit lugu dengan semua kepolosan wajahnya.


"Ta-tapi, Tuan. Sa-saya ...."


"Saya bilang tampar ya, tampar! Kau paham tidak, hahh?" Thoms menatap lekat manik mata pria tersebut, membuat tangannya langsung bergetar.


Perlahan bodyguard menatap tangannya yang bergetar. Wajah pria itu benar-benar takut karena hanya dialah satu-satunya anak buah yang diminta oleh Thoms sendiri untuk menampar pipinya.


"Ma-maaflan sa-saya, Tu----"

__ADS_1


"Tampar!" pekik Thoms, membuat bodyguard tersebut spontans melayangkan tangan dengan cepat akibat terkejut.


Suara tamparan yang cukup keras membuat beberapa bodyguard enggan untuk melihatnya. Mereka takut apabila melihat semua itu akan membuat Thoms seperti dipermalukan, padahal dia sendiri yang memintanya.


Efek tamparan itu memang sakit, tetapi tidak sampai menumbangkan tubuhnya. Thoms masih tetap berdiri dalam keadaan wajah sedikit menoleh ke arah kanan sambil memejamkan kedua mata selama beberapa detik. Kemudian, kembali membuka matanya sesekali mengelap sudut bibir yang terluka.


"Ma-maafkan saya, Tuan. Saya tidak bermaksud menampar Tuan dengan kerasa. Saya hanya----"


"Tak masalah, kau tidak salah. Terima kasih!" ucap Thoms, datar.


"Sekali lagi maafkan saya, Tuan. Jika Tuan ingin menghukum saya ... Saya siap melaksanakannya."


"Tidak perlu. Pergilah, cari tahu tentang keadaan Sukhi!"


"Ba-baik, Tuan. Permisi!"


Mata Thoms melirik ke arah para bodyguard yang tersisa, di mana para bodyguard itu langsung menatap ke arah lain demi menghindari tatapan Kingnya.


Thoms kembali duduk dengan membungkukkan punggungnya sesekali mengusap luka di sudut bibir sebelah kiri sesekali mering*is kecil.


Ternyata sakit juga tamparan tuh, bocah. Dasar bodyguard tak beperasaan! Aku kira dia akan menampar dengan pelan akibat sungkan terhadap atasannya, tapi aku salah. Yakin sih, pasti dia punya dendam kesumbat denganku karena aku sering menyiksanya.


Dahlah, bodo amat! Gak penting juga mikirin itu, setidaknya aku udah tahu kalau tamparan itu memang sakit! Itu artinya, apa yang terjadi sama Nay benar-benar nyata, bukan sekedar mimpi seperti apa yang aku bayangkan.


Jika memang benar itu nyata, lantas kenapa gadis itu mengatakan kalau aku akan mengajaknya jalan, sehingga dia kembali? Memang sejak kapan aku suka jalan-jalan? Hahh ... Ada-ada saja!

__ADS_1


Apa jangan-jangan dia kembali hanya untukku? Hyaak, apaan sih, Thoms! Udahlah, gak usah mikir terlalu jauh. Kau bukan siapa-siapa dia, jadi jangan berharap lebih padanya. Lagian juga ini mulut kenapa sih, main ceplas-ceplosnya mengatakan kata-kata kalau aku ....


Huaa ... Tidak, tidak, tidak! Aku tidak mungkin mencintai gadis itu, sampain kapan pun aku tidak akan mau memiliki kekasih jika urusanku belum tuntas!


Bisa saja yang tadi berbicara itu bukan diriku, tapi se*tan yang lewat hingga merasuki tubuhku. Lagi pula ngapain aku nangis kaya tadi, hahh ... Mau taruh di mana mukamu ini Thoms, Thoms. Dasar pekok!


Batin Thoms terus berbicara hingga menimbulkan perdebatan antara hati dan pikiran. Ketika Thoms kembali mengingat kejadian beberapa saat lalu, wajahnya langsung berubah menjadi memerah.


Thoms benar-benar merasa malu atas perkataannya yang pasti sudah di dengar oleh semua orang. Tanpa membuat mereka menjadi salah paham, Thoms segera mengatakan sesuatu penuh ketegasan terhadap semua bodyguard yang ada di dekatnya.


Thoms memberikan penjelasan tersebut sambil menahan rasa malu yang kini sudah mengacak-ngacak hatinya. Baru kali ini Thoms terjebak dengan cinta wanita yang sama sekali tidak pernah dia sentuh.


Bodyguard hanya bisa menganggukan kepala dan melupakan kejadian tersebut sesuai permintaan Thoms. Setelah itu, Thoms kembali berdiri menatap ke arah pintu yang masih belum terbuka.


Thoms takut jika Nay berada sendiri di dalam ruangan hal buruk akan kembali terjadi, berbeda kalau Thoms berada didekatnya maka ma*ut pun enggan untuk mendekati Nay.


Kaki Thoms mulai tidak bisa diam. Dia berjalan mondar-mandir tanpa memperdulikan luka di sudut bibir yang sudah sedikit mengering. Selang 2 menit, pintu ruangan kembali terbuka membuat pria itu segera mendekati sang dokter dengan menutupi rasa cemas di dalam hati, tetapi wajah Thoms tidak bisa dibohongi kalau dia sangat mempedulikan gadis kecilnya itu.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...

__ADS_1



__ADS_2