
Perebutan wilayah tersebut berhasil di manfaatkan oleh salah satu musuh terbesar dari keluarga Thoms. Hanya ada 2 Mafia yang bertahan saat beberapa Mafia lainnya gugur di dalam medan peperangan. Salah satunya keluarga Thoms, Papihnya berhasil mengalahkan jauh lebih banyak mafia sampai dia mendapatkan wilayah jauh lebih banyak dari mafia satunya.
Di situ muncullah rasa iri, dengki dan juga kikir yang membuat Mafia ke-2 kurang puas atas apa yang sudah dia dapatkan. Rasanya dia selalu ingin lebih, lebih dan juga lebih.
Mafia ke-2 merasa dilema, apakah dia akan berhasil menggugurkan Mafia dari keluarga Thoms atau tidak. Sehingga, susunan cara mulai di lakukan sampai kelahiran adik Thoms terdengar ke dalam gendang telinganya.
Mafia ke-2 tertawa lepas sebab tahu kelemahan musuhnya ada pada keluarganya. Jadi, kekuatannya akan berkurang karena dia akan lebih mengutamakan keluarganya dari pada semua harta yang dia pertahankan.
Di suatu hari, ketika keluarga Thoms sedang tertidur pulas dengan penjagaan yang sangat ketat di jam 1 malam. Tiba-tiba saja beberapa penyusup masuk ke dalam perkarangan rumah menyemprotkan gas beracun yang bisa membunuh musuhnya dalam beberapa menit setelah menghirup gas tersebut.
Benar saja, penjaga yang di kerahkan Papihnya Thoms untuk menjaga rumah, banyak sekali yang tumbang tanpa melakukan perlawanan. Gas tersebut telah habis dan menyisakan beberapa penjaga yang ada di dalam rumah.
Suara dentingan pedang panjang, serta beberapa tembakan terdengar kencang membuat keluarga Thoms terbangun kaget.
"Sa-sayang, i-itu su-suara apa?" tanya Mamihnya Thoms, tubuhnya bergerat sambil memeluk Tasya atau yang sekarang telah berganti nama menjadi Moana.
"Tenanglah, percayakan padaku. Kita akan selamat! Apa pun resikonya, jika dalam waktu 10 menit aku tidak kembali ke kamar ini. Maka, kaburlah bersama anak-anak. Jangan pedulikan aku, terpenting keselamatan dirimu dan anak-anak jauh lebih dari segalanya. Mengerti!" tegas Papihnya Thoms, wajahnya berusaha untuk tetap tenang menghadapi situasi yang sudah menjadi makanan sehari-harinya.
__ADS_1
Namun, bagi keluarganya kejadian ini adalah kejadian pertama kalinya yang terjadi di dalam rumah. Mungkin mereka pernah beberapa kali merasakan tegang saat kejadian di luar rumah, akan tetapi mereka masih selamat karena banyaknya peluang untuk melarikan diri.
Hanya saja kali ini, keberhasilan hanya di bawah 20 persen yang ada di dalam pikiran keluarga Thoms ketika mendengar suara tembakan sudah berada di mana-mana dan semakin mendekat.
"Ta-tapi, Thoms? Thoms ada di kamarnya, a-aku harus membawa Thoms bersamaku!" ucap istrinya dalam kepanikan ketika anak pertamanya masih berada di kamarnya.
Mamih Thoms berusaha berdiri sambil menggendong Tasya mendekati pintu, akan tetapi di tarik oleh suaminya dan menguncinya. Sehabis itu suaminya berusaha untuk terus menasihati istrinya agar berdiam diri di sini, biarkan dia yang akan menyelamatkan anaknya supaya kembali ke dalam pelukannya.
"Tenanglah, aku yakin anak kita Thoms akan selamat. Aku sudah menanamkan mental yang cukup kuat buat dia bertahan hidup. Seandaikan dia selamat, dia pasti akan mencari keluarganya. Jika kita yang selamat, kita yang harus mencarinya. Paham apa yang aku bicarakan ini?"
Istrinya mengangguk perlahan ketika apa yang di katakan suaminya sangat masuk akan. Sebab, sedari kecil Thoms telah di ajarkan kekuatan fisik, cara perperang dan juga mental. Jadi, di saat kejadian genting seperti ini Thoms akan paham dengan sendirinya apa yang harus dia lakukan.
"Jhorgie, keluar kau! Jika kau tidak keluar, maka aku akan menghabiskan keluargamu. Cepat!" teriak seseorang yang sangat di kenali oleh Papihnya Thoms.
Tanpa berbasa-basi, Papih Thoms keluar dari kamar. Lalu menyuruh istrinya untuk mengunci pintunya agar mereka berdua aman di dalam, meski ada rasa cemas yang sangat mendalam di hati istrinya akan keselamatan anak pertama dan juga suaminya. Dia hanya bisa menangis, walau badan sudah bergetar hebat tetap tidak ingin melepaskan putrinya dari pelukannya.
Thoms yang terbangun akibat mendengar suara yang tidak asing di telinganya, refleks langsung bangun lari berlari untuk mengunci pintu kamarnya dan mendorong meja yang ada di kamarnya agar bisa menahan pintu tersebut.
__ADS_1
Thoms kembali mengingat satu kata yang pernah Papihnya sampaikan, "Boy, dengarkan Papih baik-baik. Jika suatu saat nanti, ada kejadian yang sangat membahayakan di keluarga kita. Usahakan, selamatkan dirimu terlebih dahulu. Jika kau sudah aman, barulah selamatkan keluargamu dengan cara mengendap-endap. Apa bila keluargamu tewas, ingatlah! Masih ada dirimu, kau rebut kembali semua milik kita yang sudah mereka rebut. Karena sebagian harta yang Papih punya, adalah milik orang. Sampai sini paham!"
Kata-kata tersebut berputar keras di dalam ingatan Thoms, meski tubuhnya bergetar hebat. Dia terus memangigil kedua orang tuanya dan adik kesayangannya sambil bersembunyi di bawah kasur.
Ponsel Thoms berbunyi, membuat Thoms segera mengambilnya dan kembali bersembunyi. Air mata terus mengalir deras dalam kondisi trauma yang cukup berat.
[Ma-mamih? I-ini benarkan Mamih?] ucap Thoms sesegukan, suaranya terdengar seperti orang sedang berbisik.
[Sayang, kamu baik-baik aja, Nak? Syukurlah. Kamu diam di situ ya, nanti Mamih dan adikmu akan segra ke kamarmu. Mamih akan mengirim pesan padamu jika Mamih memiliki kesempatan untuk kabur. Ingat! Jangan buka pintu kalaunitu bukan Mamih ataupun Papih, paham!]
Suara Mamihnya terdengar sangat khawatir, sedih dan juga panik. Thoms hanya bisa menuruti apa yang di katakan Mamihnya ketika di telpon. Sambungan itu terus berlanjut tanpa di matikan, hanya cara seperti itu mereka bisa tahu kalau posisi mereka aman.
.......
.......
.......
__ADS_1
...💜💜>Bersambung<💜💜...