Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Hubungan Anak & Ayah Membaik


__ADS_3

Di taman Justin duduk sambil mengayunkan kedua kaki dengan wajah yang sangat kesal. Entah apa yang membuatnya kesal, dia sendiri pun tidak tahu.


"Aaakhh ... Kenapa aku gak senang sih, dengar kabar baik mereka. Apa artinya aku itu gak suka kalo Ayah sembuh? Isshh, bukan itu masalahnya, tapi---"


"Tapi, apa, hem?"


Justin terkejut mendengar suara seseorang yang tiba-tiba saja sudah ada di sampingnya. Dia menoleh dengan tatapan tidak percaya bahwa sang ayah sudah berada si dekatnya sambil tersenyum.


Seandainya semua masalah ini tidak terjadi, kemungkinan besar Justin akan memeluk Felix sangat erat karena rasa rindunya yang sudah lama terpendam. Namun, semua dia tahan lantaran wajah sang anak mengingatkan dengan kisah yang pernah membuat mereka semua merasakan sakit hati.


Ternyata masa-masa terpuruk itu masih melekat jelas di dalam ingatan anak kecil seperti Justin. Walaupun, beberapa kali Moana dan Ernest menasihati tetap saja sang anak ragu untuk mengungkapkan rasa sayang pada ayahnya sendiri.


Untuk yang pertama kali, Felix dapat menatap sang anak begitu dekat bahkan sangat jelas. Tidak lagi melalui kamera, video, atau apa pun yang berhubungan dengan jarak jauh.


"Kok, diam? Ayo, jawab dong, kalo bukan gak seneng Ayah sembuh, terus kenapa Justin lari ke sini? Kenapa Justin harus marah? Apa Justin belum bisa menerima Ayah? Jika memang begitu, Ayah tidak masalah kok, semua itu butuh proses, Sayang."


Felix mengelus kepala sang anak dengan perlahan. Tataapan matanya benar-benar begitu tulus penuh cinta kasih yang termat besar untuk Justin, tetapi anak tersebut malah menangkis pelan tangan samg ayah dan menatap ke arah depan.

__ADS_1


"Pergilah, aku tidak mau berbicara padamu!" ucap Justin, berpura-pura mengusirnya supaya Felix kesal dan pergi menjauh darinya.


"Ayah tahu kok, Ayah ini bukan Ayah terbaik buat Justin. Ayah tidak sebaik Daddy Ernest yang bisa mencintai dan dicintai oleh anak-anaknya sebaik itu. Ayah hanya laki-laki pecun*dang, peng*ecut, sampah, baji*ngan, apa pun itu yang pantas untuk Ayah. Tapi, apa salah kalo Ayah juga ingin merasakan sekali saja kamu panggil aku ini dengan sebutan Ayah, apa sulit? Ya, memang Ayah paham, kamu belum bisa memaafkan kesalahan Ayah yang sangat fatal itu. Cuma, apakah tidak ada seujung kuku pun rasa sayangmu untuk Ayah? Apakah semua yang kita lewati dulu sampai membuat Daddy Ernest merasa cemburu karena kamu terlalu menyayangiku, sudah hilang? Secepat itukah, Sayang? Itu artinya Ayah sudah tidak ada harapan untuk mendapatkan kasih sayang darimu seperti Daddy Ernest dan Papa Thoms?"


Justin terdiam menatap lekat manik mata Felix yang kini sudah meneteskan air mata. Meskipun tidak terdengar isak tangis, tetap saja semua yang dikatakan oleh sang ayah sangat menyakiti hati anaknya.


"Padahal Daddy Ernest kesayangamu itu dulu jauh lebih parah menyakiti hati Mommymu ketika sedang mengandungmu. Apa pun yang Mommymu inginkan, Ayah selalu ada. Sementara Daddymu begitu cuek padanya dan hanya bisa membuat Mommymu menangis. Ma-maaf, bila kamu merasa Ayah telah membandingkan diri Ayah yang kotor ini dengan Daddy kesayanganmu. Cuma, gapapa. Kalo memang kamu tidak suka Ayah sehat, doakan saja supaya Ayah segera tiada dari dunia ini agar Justin bisa hidup tenang sama semuanya. Sebab, semua yang terjadi di dalam hidup kalian itu adalah salah Ayah. Ayahlah satu-satunya orang yang paling bod*doh karena telah menyia-nyiakan anaknya sendiri."


Felix menangis karena akan meratapi penyesalan seumur hidupnya apabila sang anak tidak ingin menganggapnya sebagai ayah. Namun, dia salah semua yang terjadi memang atas ulah Felix sendiri. Jadi, inilah resiko yang harus diterima.


Felix berusaha mengontrol diri supaya tidak kelepasan dan membuatnya kembali ke rumah sakit. Semua saran dokter dia terapkan dengan baik, sampai akhirnya Felix mampu tersenyum meskipun, dalam keadaan menangis.


Kata-kata Felix sungguh menggetarkan seisi hati Justin. Air mata yang berusaha dia tahan langsung runtuh membuat sang ayah menggelengkan kepala sambil tersenyum dan menghapus air mata anaknya.


"Anak hebat gak boleh nangis, ini bukan kesalahan Justin. Ayah pergi hanya karena Ayah tidak ingin Justin terus-terusan dihantui oleh rasa takut ketika bertemu dengan penjahat seperti Ayah. Jadi, Justin harus janji sama Ayah, Justin harus kuat dan melindungi semua keluarga Justin sebaik mungkin supaya kalian bisa bahagia selalu. Oke?"


Tidak tahu harus menjawab apa, Justin cuma memangis dalam keadaan diam. Felix sendiri tidak paham, apakah tangisan ini karena Justin tidak ingin ditinggal olehnya atau karena dia merasa bersalah tidak bisa memaafkan kesalahannya.

__ADS_1


Tidak kuat menahan rasa sakit di dalam dada, Felix tersenyum berdiri menatap anaknya dan saat dia ingin pergi menjauh untuk meluapkan emosi kesedihannya, tiba-tiba saja malaikat kecil itu menangis sambil memeluk sang Ayah dari belakang.


"Ayah, jangan tinggalin Justin. Justin mohon, Ayah. Justin udah maafin Ayah sama kaya Justin maafin semuanya. Pokoknya Justin tidak mau kehilangan Ayah, tidak mau!"


Justin berteriak kencang seakan-akan meminta Tuhan untuk membantu dia menahan Felix supaya tidak pergi meninggalkan mereka semua. Namun, sang ayah yang terkejut atas ucapan sang anak hanya mampu berdiri dalam keadaan tidak berkutik. Tubuh Felix terasa sangat kaku akibat rasa syok yang masih mengacak-acak hatinya.


"Sebenarnya Justin lari ke sini bukan Justin tidak ingin Ayah sehat, tapi Justin lari karena Justin takut Ayah gak sayang lagi sama Justin setelah adik yanga da di perut Bunda Dinda lahir. Justin gak mau, Justin pengen di sayang sama Ayah. Justin gak mau lagi jauh dari Ayah, Justin mohon, Ayah. Justin mohon jangan pergi hiks ...."


Tidak tahu harus menjawab apa, tiba-tiba Felix tersenyum dibalik air mata yang menetes deras tanpa henti. Beberapa detik dia langsung berbalik dan berjongkok menyamakan tinggi sang anak. Di situ Justin langsung memeluk erat sang ayah hingga keduanya menangis bersama dengan melepaskan semua rindu terpendam.


Tidak lupa kata-kata maaf terlontar dari mulut mereka berdua membuat hubungan anak dan ayah kini telah kembali membaik. Semua amarah, emosi, kesedihan, bahkan dendam ataupun ketidak terimaan atas takdir yang menyakitkan di masa lalu seketika hilang begitu saja.


Setelah beberapa menit, tangis mereka hilang dan tergantikan oleh senyuman lebar. Felix menggendong Justin, lalu mereka kembali ke dalam rumah untuk memberikan kabar baik ini kepada mereka semua.


.......


.......

__ADS_1


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2