
Felix tersenyum menatap mereka berdua yang masih membela diri satu sama lain. Tidak ada satu pun yang ingin mengalah, sekedar mengakui kalau salah satu dari mereka memanglah yang bersalah.
"Sudahlah, kalian tidak perlu meributkan siapa yang salah atau siapa yang benar. Semua yang kalian lakukan memang tidak bisa di benarkan, apa pun alasannya kalian tetaplah bersalah. Baik, kalian terpaksa atau menikmati itu tetaplah salah. Apa lagi kalian menanamkan perasaan yang tidak seharusnya kalian tanam, ya itu juga sudah salah!"
"Apa bila kamu, sebagai kekasihku mendapatkan tawaran itu seharusnya kamu menolak jika kamu menghargaiku. Lagian pula, bukannya kamu kenal aku sudah lama, hem? Terus kenapa kamu tidak mengerti, kalau aku ini bukan orang sembarangan. Aku bisa mencarikanmu produser jauh lebih terkenal dari sahabatku ini. Hanya saja, aku memperkenalkanmu padanya agar aku bisa lebih tenang untuk menitipkanmu agar bisa meraih impianmu. Paling tidak, sekedar mencari nama dulu saja. Jika sudah, maka aku akan memperkenalkanmu dengan produser yang jauh lebih di atas sahabatku ini. Pada akhirnya, kamu telah lebih dulu mengecewakan kepercayaanku ini!"
"Dan, untuk lu sahabat gua yang sangat gua apreasikan. Kita sudah berteman sangat lama, lu tahu gua begitu pun gua yang tahu semua kisah lu. Gua hanya bingung, jika lu berniat baik untuk membongkar semua kedok buruk kekasih gua ini. Kenapa tidak lu gunanya cara yang lebih baik, contohnya di rekam, atau lu jebak dia agar gua bisa mengetahui semuanya. Kenapa harus pakai cara yang sama seperti mereka? Jika lu memilih jalan itu, artinya lu juga memang ingin menggunakannya untuk kesenangan lu sendiri, bukan untuk membuktikan kebenaran! Jadi, sekarang kalau lu menjelaskan alasannya tidak perlu lu atas namakan kebaikan, paham!"
"Yang jadi pertanyaan dari kalian berdua, mana yang pantas aku percaya? Kau sebagai kekasihku yang kelak akan menjadi Ibu dari anak-anakku, atau kau sahabat yang sudah gua anggap sebagai saudara? Kenapa pada diam? Sudah tahu kesalahannya masing-masing, hem? Baiklah, aku akan menjelaskan bahwa tidak ada satu pun yang bisa aku percaya!"
"Semua ini udah benar-benar terbukti, kalau kalian memanglah bersalah. Namun, aku bersyukur karena aku sudah di bukakan mata dan juga hatiku untuk mengetahui semua kejahatan kalian. Saat ini aku hanya bisa bilang terimakasih untukmu sahabatku. Berkat dirimu aku tahu jika dia bukanlah pasangan hidup yang harus aku perjuangkan kembali. Dan, berkatmu kekasihku. Aku bisa tahu, ketika kucing di berikan ikan asin maka dia tidak akan pernah menolak meskipun ikan asin itu bekas makanan siapa!"
Perkataan Felix yang terdengar pelan, tenang dan juga tidak di penuhi emosi benar-benar sangat menampar mereka berdua. Entah mengapa semua itu terasa begitu menyakitkan di hati Enza dan juga sahabat Felix.
__ADS_1
Jika boleh memilih, mereka lebih baik di bentak bahkan di pukul sampai babak belur pun tidak apa-apa, dari pada mereka melihat reaksi Felix yang seperti ini.
"Fe-fel, lu-lu enggak marah sama gua? Lu-lu enggak mau mukul gua atau bu-bu*nuh gua, gitu?" tanya sahabatnya, matanya mulai berkaca-kaca.
Felix tersenyum menahan rasa pedih di mata dan juga sakit di hatinya. Kemudian dia berjalan beberapa langkah, lalu menepuk pundak sambil menatap wajah sahabatnya.
"Gua tahu, lu salah. Semua orang pasti punya kesalahan, tapi gua sadar gua bukan Tuhan yang bisa menghukum kalian. Lebih baik gua coba untuk menerima keadaan ini, karena mungkin ini yang terbaik buat gua. Jika di bilang gua marah, ya gua marah banget sama kalian, bahkan gua kecewa. Cuman, gua tidak mau perpanjang urusan ini. Bagi gua, semuanya sudah cukup. Untuk itu, terimakasih lu sudah mau berteman sama gua dari kita SMP sampai detik ini. Tapi, maaf. Mulai saat ini kita bukan lagi teman, aku tidak bisa berteman dengan pengkhianat. Jadi, terimakasih lu udah membuktikan kalau gua tidak boleh menaruh kepercayaan yang besar terhadap manusia!"
Sementara Enza, dia tersenyum di sela tangisnya, dia begitu percaya diri. Dialah yang sudah menjadi pemenang, karena Felix lebih memilih memutuskan persahabatannya dari pada percintaannya.
Mendengar perkataan itu Enza langsung memeluk erat Felix, di saat Felix mulai berjalan menjauhi sahabatnya. Wajah tertekan itu hanya bisa tersenyum, lalu perlahan melepaskan pelukan Enza.
"Sayang, terimakasih kamu sudah mau percaya sama aku. Dia memang pantas mendapatkan itu semua, lagi pula kamu tidak layak untuk berteman dengannya. Sekarang kamu punya aku, dan kita bisa jalani semuanya bersama. Aku tidak akan lagi berniat ingin menjadi model, aku akan menjadi Ibu rumah tangga saja, supaya aku bisa selalu melayanimu dan tidak akan mengecewakanmu lagi. Aku janji, Sayang. Aku janji!"
__ADS_1
Senyuman lebar terlihat begitu manis di wajah Enza, Felix mulai menatap wajah yang selama ini dia rindukan setiap malamnya. Wajah yang cantik, bersih, putih dan juga lucu adalah wajah yang selama ini menemani Felix beberapa tahun ini.
Tangannya mulai mengelus pipinya sambil tersenyum, sedangkan sahabat Felix merasa begitu kecewa dan sangat dendam terhadap Enza. Baginya dia tidak terima, jika Felix memutuskan hubungan persahabatannya demi mempertahankan cintanya yang jelas-jelas salah.
Namun, apa daya. Sahabat Felix tidak bisa berbuat banyak, dia menghargai keputusan sahabatnya itu. Semua karena dia telah menyadari akan kesalahannya yang sudah mengkhianati persahabatannya.
.......
.......
.......
...***💜💜>Bersambung
__ADS_1