Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Memilih Untuk Mengakhiri


__ADS_3

Sakha yang tidak terima dengan perkataan anaknya, segera pergi dari kamar Justin dalam keadaan wajah datar dan juga kesal.


Di mana Ernest baru saja ingin pergi ke kamar mandi, langsung langkahnya di hentikan oleh Sakha yang membuka pintu penuh emosi.


"Ernest!" bentak Sakha, wajahnya sudah terlihat merah penuh amarah.


"Ckk, apaan sih, Yah! Bisa 'kan, buka pintu itu pelan-pelan. Enggak usah kaya orang kese*tanan kaya gitu!" seru Ernest, kesal.


"Apa yang sudah kau katakan pada Justin, hahh?" tanya Sakha, menekan kata-katanya.


Wajah Ernest terlihat datar dengan salah satu alisnya yang mengangkat ke atas, "Kenapa? Bukannya apa yang aku katakan padanya, itu memang benar?"


Jawaban simple itu seperti menunjukkan, seakan-akan Ernest tidak memiliki kesalahan apa pun setelah membuat Justin menangis sampai tidak karuan.


"Tidak seharusnya kau mengatakan semua itu di depan Justin, dia masih sangat kecil dan tidak tahu apa-apa! Kalau pun ingin mengatakannya, itu dengan cara baik-baik, bukan seperti ini!"


"Kalau caramu kaya gini, otomatis Justin akan berpikir bahwa kamu sudah tidak lagi menyayanginya. Dia pasti akan merasa sangat sedih, dan terpukul atas ucapanmu itu!"


"Kamu itu jauh lebih dewasa dari Justin, Ernest. Seharusnya kamu bisa menahan emosimu, mau sekecewa apa pun hatimu sama semua kenyataan ini. Bukan Justin ataupun Moana yang seharusnya kamu benci, tapi orang yang ada di balik masalah kalian!"

__ADS_1


"Andaikan Justin bisa memilih, maka dia tidak akan mau terlahir dalam situasi seperti itu. Dia berhak memilih hidup seperti anak lainnya yang kehadirannya membawa kebahagiaan bagi kedua orang tuanya, bukan petaka!"


"Dia juga salah satu korban, bukan hanya kamu atau Moana. Rasa sakit kalian, tidak sebanding dengan rasa sakit yang Justin rasakan. Satu sisi dia di tolak mentah-mentah oleh Ayah kandungnya, dan di sisi lainnya kehadirannya membuat Ayah sambungnya merasakan penderitaan!"


"Cobalah, sedikit saja buka hatimu, Ernest! Berikan kesempatan pada Justin, dan Moana. Jangan sia-siakan kehadiran mereka, karena belum tentu nanti kau bisa mendapatkan istri sesabar Moana dan juga anak yang sekuat Justin. Apa bila kamu sudah kehilangannya, maka penyesalan akan selalu menyelimutimu!"


Kata-kata Sakha tidak mempan sedikit pun bagi Ernest. Dia masih kekeh dengan pendapatnya sendiri, kalau rasa kecewa di hatinya masih menjadi peran penting di dalam pikirannya. Sehingga, hatinya selalu kalah dengan rasa egonya yang cukup besar.


"Sudahlah, Ayah. Aku lagi malas berbicara soal itu! Lagi pula, masih untung mereka bisa tinggal di sini dengan enak tanpa sedikit pun mengeluarkan biaya. Jadi, biarkan saja. Toh, mereka juga hidup menumpang dengan kit---"


"Ernest!"


"Cukup, Ayah! Tangan kotori tanganmu demi menampar pipinya. Sudah, biarkan saja dia mengatakan apa yang harus dia katakan. Mungkin, dengan dia menjelekan istrinya, hidupnya bisa jauh lebih baik!"


"Aku pun tidak akan keberatan atas semua yang di katakannya barusan, toh memang benar adanya. Kehidupan kami di sini itu, hanya sebagai bebannya saja. Maka dari itu, aku akan memutuskan untuk pergi dari sini membawa anakku tanpa sedikit pun membawa barang yang pernah dia berikan!"


"Mungkin saja, dengan perginya aku dan Justin. Hidupnya akan jauh lebih baik, dia akan kembali menjadi Ernest yang dulu. Di mana dia bisa fokus untuk mewujudkan impiannya menjadi Pengusaha yang sukses, tanpa membutuhkan aku sebagai istrinya!"


"Kalau memang dengan perpisahan bisa menebus semua kesalahanku, yang tidak terbukti salahku. Aku sudah siap menerima semua itu, aku akan menandatangani semuanya detik ini juga. Agar kamu bisa mengurus perpisahan kita tanpa membuang waktu!"

__ADS_1


"Lebih baik aku hidup lontang-lantung di jalan, dari pda harus hidup dengan suami yang tidak bisa menghargai bahkan menyayangi keluarganya sendiri. Hanya karena Justin bukan anak kandungmu, kamu rela menyakitinya? Hahah ... Maaf, Tuan Ernest yang terhormat! Bila perlu, kau langkahi dulu mayatku sebelum kau menyakiti anakku!"


"Sudah cukup aku bertahan selama ini dengan mengemis cinta darimu, tapi sekarang tidak lagi! Kalau pun harus ada yang berjuang, itu kamu. Bukan aku! Biar kamu merasakan, bagaimana berjuang susah payah hanya demi menyelamatkan keluargamu sendiri!"


Seseorang yang tadi menahan tangan Sakha untuk tidak menyakiti anaknya, ternyata adalah Moana. Awalnya Moana ingin mengambil kotak obat untuk mengobati anaknya, tetapi dia malah mendengar kata-kata yang sangat menyakitkan hatinya.


Tanpa harus berpikir kembali, Moana memilih untuk tidak lagi bersama Ernest. Baginya, kesehatan mental anaknya yang paling penting saat ini. Dia rela kehilangan cintanya, dari pada kehilangan anaknya sendiri.


Sakha dan Ernest yang mendengar kata-kata dari Moana hanya bisa terdiam mematung. Mereka benar-benar terkejut atas apa yang Moana katakan pada Ernest.


Ernest sendiri tidak menyangka, bahwa Moana yang malah ingin menceraikannya. Padahal dia telah berusaha menahan semua itu demi kedua orang tuanya. Walau dalam keadaan teroaksa, Ernest masih menjaga rumah tangganya.


Namun, Moana. Dia malah ingin mengakhirinya karena merasa sakit hati atas ucapan suaminya yang tidak bisa di toleransi kembali.


.......


.......


.......

__ADS_1


...***💜💜>Bersambung


__ADS_2