Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Penjelasan Felix


__ADS_3

"Te-terimakasih, Ayah, Bunda. Kalian masih mempercayaiku, meski pun aku tahu hati kalian pasti sangat hancur karena sudah salah untuk memberikan kasih sayang pada menantu serta cucu kalian yang nyatanya, bukanlah bagian dari keluarga kalian. Sekali lagi ma-maafkan aku, Ayah, Bunda. Moana tidak masalah kalau kalian akan menghukumku, setidaknya jangan membenciku dan juga Justin. Kami sangat menyayangi kalian, kami tidak ingin kehilangan kalian semua hiks ...."


Elice yang memang sangat menyayanginya, tidak tega saat mendengar tangisan itu. Rasanya hatinya juga sangat sakit, apa bila mereka harus berpisah satu sama lain.


Kasih sayang yang begitu besar dari mereka semua, berhasil mengalahkan rasa marah di hatinya terhadap Moana. Tanpa pikir pnjang, Elice bangkit lalu memeluk menantunya dengan penuh kasih sayang. Begitu juga Sakha, dia mengelus kepala menantunya serta punggung istrinya secara bergantian.


Sakha sangat mengerti tentang perasaan istrinya sendiri, karena bagi Elice Justin dan Moana adalah bagian dari hidupnya yang sudah menyatu. Jadi, tidak heran bila masalah besar ini sama sekali tidak menggoyangkan hubungan di antara mereka.


Di saat mereka sedang mencoba untuk saling menguatkan satu sama lain, tiba-tiba pintu kamar Moana terbuka lebar bersama masuknya Felix yang ada di kursi roda sambil di dorong oleh sang suster.


"Permisi, Tuan, Nyonya. Maaf menganggu kalian semua, di sini Tuan Felix sudah selesai mendonorkan da*rah untuk Pasien yang bernama Justin. Saat ini keadaan Justin sudah jauh membaik, hanya saja sang dokter masih harus memantau semua kondisinya sampai pasien kembali tersadar," ucap sang suster, sedikit mengejutkan mereka.


Sakha dan Elice langsung membalikan badannya dan menatap kedatangan Felix, begitu juga Moana. Terlihat sekali dari tatapan mereka kepada Felix yang sangat di penuhi oleh amarah.


"Sus, tolong tinggalkan saya di sini!" pinta Felix, sedikit membuat sang suster merasa keberatan.

__ADS_1


"Tapi, Tuan. Tuan harus kembali ke kamar, karena kondisi Tuan sangat lemah akibat mendonorkan da*rah kepada pasien tersebut cukup banyak. Apa bila, Tuan tidak beristirahat maka Tuan akan--"


"Setelah urusan saya selesai, maka saya akan kembali ke kamar saya sendiri. Jadi, tinggalkan saya di sini!" seru Felix.


Sang suster sedikit khawatir mengenai keadaan Felix, karena kondisinya yang terbilang lemah dan juga kekuatan daya tahan tubuhnya sangat rendah, membuat sang suster tidak yakin jika Felix bisa kembali ke kamarnya sendiri.


Sakha yang tahu kedilemaan sang suster tersebut, segera mengambil alih atas semuanya, "Tinggalkan dia di sini, Sus. Nanti saya yang akan kembali mengantarkannya ke kamar!"


Setelah mendapatkan perintah seperti itu, sang suster pun mangangguk. Setidaknya ada seseorang yang akan membantu Felix kembali ke kamarnya.


"Baiklah, kalau begitu. Tuan Felix jangan lupa kembali ke kamar, dan jangan terlalu lama di kursi roda. Saya pamit, permisi!" ucap sang suster pergi meninggalkan mereka semua yang menatap Felix dengan tatapan tanda tanya besar terhadapnya.


Sakha yang tidak tega, segera membantunya dan mendorong kursi roda ke arah bangkar Moana. Di mana Moana terlihat begitu marah, dia berusaha untuk bangkit. Elice segera membantu menantunya itu saat melihat Moana yang berusaha memaksakan dirinya sendiri.


"Pelan-pelan, sayang. Kamu masih lemas loh, 'kan bisa bicara sambil kamu tiduran saja. Pasti kepalamu akan terasa pusing, jika di paksakan duduk. Apa lagi wajahmu juga sangat pucet, Bunda takut kondisimu semakin parah," ucap Elice benar-benar mengkhawatirkan kondisi menantunya.

__ADS_1


"Tidak apa\, Bun. Aku masih penasaran bagaimana penipu itu berani melakukan semuanya\, tanpa sedikit pun ada yang mengetahuinya. Mungkin jika Justin tidak seperti ini\, sampai ma*ti pun kita tidak akan pernah tahu kalau seorang Kakak yang sudah aku anggap sebagian dari keluargaku adalah seorang peng*ecut yang sangat handal" seru Moana\, menatap tajam ke arah Felix.


"Tenang dulu, Moana. Kondisimu dan Felix masih belum pulih, lebih baik kalian memulihkan kondisi kalian dulu, baru kalian bisa menyelesaikan semua ini dengan kepada dingin. Ayah tahu, kamu marah sekali dengannya sama seperti kita. Akan tetapi, melihat kondisi kalian yang tidak memungkinkan, Ayah takut kesehatan kalian akan semakin menurun. Jadi, lebih baik kita tunda dulu semuanya. kita bicarakan semua ini nan---"


"Tidak perlu, Tuan. Saya tahu saya salah, maka dari itu saya akan menjelaskan semuanya pada kalian. Jika semakin saya tunda, maka rasa bersalah itu akan terus menghantui saya. Dan, saya tidak akan tahu berapa lama lagi umur saya, jadi selagi saya ada kesempatan untuk menjelaskan serta meminta maaf maka saya akan melakukannya. Meski pun, endingnya saya akan menjadi orang yang sangat kalian benci, saya tidak masalah. Setidaknya saya bisa menjelaskan semua yang sudah terjadi pada saat itu!"


Perkataan Felix benar-benar sangat lembut, dia berbicara menggunakan nada yang terlihat sopan. Semua itu karena dia paham betul, betapa hancurnya hati mereka saat mengetahui semua kebohongannya.


Sakha dan Elice hanya bisa terdiam, mereka memberikan ruang kepada Felix untuk menjelaskan sesuai versinya pada saat itu kepada Moana. Mereka hanya sebagai pendengar yang baik, karena mereka juga penasaran ingin mencari kebenaran di antara Moana dan juga Felix.


Perlahan, Felix menarik napasnya sejenak untuk menetralkan jantungnya yang dari tadi berdetak sangat kencang. Sebenarnya Felix takut apa bila semua yang dia katakan akan menjadi bumerang baginya, tetapi dia juga tidak tega untuk menghancurkan rumah tangga Moana dan Ernest. Jadi, Felix berusaha untuk menahan ketakutannya, lalu mengingat semua kejadian itu kembali sambil menjelaskannya kepada semua yang ada di sana.


.......


.......

__ADS_1


.......


...***💜💜>Bersambung


__ADS_2