
Setelah dia sudah mulai mengingat semuanya, meskipun tidak terlalu hapal Felix langsung menonjokkan tangannya ke arah dinding dengan begitu keras.
"Arrghhh ... Dasar Felix breng*sek\, anj*jing! Bisa-bisanya lu ngelakuin ini sama adik lu sendiri\, baji*ngan!"
"Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya, sedangkan lu bentar lagi akan menikah sama Enza, hahh? Apa lu enggak mikir, sampai lu malah menganggap Moana adalah Enza. Dimana otak lu Felix, dimana!"
"Kalau lu bertanggung jawab atas semua itu, lu pasti akan kehilangan Enza. Tapi, kalau lu enggak mau bertanggung jawab, bagaimana nasib Moana selanjutnya, hah? Lu enggak bisa memiliki mereka berdua dalam satu hubungan sekali pun!"
"Lu harus milih, antara Moana atau Enza. Kalau lu memilih Moana, maka lu harus bisa terima jika lu harus kehilangan Enza. Dan kalau lu milih Enza, maka lu harus lari dari tanggung jawab lu padanya. Sekarang lu harus milih, lu enggak punya waktu banyak Felix. Mikir to*lol, mikir!"
Felix mengoceh sendiri tepat di depan cermin besar, lalu dia membasahi wajahnya sendiri berulang kali sambil menjambak rambutnya.
Namun, tanpa di sangka pikiran negatif tiba-tiba hadir yang membuat Felix sudah kehabisan akal. Dia langsung keluar dari kamar dan kembali menggunakan semua pakaiannya, sehabis itu dia keluar dari kamar untuk melihat situasi kamar Ernest.
"Tu-tuan?" panggil Ernest sambil membuka pintunya, ternyata Ernest masih tertidur pulas di tempatnya.
Perlahan Felix melangkah masuk ke dalam, lalu dia mencoba untuk membangunkan Ernest. Beberapa menit, Ernest masih tidak bangun juga.
__ADS_1
Inilah kesempatan emas bagi Felix untuk melancarkan aksinya untuk menjadikan atasannya sendiri sebagai kambing hitam atas perbuatan be*jatnya itu.
Felix segera membuka semua pakaian Ernest dan membuangnya ke sembarang arah, selesai semuanya Felix bergegas menyelimuti tubuh Ernest dan segera bergegas untuk melihat keadaan Moana.
Felix melakukan sedikit pergerakan untuk mengetes kesadaran Moana, di mana Moana sendiri juga tidak menunjukkan kesadarannya. Tanpa berlama-lama lagi, Felix langsung menggendong Moana dan meletakkannya tepat di samping Ernest dengan membuat mereka seperti orang yang habis melakukan hubungan.
Langkah kaki Felix mulai mundur dan melihat mereka berdua yang terlihat sangat cocok, tetapi entah mengapa hati Felix begitu sakit ketika dia harus mengorbankan kedua orang yang tidak bersalah demi menyelamatkan hubungannya.
"Ma-maafkan saya, Tuan. Sa-saya terpaksa melakukan semua ini, saya tidak mau kehilangan calon istri saya. Dan juga saya tahu, jika kalian sebenarnya sudah memiliki perasaan hanya saja kalian memiliki gengsi yang besar. Dengan cara seperti ini, anggaplah saya sedang mempersatukan kalian meski pun menggunakan cara yang salah. Cuman, ini jalan satu-satunya supaya hubungan saya aman dan juga kalian bisa segera menyatu."
"Sekali lagi, maafkan saya, Tuan, Moana. Saya akan segera menebus semua kesalahan saya ini, ketika waktunya sudah tiba. Dan aku juga tidak akan melupakan, apa bila terjadi sesuatu padamu contohnya kamu hamil. Aku janji, aku akan berusaha menjadi Paman yang baik, walau aku tahu jika itu adalah anakku sendiri!"
Felix berbicara sangat pelan, air matanya menetes ketika tidak tega melihat mereka berdua yang harus menjadi korban atas perbuatannya dirinya sendiri.
Di saat Felix melihat adanya pergerakan sedikit dari Ernest, dia segera meninggalkan kamar dan menutupnya rapat. Lalu, dia menghapus semua air matanya dan membersihkan kamar Moana.
Spray yang terdapat noda merah, segera Felix bersihkan lalu dia rendam di dalam kamar mandi dan setelah itu dia keluar dari Apartemen untuk mencari seorang OB untuk meminta pengganti spray yang baru.
__ADS_1
Semua Felix lakukan dengan sangat rapi, sehingga spray yang basah dia serahkan pada OB tersebut. Kemudian Felix mengganti spray yang baru sendirian, di rasa semuanya sudah terlihat rapi dan juga tidak sedikit pun Felix meninggalkan jejak.
Dia segera tiduran di kamar itu, penuh penyesalahan akibat kesalahan yang tidak bisa di pertanggung jawabkan.
Ketika Moana terbangun, Felix mendengar suara itu dia berusaha menahan diri agar tidak terlihat gugup. Dia mulai berjalan mondar-mandir di dalam kamar menunggu waktu yang pas untuk dia masuk dan berakting sebagus mungkin.
Dan, benar bukan. Felix berlari dalam keadaan tergesa-gesa serta dia memasang sandiwara yang patut di acungi jempol. Entah dia mengikuti drama dari mana, intinya Felix terlihat sangat terkejut saat melihat keadaan mereka.
Padahal di dalam hatinya, dia sangat takut aksinya ketahuan oleh mereka berdua. Jantungnya berdebar sangat kencang, tetapi dia berhasil menahan semua itu seolah-olah dia memang tidak mengetahui apa yang sudah terjadi pada mereka.
Selesai menceritakan kejadian beberapa tahun lalu, hati Moana benar-benar sakit dan juga nyesak. Apa lagi kedua orang tua Ernest yang merasa kecewa atas sikap Felix. Sampai satu tamparan keras berhasil lolos di pipinya dari Elice, tidak lupa Sakha juga ikut menonjok perut Felix sangat kencang.
Semua itu sebenarnya tidak setimpal sama apa yang Felix lakukan, tetapi bagaimana lagi kejadian sudah terjadi. Ernest dan Moana juga memang sudah saling mencintai, hanya saja karena kejadian itu membuat hubungan mereka kembali berada di atas tanduk.
.......
.......
__ADS_1
.......
...***💜💜>Bersambung