
"Er-ernest, Bunda nelpon. A-arrghh ... A-aku angkat dulu ya!" pinta Moana, ketika merasakan rasa sakit akibat sodokan dari suaminya.
"Biarkan saja, nangung ini. Dikit lagi masuk!" seru Ernest, berusaha mengarahkan si Gatot. Entah mengapa rasanya sulit sekali, seakan-akan rumahnya menolak untuk di masuki.
"Awwshh ... Sa-sakit, Ernest! U-udah, a-aku mau ngangkat telpon dari Bunda dulu. A-aku takut terjadi sesuatu pada anakku!"
Moana merin*tih kesakitan saat Ernest memaksakan si Gatot agar bisa segera masuk. Hanya saja, Moana yang terus bergerak menyulitkan si Gatot untuk bergerak dengan bebas.
Pada akhirnya Moana pun langsung mengambil ponselnya, dalam keadaan mata melotot menatap suaminya. Sebagai simbol, kalau dia tidak ingin di sentuh sebelum selesai mengangkat panggilan dari Elice.
"Huhh, sabar ya, Tot. Nasib lu bener-bener apes banget malam ini, padahal semuanya sudah lu lakuin. Cuman, ini di luar dugaan. Tadi, Felix yang menjadi pengganggu sekarang Justin. Terus siapa lagi? PMS? Semua aja udah, sampai si Gatot berubah jadi Hulk!"
Ernest berbicara di dalam hatinya sambil menatap Gatot yang perlahan mulai tertidur, sesekali matanya melirik ke arah Moana yang sedang mengobrol sama Elice.
[Iya, Bun. Ada apa? Maaf ya lama, tadi Moana habis---]
"Belah duren, tapi durennya zonk!"
"Ernest!"
Moana menutupi ponselnya dan menjauhkannya agar tidak terdengar oleh Elice, tetapi percuma saja. Elice masih bisa mendengar perkataan anaknya yang membuatnya merasa tidak enak dan juga terkekeh.
"Kamu bisa diam, tidak? Atau aku tidak akan memberikannya malam ini!" seru Moana, kesal.
__ADS_1
"Terserah, lagian juga si Gatot udah pasrah. Mau di kasih syukur, enggak juga terima nasib aja. Memang malam ini bukan malamnya, huhh ....," ucap Ernest, cemberut.
Moana yang melihat itu menjadi kasihan terhadap suaminya, dia takut kejadian waktu itu kembali padanya. Akan tetapi, Ernest malah pergi meninggalkannya menuju kamar mandi sambil membawa semua pakaiannya.
[Omi, hiks ... Omi temana, Ustin cali-cali ndak ada hiks ... Omi ahat, maca Omi cama Edi pelgi ndak ajak Ustin. Potona Usti au itut Omi cama Edi, Ustin au itut!]
Justin menangis sesegukan ketika saat dia pulang dalam keadaan tidur, tetapi beberapa jam kemudian Justin kembali terbangun dan tidak menemukan Moana di mana-mana.
Suara tangisan itu bergema, membuat Elice yang ada di dapur untuk mengambil minum terkejut. Padahal dia hanya meninggalkan Justin beberapa menit hanya untuk minum, akan tetapi dia malah terbangun. Sehingga membuat Elice dan Sakha langsung mencoba menenangkannya.
Mereka berusaha keras untuk mengalihkan Justin agar tidak lagi mencari kedua orang tuanya, hanya saja mereka tidak bisa membuat suasana itu menjadi tenang. Jalan satu-satunya, Elice terpaksa untuk menghubungi sekaligus mengganggu anaknya yang ingin unboxing.
[Cupcupcup, sayangnya Mommy enggak boleh nangis dong. Kasihan Oma sama Opa, pasti pusing ngurusin Justin. Tenang dulu ya, besok pagi Mommy sama Daddy pulang kok. Sekarang Mommy lagi berobat dulu, nanti pagi Mommy pasti pulang. Jadi, Justin sekarang bobo ya, jangan nangis lagi. Oke?]
Moana terdiam sejenak mendengarkan suara anaknya yang sangat sedih, ketika dia tidak ada di dekatnya. Elice dan juga Sakha berusaha menenangi Justin, hanya saja tidak mempan.
Kebingungan terlihat jelas di wajah Moana, dia harus di hadapi dengan pilihan yang sangat sulit. Dimana satu sisi ada Justin yang menangis merindukan dirinya dan sisi lain ada suaminya yang membutuhkan kehangatan tubuhnya. Moana benar-benar dilema, apa lagi sampai dia mendengar Justin muntah akibat kelamaan memangis.
Di situ hatinya langsung tersentuh dan ketika dia ingin mengatakan sesuatu, Ernest lebih dulu mengatakannya dalam keadaan sudah rapi.
"Kita pulang sekarang, cepatlah bersih-bersih. Aku tunggu di parkiran!" titah Ernest, pergi lebih dulu meninggalkan istrinya dalam keadaan wajah yang sangat datar.
Moana yang mengkhawatirkan sifat Ernest, hanya bisa pasrah karena mendengar Elice mengatakan kalau kondisi Justin saat ini mulai tidak baik-baik saja setelah beberapa kali muntah.
__ADS_1
Tanpa berlama-lama, Moana langsung membersihkan tubuhnya lalu kembali memakai gaunnya susah payah, walaupun sedikit ribet dan sulit, dia terus berusaha.
Beberapa menit sudah, Moana telah selesai rapi-rapi dan segera keluar dari Apartemen. Tidak lupa menguncinya, kemudian segera menaiki lift untuk turun ke lantai satu.
Saat Moana sudah naik ke dalam mobil sambil menyerahkan kartu Apartemen, wajah suaminya tetap masih dalam keadaan datar tanpa ekspresi.
"Ka-kamu marah ya? Ma-maafin aku, a-aku---"
"Gimana keadaan Justin? Apa dia masih nangis?"
"Ka-kata Bunda, badannya sedikit panas karena dia menangis cukup kejar terus muntah. Jadi---"
Tanpa menjawab apapun, Ernest langsung melajukan mobilnya meninggalkan parkiran Apartemen dalam kecepatan yang cukup kencang. Moana saja sampai berteriak sambil memegang sabuk pengaman begitu erat sesekali memarahi suaminya.
Namun, apa daya. Ernest tidak menggubrisnya, dia malah fokus pada laju mobilnya yang terus dia tambahkan untuk memecahkan kesunyian jalan. Ernest memang sangat kesal atas kejadian tadi, tetapi dia juga mengkhawatirkan kondisi anaknya. Sehingga dia mengesampingkan rasa egoisnya demi sang anak.
.......
.......
.......
...***💜💜>Bersambung
__ADS_1