
Keesokan harinya, Felix merasa benar-benar rindu dengan kehadiran Justin di dalam hidupnya. Selama ini, ketika Felix libur dia akan selalu mengunjungi Justin, lalu bermain bersama penuh canda tawa.
Namun, kali ini dia tidak bisa menemuinya seperti dulu. Semua itu akibat kekecewaan yang Moana miliki terhadapnya. Wajar saja kalau Moana membatasi ketat pertemuan antara Felix dan Justin, lantaran Felix satu-satunya orang yang harus bertanggung jawab atas hancurnya kehidupan Moana.
Maka dari itu, Felix sangat bingung. Bagaimana caranya dia bisa melihat Justin, meskipun dari jarak jauh. Setidaknya rasa rindu yang ada di dalam hatinya bisa terobati.
Saat ini mobil Felix sudah berhenti tepat di dekat rumah keluarga Ernest. Dia masih mencari tempat untuk bersembunyi agar tidak sampai ketahuan. Ketika Felix sedang memikirkan cara bagaimana dia bisa masuk ke dalam rumah itu secara diam-diam.
Tak lama Felix melihat mobil Ernest masuk ke dalam area rumahnya, saking penasarannya Felix memajukan mobilnya secara perlahan sambil menoleh ke arah kanan. Di mana Felix melihat dari jarak jauh, kalau Ernest turun dari mobil dengan membawa seorang wanita yang di duga adalah asistennya.
Setelah beberapa meter, mobil Felix berhenti. Pikirannya sudah mulai ke mana-mana, dia begitu ragu sama asisten pribadi Ernest yang baru itu. Felix takut kalau sampai nanti Ernest dan Dinda memiliki hubungan di belakang Moana.
Meskipun, Felix telah berhasil menghancurkan kepercayaan Moana dan Ernest. Akan tetapi, dia tidak rela jika pernikahan mereka berakhir. Felix memutuskan untuk turun dari mobilnya, lalu dia mencari informasi melalui security yang berjaga di dekat gerbang.
Di sana, Felix mencoba untuk sedikit berkongkalikong dengan mereka agar bisa masuk ke dalam rumah tersebut untuk mencari informasi bagaimana hubungan Moana dan Felix setelah kejadian tersebut.
Awalnya security itu takut, mereka tidak berani membiarkan Felix masuk tanpa seizin Tuan rumah. Hanya saja, mereka suda kenal dekat dengan Felix akhirnya memberikan akses masuk hanya demi memastikan apakah pernikahan Moana dan Ernest akan baik-baik saja.
Tanpa basa-basi, Felix masuk ke rumah itu dengan mengendap-endap bagaikan seorang maling. Apa lagi kedua orang tua Ernest tidak ada di rumah, mereka sedang ke luar negeri karena ada urusan mendadak tentang bisnis Sakha yang mengalami kendala.
Perlahan demi perlahan, langkah kaki Felix pijakkan. Sampai akhirnya dia melihat pemandangan yang cukup mengejutkan.
"Justin, makan dulu sayang. Jangan lari-lari terus, nanti muntah loh," ucap Moana yang ingin menyuapini anaknya.
__ADS_1
"Ndak, au. Ustin ndak au mam cayul. Astin au mam aget cama cocis," sahut Justin, dia terus berlari mencoba untuk menghindari Moana.
"Ini enak loh, sayurnya itu bagus buat kesehatan. Justin 'kan baru sembuh, jadi harus makan sayur yang banyak biar ada tenaganya kaya film popaye. Katanya mau punya otot tangannya, tapi kok makan sayur takut sih. Payah!" jawab Moana, berusaha memancing Justin agar dia mau memakan sayuran.
"Ndak! Cayul itu pahit, Omi! Ustin ndak cuka, titik! Usti au mam aget, ndak au cayul!" pekik Justin terus berusaha berlari agar tidak sampai tertangkap oleh Moana.
Sementara Moana, dia hanya berusaha berlari kecil dan sesekali berjalan karena tidak kuat kalau harus mengikuti kelincahan anaknya yang sudah semakin pintar.
Tanpa di sadari, Justin berlari tanpa melihat ke arah depan dan menabrak Dinda hingga terjatuh dalam posisi duduk.
"Ehh, ka-kamu gapapa, ganteng? Apakah ada yang terluka?" tanya Dinda, malah menyelamati Justin.
Justin menatap ke arah Dinda dengan mata polosnya. Dia sama sekali tidak mengenali wanita yang di tabraknya, tetapi Justin pula tidak pula mengucapkan terima kasih karena sudah di tolong oleh Dinda.
"Makannya kalau jalan itu matanya di pakai, bukan kaki doang!" bentak Erenst, langsung di tatap oleh Justin dan segera menundukkan kepalanya.
"A-aap, Edi. Ustin ndak cengaja, Ustin uga cudah inta aap cama Antena," jawab Justin, suaranya terdengar lirih, gemetar bercampur ketakutan.
"Tuan, kau tidak boleh memarahinya seperti itu. Dia masih kecil, lagi pula dia tidak salah kok. Saya juga baik-baik aja,"
Dinda langsung memeluk Justin, dia berusaha untuk merangkulnya agar tidak membuat Justin ketakutan dengan tatapan yang Ernest berikan padanya.
"Jangan kau bela dia, semakin kau membelanya. Dia akan semakin tumbuh menjadi anak yang manja!" celeluk Ernest, kata-katanya berhasil menampar hati Dinda.
__ADS_1
Dinda bingung, kenapa bisa ada seorang Ayah yang begitu membenci anaknya sendiri. Padahal, kalau orang waras. Maka, ketika anaknya jatuh itu langsung di sayang atau kalau perlu di nasihati, apa bila dia bersalah tanpa harus menggunakan kata-kata yang tidak pantas untuk di dengar anak kecil.
Di saat Ernest masih memarahi Justin, Moana datang langsung menatap anaknya yang berada di pelukan wanita lain.
"Ada apa ini? Kenapa anakku terlihat ketakutan seperti itu?" tanya Moana, bingung.
"Kau itu bisa tidak jaga anakmu dengan baik, lihatlah tingkahnya! Dia hampir mencelakakan orang lain," jawab Ernest, menatap tajam dengan wajah datarnya.
Moana segera menatap ke arah Justin, lalu dia menatap Dinda dan kembali ke Ernest. Moana yang masih bingung, meminta Ernest untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Akan tetapi Ernest malah menceritakan kronologi yang sedikit keluar dari kejadian sebenarnya.
Dinda terkejut atas apa yang Ernest katakan pada istrinya, dia tidak menyangka kalau Ernest bisa mengatakan itu seolah-olah Justin membuat kesalahan yang cukup besar terhadap Dinda.
Setelah mendengar itu, Moana perlahan menyamakan tinggi Justin dan mencoba untuk menasihatinya dengan kata-kata yang cukup baik. Dinda memperhatikan sikap Moana, benar-benar salut. Segimana pun Ernest mengalarang cerita, Moana tetap percaya kepada anaknya meski dia juga harus memberitahukannya apa yang baik dan tidak.
Sehabis itu Justin kembali meminta maaf pada Dinda, membuat Dinda tersenyum kecil dan menganggukan kepalanya. Moana perlahan berdiri sambil terus merangkul Justin yang selalu menundukkan kepalanya karena takut akan kemarahan Ernest.
Satu pertanyaan kembali Moana tanyakan, dan langsung di jawab oleh Ernest tanpa ragu sedikit pun. Hanya saja berbeda sama Dinda yang spontan terkejut sama jawaban yang Ernest berikan.
.......
.......
.......
__ADS_1
...***💜💜>Bersambung