
Perlahan bulan mulai menghilang tergantikan dengan cuaca langit yang mulai terang, meskipun matahari belum terlihat di atas langit. Jam alarm yang terdapat di atas meja bupet kecil sudah menunjukkan pukul 6 pagi lewat 25 menit.
Perlahan Nay meliukkan badannya tanpa melepaskan tangan kekar milik Thoms, "Eerghh ...." Suara reng*kuhan Nay terdengar jelas pertanda dia sudah mulai terbangun.
Perlahan Nay mengucek kedua mata menggunakan satu tangan, sedangkan tangan satunya menggenggam tangan Thoms bagaikan seseorang yang lagi bergandengan tangan. Sedikit demi sedikit mata Nay mulai terbuka menyesuaikan cahaya kamar yang cukup terang.
"Hoaam ... Sepertinya semalam aku tidur nyenyak sekali," gumam Nay yang belum menyadari semuanya.
Baru kali ini Nay tidur dengan perasaan lega, juga nyaman tanpa harus memikirkan nasibnya besok atau hutang-hutang yang masih menumpuk.
"Ehh, tu-tunggu dulu!" tegas Nay dalam keadaan wajah sedikit bingung.
"Ji-jika di samping kiriku guling, lantas apa yang aku pegang ini?" tanya Nay dengan suara kecil.
Nay menoleh ke arah sisi kanannya melihat seorang pria tertidur dalam posisi menyandar di tepi ranjang berbantalkan tangan kanan, sementara tangan kirinya berpegangan dengan tangan kanan Nay.
Kedua mata Nay langsung membola besar setelah berhasil melihat seorsng pria berada di dekatnya. Rasanya Nay ingin berteriak, tetapi tidak bisa. Dia hanya refleks menutup mulutnya demi menjaga suara yang akan keluar dari mulutnya.
Selepas Nay tahu siapa pria itu, seketika tangan yang menutupi mulut mulai terlepas. Nay tidak menyangka kalau semalam Thoms berada di dekatnya, padahal Nay tertidur dalam keadaan ketakutan saat melihat bola mata salah satu anak buah Thoms tersebut.
Namun, siapa sangka. Nay benar-benar dibuat terkejut atas kejadian pagi hari ini. Wajah Nay terlihat sangat bingung karena memikirkan bagaimana caranya Thoms bisa berada di dekatnya dalam keadaan tangan mereka saling menggengam, sementara Nay tidak pernah sebelumnya melakukan adegan seperti ini lantaran tidak memiliki kekasih.
Jantung Nay berdetak sangat kencang seperti genderang yang ingin berperang. Tidak hanya itu, tangan Nay yang satunya mulai terangkat mengusap kepala Thoms dengan penuh kehati-hatian.
A-aku tidak tahu ada apa dengan tubuhku ini, Tuan. Ketika kau jauh, tubuhku kembali merasakan tidak nyaman. Namun, ketika kau ada di dekatku. Maka, kenyamanan itu kembali muncul mengalahkan rasa traumaku. Haruskan aku meminta agar kau tetap ada di sisiku? Atau, berjanji agar tidak meninggalkanku di dalam keadaan apapun?
__ADS_1
Hyaak! Apa-apaan ini, Kanaya! Pembicaran apa yang kau ucapkan tadi, hahh? Kenapa seolah-olah kau sedang menuntutnya agar tidak meninggalkanmu, dasar bo*doh!
Ingatlah! Kau bersamanya hanya karena balas budi, bukan apapun. Masalah trauma itu bisa sembuh tanpa harus membuat pria itu berada di dekatmu. Memang kau siapa bisa mengatakan hal itu? Istri bukan, kekasih bukan, saudara bukan, lantas kenapa pikiranmu itu terlalu jauh? Akhh, dasar Kanaya bo*doh!
Udahlah, aku tidak mau lagi berpikir macem-macem. Intinya aku bekerja sama dia karena balas budi, dan mengumpulkan penghasilan agar aku bisa hidup normal seperti orang lain tanpa hinaan!
Berperang dengan hati dan pikiran memanglah membingunkan. Satu sisi kenyamanan mulai hadir di hati Nay, sisi lainnya lagi Nay tidak ingin dekat-dekat oleh pria menyeramkan seperti Thoms yang tidak jelas seperti apa pekerjaannya.
Nay menangis semua yang ada di dalam hati juga pikiran, lalu mencoba melepaskan genggaman tangan dari Thoms. Sayangnya, Nay tidak bisa. Tangan Thoms terlalu besar, juga kekar membuat Nay sedikit kesulitan. Jika Nay terpaksa menarik keras tangan Thoms, besar kemungkin Thoms bisa terbangun dalam keadaan terkejut.
"Hahh, tidak ada cara lain." Nay membuang napas kesal, "Aku harus bisa sabar menunggu dia bangun, kalau tidak bisa-bisa aku yang kena omel karena dituduh sudah melakukan hal ini. Nyatanya, dia sendiri yang memegangku. Dasar jantan!"
Nay mendumel kesal dengan mengira bahwa semua ini adalah ulah Thoms yang senang mencari kesempatan di dalam kesempitan. Pada dasarnya, Nay tidak ingat kalau semalam dialah orang yang ada dibalik kejadian ini, akibat mimpi mendiang ibunya.
Selang 1 menit, Nay merasa ada yang adeh dengan matanya. Beberapa kali Nay mengucek mata hanya demi memastikan apakah ini benar atau salah. Akan tetapi, Nay tidak salah lihat. Semua itu sudah dipastikan berulang kali dengan jawaban yang sama.
I-ini beneran, 'kan? Mataku tidak salah lihat, kalau dia memang benar-benar tampan? Huaa ... Ibu, tolong anakmu ini! Sumpah, Bu. Anakmu sudah mulai tidak waras, masa iya, dia ingin sekali memencet hidung mancung itu. Huaa ... tidak, tidak, tidak! Aku tidak ingin ma*ti sia-sia hanya karena hidung.
Nay berteriak histeris di dalam hati dengan jantung yang hampir copot karena merasakan serangan bertubi-tubi yang membuat detak jantung Nay tidak beraturan.
Hanya dengan Thoms tertidur, maka Nay bisa melihat sisi lain dari pria menyeramkan itu. Tanpa sadar, Nay yang sangat penasaran sama hidung mancung milik Thoms perlahan memencetnya membuat Thoms sedikit kesulitan napas dan mulai terbangun.
Melihat adanya respons tersebut, Nay langsung kembali berpura-pura tertidur tanpa membuat Thoms merasa curiga. Sepanjang Nay memejamkan mata, sepanjang itulah dia mulai menggerutu di dalam hati atas kecerobohan yang hampir membuatnya malu.
Jantung Nay terus berdetak kencang dan semakin kencang karena sedikit mengintip dari balik mata tertutup jika Thoms sudah mulai terbangun sambil mengucek matanya.
__ADS_1
"Astaga, rupanya aku ketiduran," ucap Thoms yang sudah duduk dalam posisi tegak menatap ke arah Nay yang masih tertidur.
"Dia masih tidur?" tanya Thoms demgan suara serak khas bangun tidur.
"Ya, sudahlah biarkan saja. Aku tidak peduli, lebih baik sekarang aku pergi ke kamar dari pada di sini badanku rasanya mau remuk!"
Thoma berdiri perlahan, melepaskan tangannya dari Nay dengan penuh kehati-hatian. Sedangkan Nay yang pura-pura tertidur memberikan ruang agar tangan mereka bisa terlepas.
Selesai melepaskan tangan Nay, Thoms berdiri tegak sambil mengangkat kedua tangan. Badannya terasa begitu pegal akibat beberapa jam Thoms berada diposisi seperti itu.
Sebelum meninggalkan kamar Nay, Thoms mengucapkan kalimat yang membuat Nay sedikit terkejut.
"Hai, gadis aneh! Lain kali kalau mau tidur baca doa supaya ngigaumu itu tidak menyusahkan orang lain. Untungnya aku masih bisa menahan, kalau tidak mungkin saat ini kau sudah habis denganku!"
Degh!
Kalimat teka-teki itu mampu membuat Nay menangkap maksud dari apa yang Thoms katakan. Perlahan Nay membuka matanya ketika melihat tubuh Thoms berjalan ke arah pintu, kemudian menghilang bersama tertutupnya pintu kamar.
Wajah Nay sangat merah menahan rasa mau atas apa yang Thoma ucapkan padanya. Nay tidak menduga kalau semua ini terjadi akibat ngigau atau melindur saat Nay baru ingat jika semalam bertemu dengan mendiang ibunya.
Dalam hitungan menit, Nay langsung kembali menutupi wajahnya di dalam selimut sambil tertawa geli karena telah memfitnah Thoms yang tidak-tidak.
.......
.......
__ADS_1
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...