
Rasa cemas terus memenuhi wajah Felix ketika melihat mereka semua mulai masuk dalam keadaan wajah yang sangat datar menatap ke arah Felix. Beda cerita sama Dinda yang memang sudah mengenal mereka sekilas tetap berusaha terlihat tenang, meskipun ada sedikit rasa takut ketika melihat orang tersebut.
Mereka semua berjalan ke arah sofa, di mana sang majikan langsung duduk perlahan menatap ke arah bangkar. Tidak lupa kancing jas dibuka secara perlahan sambil mengangkat salah satu kaki yang diletakkan di kaki satunya. Lalu, tangannya melepaskan kacamata hitam agar memudahkan mereka saling bertatap wajah.
"Tu-tuan ...." ucap Dinda langsung membuat Felix menatapnya.
"Tuan? Tuan siapa maksudmu? Apa kamu mengenal mereka?" tanya Felix panik.
"Di-dia orang-orang yang aku ceritakan, mereka yang bantu aku semalam disaat kamu sedang tidak baik-baik saja. Cu-cuman, aku belum sempat berkenalan dengan mereka," jawab Dinda sangat pelan dengan manik mata yang terus menatap Felix.
Sedikit terkejut, tetapi Felix juga menghargai pertolongan dari mereka yang cukup berharga. Mungkin, jika tidak ada mereka pasti Felix tidak akan membayangkan bagaimana nasib Dinda di malam itu, sementara dirinya dalam keadaan frustasi.
Pakaian serba hitam dihiasi kacamata membuat Felix semakin penasaran. Sampai akhirnya sang majikan berdiri dari sofa, lalu berjalan mendekati bangkar Felix sesekali memberikan isyarat tangan agar kelima bodyguard tetap berada di tempat.
"Bagaimana keadaanmu, Tuan Felix Gladwin Reagan?" tanya orang tersebut sambil mengukirkan senyuman yang sangat kecil nyaris tidak terlihat.
Jantung Felix hampir terhenti ketika mendengar orang itu menyebutkan namanya tanpa kesalahan sedikit pun. Sama seperti Dinda, wajahnya benar-benar terlihat syok tanpa bisa berkata-kata.
"Da-dari mana Tu-tuan tahu nama saya?" tanya Felix, mulai panik.
"Tuan tidak perlu tahu dari mana saya bisa mendapatkan nama tersebut. Lebih baik, jawablah pertanyaan saya, bagaimana keadaanmu. Apakah sudah membaik? Atau masih depresi akibat memikirkan kebencian di hati Justin Johanes Raymoond?"
Senyuman menyeringai yang terukir disudut bibir membuat orang tersebut merasa senang melihat wajah Dinda dan Felix yang semakin panik. Pasti mereka akan bertanya-tanya, bagaimana caranya mereka bisa mengetahui semua itu, sementara mereka tidak saling mengenal satu sama lain.
Felix spontans menatap Dinda seakan-akan meminta jawaban atas apa yang terjadi hari ini. Apakah yang dikatakan oleh orang tidak dikenal itu hasil dari cerita Dinda atau dia memang tahu dengan sendirinya.
__ADS_1
Dinda yang paham maksud dari tatapan sang suami langsung menggelengkan kepalanya. Itu artinya Dinda tidak menceritakan apa yang terjadi dengan Felix padanya, lalu bagaimana dia bisa tahu? Itulah yang sekarang menjadi tanda tanya besar di dalam pikiran mereka.
Tanpa basa-basi Felix langsung menatap orang tersebut yang sedang tersenyum penuh arti kepadanya. "Siapa Tuan sebenarnya? Kenapa Tuan bisa tahu tentang saya?"
"Tenanglah, jangan panik seperti itu. Saya tidak akan pernah bermain-main dengan orang selemah kalian, bagi saya kalian bulan lawan yang kuat!" ucapnya melirik sinis ke arah Felix.
"Apa maksud Tuan mengatakan hal seperti itu pada kami? Sebenarnya apa tujuan Tuan datang ke sini? Bukannya Tuan yang sudah menolong kami semalam? Lantas kenapa Tuan bersikap seperti sedang memancing emosi kami!" tanya Felix, wajahnya berubah seketika menjadi datar.
"Tuhan itu baik, ya. Dia telah mempertemukan kita di sini dalam keadaan di mana harusnya saya melenyapkanmu, tetapi saya yang jadi penolongmu. Sungguh, aneh!"
Kata-kata yang terlontar dari mulut pria tidak dikenal malah semakin membuat Dinda merasa takut. Ancaman tersebut refleks mengencangkan pelukan Dinda dari tubuh sang suami.
"Sa-sayang, a-aku takut," ucap Dinda sangat kecil. Felix hanya mengusap tangan sang istri sambil menatapnya sekilas dan kembali menatap ke arah wajah pria itu.
"Apa masalah Tuan pada saya? Kenapa Tuan mengancam saya seperti itu? Jika memang Tuan tidak ingin menolong saya, terus kenapa Tuan lakukan?"
Felix terdiam sejenak, mulai memperhatikan pria yang sudah ada di depan wajah Felix. Dia mulai mengingat semua kejadian di dalam hidup demi mengetahui apakah Felix pernah bertemu atau berurusan dengan.
Seingat Felix, dari mulai dia bekerja sama Ernest bahkan sampai punya usaha sendiri. Tidak pernah sedikit saja Felix menyenggol orang semacam pria yang sekarang sedang menatapnya. Kebingungan terus menyelimuti pikiran Felix, hingga akhirnya satu kunci jawaban terjawab saat pria itu mulai memperkenalkan diri.
"Hahh, dasar manusia payah!"
"Saya, Thoms. Paman dari Justin dan Barra, tepatnya kakak kandung Moana. Apa kau ingat dengan keponakanku itu, hem? Bukannya dia adalah anakmu? Upss, sepertinya aku salah. Lebih tepatnya anak yang sudah kau campakkan, kau buang dan tidak kau harapkan!"
Tidak bisa berkata apa-apa lagi, Felix hanya tercenga mendengar penjelasan yang dikatakan olehnya. Sungguh, tidak menyangka kalau Felix harus bertemu dengan Thoms dengan cara seperti ini.
__ADS_1
Tatapan tajam itu terlihat bagaikan tatapan seorang musuh yang ingin melakukan peperangan demi memperebutkan wilayah. Akan tetapi, Felix tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima semua hinaan yang Thoms katakan.
"Bertahun-tahun Moana menderita akibat campur tanganmu, meski kau sudah banyak membantunya. Namun, apa yang kau lakukan padanya, hahh? Kau malah menodai kesuciannya, setelah itu kau hempaskan dia begitu saja bagaikan sampah. Dasar penge*cut!"
"Jika kau tidak ingin bertanggung jawab, setidaknya akui kesalahanmu dari awal bukan malah menjadikan orang lain kambing hitam untuk menebus segala dosamu!"
"Percuma kau ada batang, tetapi tidak tahu bagaimana cara menggunakannya dengan baik. Jadi, saran saya lebih baik potonglah batangmu, sebelum istrimu menjadi korban berikutnya. Setelah itu kau tidak akan bisa lagi asal masuk lubang sesuka batangmu, lalu mengopernya bagaikan bola!"
"Yang jadi pertanyaan saya, hanya satu. Apa yang kau dapatkan dari semua yang sudah dilakukan itu? Kebahagiaan atau penderitaan, hem?"
Wajah Thoms begitu mengejek Felix. Hanya saja, kata-kata yang diucapkan cukup mencubit hati Felix. Tidak ada satu kata yang Felix bantah dari Thoms lantaran semua itu memang telah terbukti benar adanya. Sehingga Felix hanya bisa menerima semua caci maki yang Thoms berikan padanya.
"Terus gimana rasanya dibenci oleh anak sendiri? Sakit? Woo, jelaslah. Lain kali jika ingin melakukan sesuatu dipikir ulang pakai otak, bukan dengkul!"
"Rasa sakit yang sudah kau berikan pada adik kandung saya, tidak akan pernah sebanding kalau hari ini saya harus menghabisi kalian tanpa ampun sekali pun! Ibaratkata nyawa kalian berdua hanya bisa membayar sedikit rasa sakit di hati adik saya, lain cerita jika saya menghabisi 10 keturunan kalian tanpa tersisa baru bisa membayar semua rasa sakit itu!"
"Namun, apa daya. Jika saya harus menghabisimu, maka rasa benci yang ada di dalam hati ponakan saya akan berbalik pada saya. Dikarenakan kau adalah ayah biologis untuknya, sedangkan Ernest hanya ayah sambung yang sedang berusaha mencintai Ernest seperti anak kandungnya sendiri!"
"Saya tahu, betapa kejamnya Ernest kepada Moana dan Justin. Cuman, sekejam-kejamnya Ernest pada mereka, tetap kaulah orang yang paling kejam di dalam hidup Moana!"
"Mungkin, kalau bukan campur tanganmu. Saya yakin, Moana pasti akan menikah dan hidup bahagia bersama orang yang dicintai tanpa harus melewati luka separah ini. Namun, Tuhan berkata lain. Meskipun niatmu untuk mempersatukan mereka dalam ikatan yang baik, tetap saja baginsaya penjahat ya, tetap penjahat. Paham kau, loser!"
.......
.......
__ADS_1
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...