Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Menyamar Jadi Tuan Glad


__ADS_3

"Ernest benar-benar sudah kehilangan akal! Dia memasukan betina di dalam kandang yang sedang di benahi, padahal sudah jelas pekerjaan seorang asisten itu bisa 24 jam selalu ada di sampingnya dan ikut ke mana pun dia pergi. Ini pasti akan semakin membuat rumah tangga mereka semakin renggang, tapi tenang aja. Aku tidak akan membiarkan rumah tangga kalian hancur!"


"Aku akan mencoba memperbaiki apa yang sudah rusak, dan akan menjaga apa yang harus aku jaga. Supaya kalian tetap bersama dalam keadaan apa pun, tanpa menyakiti satu sama lain!"


Felix berbicara di dalam hatinya sambil menaiki lift khusus bersama Dinda menuju lantai di mana dia akan segera menemui Ernest.


Tidak lama, mereka sampai di lantai paling atas. Lalu perlahan Felix keluar sambil berjalan dan menoleh ke arah ruangannya lalu berhenti.


Rasanya Felix rindu sekali dengan ruangan yang selama bertahun-tahun telah menemaninya sampai di titik ini. Sedangkan Dinda, sudah berada di depan ruangan Ernest.


"Mari, Tuan. Silakkan ma ... Loh, kenapa Tuan Glad?" tanya Dinda, pada dirinya sendiri.


Saat dia menoleh, melihat ke arah Felix yang masih terdiam di dekat lift. Dinda segera berjalan mendekatinya, dan sedikit mengejutkannya.


"Tuan? Ada apa? Kenapa Tuan menatap ke ruangan saya?" tanya Dinda, bingung.


"Akhh, e-enggak, kok. Ohya, di mana ruangan Tuan Ernest?" tanya balik Felix, mengalihkan pembicaraan, walaupun dia sedikit gugup.


"Di sana, Tuan. Mari ikuti saya!" titah Dinda, mempersilakan Felix jalan terlebih dahulu. Kemudian Dinda berjalan menyamakan langkah Felix.


Dinda menghentikan langkah kakinya, lalu mengetuk pintu menunggu jawaban dari Ernest. Setelah Ernest mengizinkan mereka masuk, barulah Dinda membuka pintu secara perlahan untuk Felix.


"Mari, silakkan masuk, Tuan!"

__ADS_1


Felix masuk dalam keadaan sedikit menundukkan kepalanya, dia masih merahasiakan wajahnya. Sementara Ernest duduk santai di sofa, terus memperhatikan gerak-gerik Felix.


"Tuan, perkenalkan ini Tuan Glad. Dia yang ingin bertemu dengan Tuan," ucap Dinda, memperkenalkan Felix. Mata Ernest menyicip, lantaran dia seperti mengenainya. Akan tetapi dia lupa, di mana bertemu dengannya.


"Tuan, perkenalkan ini Tuan Ernest, selaku CEO di sini," sambung Dinda. Dia memperkenalkan satu persatu di antara mereka.


Felix menjabat tangan Ernest dalam keadaan Felix masih berdiri. Dinda segera berpamitan kepada semuanya untuk meninggalkan mereka berdua. Lalu, Ernest mempersilakan Felix duduk di sofa tunggal.


Ketika Felix mengangkat wajahnya secara perlahan, kemudian menatap Ernest. Di situlah mata Ernest langsung membola besar. Ernest tidak menyangka jika seseorang yang ingin bertemu dengannya adalah Felix dengan segala penyamarannya.


Ernest langsung berdiri dari tempatnya dalam keadaan penuh emosi. Rahangnya mulai mengeras bersamaan dengan kepalan tangan yang sangat kuat. Felix bisa melihat betapa marahnya Ernest padanya, setelah kejadian itu terungkap tanpa di sengaja.


"Berani juga kau kembali menginjakkan kaki di Perusahaanku! Apakah uang yang telah aku berikan kurang, sampai-sampai kau menunjukkan wajah yang tidak malu itu tepat di hadapan saya!" pekik Ernest, penuh penekanan di dalam kalimatnya.


Felix berdiri sambil mencoba untuk menjelaskan pada Ernest tujuannya datang ke sini. Dia tidak ingin mencari keributan sama mantan atasannya yang sangat dia hormati.


"Apa yang ingin kau selesaikan? Semua sudah jelas! Akibat ulahmu, semua impian saya selama ini untuk menjadi orang yang sangat sukses telah hancur! Dan saya harus bertanggung jawab atas apa yang tidak pernah saya lakukan sama sekali! Puas kamu, hahh? Puas!"


Ernest menatap tajam ke arah Felix, dengan bentakan yang membuat Felix memejamkan kedua matanya sekilas akibat rasa kejutnya. Selama ini Felix bekerja sama Ernest, kemarahannya tidak meledak-ledak seperti saat ini.


Mungkin Ernest memang sering kali memarahinya atau membentaknya. Hanya saja, tidak sampai terlihat otot-otot yang ada di lehernya.


Emosi Ernest yang sudah tidak bisa di kontrol, membuat Ernest segera duduk dengan kasar di sofa. Semua itu karena Ernest tidak ingin mengotori tangannya, tetapi lebih tepatnya dia tidak ingin menyakiti seseorang yang selama ini ada di balik kesuksesannya.

__ADS_1


"Lebih baik kau pergi dari sini, atau saya tidak akan bertanggung jawab bila hari ini adalah hari terakhirmu melihat dunia!"


"Tidak apa, Tuan. Jika dengan membu*nuh saya bisa menebus semua kesalahan yang pernah saya perbuat, maka saya rela memberikan nyawa saya untuk menggantikannya. Akan tetapi, berikan saya kesempatan 1 kali saya. Agar saya bisa menjelaskan semua yang sudah terjadi dengan kita di malam itu!"


"Tidak perlu! Ayah, Bunda bahkan Moana sendiri telah menceritakan semuanya pada saya. Namun, tidak ada satu pun kisah yang mereka ceritakan berhasil untuk membuat saya percaya! Bagi saya, kau dan Moana sama-sama seorang pengkhianat! Dan, saya benci pengkhinat!"


"Tidak, Tuan. Tidak! Kau salah! Moana tidak terlibat sama sekali atas kejadian itu. Semuanya pyur kesalahan saya tanpa sedikit pun dia ikut campur, malah dia pun sama kaya Tuan. Korban yng telah saya jebak demi kepentingan saya sendiri!"


Felix berusaha terus menjelaskan kepada Ernest, walau beberapa kali dia menolak akan penjelasan tersebut.


Entah mengapa, penjelasan yang Felix jelaskan lebih rinci di banding semuanya yang sudah menjelaskan padanya. Hanya satu kendala yang masih tidak berhasil membuat Ernest percaya. Yaitu, Felix tidak bisa memperlihatkan satu bukti pun mengenai kejadian di malam itu.


Tanpa basa-basi dan panjang kali lebar, Ernest segera menelepon Dinda menggunakan sambungan telepon kantor untuk segera membawa Felix keluar dari kantornya. Sebab, Ernest sudah tidak ingin melihatnya.


Selepas perginya Felix dari Perusahaan, Ernes tidak lupa pula memberikan wejangan terhadap semua orang karyawannya yang ada di kantor untuk melarang Felix datang kembali ke Perusahaan.


Di situ mulai ada pertanyaan besar dari seluruh karyawan. Mereka merasa heran karena selama ini hubungan antara Felix dan Ernest memiliki kedekatan tersendiri, dan sekarang malah menjadi jarak yang seakan-akan keduanya memiliki masalah besar yang tidak sedikit pun di ketahui oleh semua orang.


.......


.......


.......

__ADS_1


...***💜💜>Bersambung


__ADS_2