Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Live Ranjang Bergoyang


__ADS_3

Wajah polos Ernest benar-benar membuat mereka merasa bersalah. Adegan yang seharusnya berujung kenikmatan ternyata malah sangat memalukan. Anak seusia Justin harus menyaksikan live ranjang bergoyang yang lupa untuk mengunci pintu sebelum melakukan.


"Kenapa Una cama Yayah diyem? Teyus tadi Yayah apain inum cucu Una aya anak bayi, Enes aja ndak inum agi coalna udah becal. Teyus uga cucu Una ndak enyak ada melah-melahna, Yayah doyan?"


Pertanyaan yang benar-benar polos, sepolos usia Ernest. Tidak bisa membuat kedua orang tuanya menjawab apa-apa, mereka hanya terdiam menggerutu di dalam hati atas kecerobohan yang tidak bisa dibenarkan.


Ernest menatap lekat mereka dengan kedua bola mata yang sudah ternodai. Rasa bersalah mulai menyelimuti Elice dan Sakha, tidak tahu harus bagaimana lagi hingga Elice mencoba untuk segera mengalihkan pikiran sang anak.


"Oh, ya, tadi Ernest belum jawab. Ada apa Ernest ke sini, hem?" ucap Elice memiringkan tubuhnya sambil membenarkan selimut agar tubuh polosnya tetap tertutup.


Tangan Elice mengusap pipi Ernest secara perlahan dan baru mengetahui jika mata sang anak terlihat sembab, "Mata Ernest kenapa, kok bengkak? Apa Ernest habis nangis?" Ernest menganggukan kepalanya saat kembali mengingat semua mimpinya.


"E, ehh, ko-kok nangis? Bentar-bentar, Bunda ke kamar mandi dulu ditemenin Ayah, soalnya tadi ada binatang. Jadi, Ernest tunggu di sini sebentar ya, jangan ke mana-mana, Oke?" titah Elice, diangguki oleh Ernest.


Perlahan Elice mengode sang suami untuk ikut ke kamar mandi sambil menggunakan selimut. Mereka berjalan perlahan sesekali tersenyum menatap Ernest yang terus memperhatikan.


Melihat cara jalan kedua orang tuanya, membuat Ernest menatap aneh. Dia langsung berpikir kalau Sakha dan Elice terlihat persis seperti pinguin juga lontong. Mungkin jika disatukan akan menjadikan pepes pinguin sama kaya pepes tahu, ikan, ayam dan lain sebagainya.


Maklumlah, namanya juga anak-anak pasti imajinasinya sedikit melenceng. Setidaknya Ernest belum mengerti apa yang mereka lakukan sampai tidak menyadari keberadaan sang anak.


Di dalam kamar mandi mereka berdua sedikit cekcok, hingga Sakha keluar untuk mengambil semua pakaian dan kembali masuk ke dalam untuk segera memakainya.


Setelah itu, Elice keluar lebih dulu langsung duduk di ranjang memeluk sang anak, "Ada apa, Sayang? Kenapa Ernest sedih, bisa cerita sama Bunda?" Ernest menganggukan kepalanya. Kemudian menceritakan tentang mimpi buruk itu, disela-sela Ernest cerita Sakha keluar dari kamar mandi dan mencari selimut untuk mereka.

__ADS_1


Mereka berdua menyimak apa yang Ernest katakan sesekali Elice memeluk serta mencium pucuk kepala sang anak. Mimpi buruk Ernest benar-benar menakutkan, pantas saja dia sampai masuk ke dalam kamar tanpa permisi seperti biasanya.


"Udah, jangan nangis lagi, Sayang. Kasihan matamu, nanti bengkaknya nambah parah loh. Badanmu juga sudah anget, sekarang bobo ya, Bunda temanin."


"Kasih minum dulu, Sayang. Biar Ernest tenang, kalau perlu berikan obat penurun panas buat jaga-jaga takut panasnya naik bisa bahaya."


Elice menganggukan kepalanya, kemudian keluar dari kamar menuju kamar Ernest untuk mencari obat-obatan yang harus Ernest minum sebelum tidur. Sakha mencoba menenangkan sang anak agar tidak kebanyakan menangis akibat rasa takut jika mimpi itu kembali hadir.


Selesai kembali, Elice segera memberikan obat yang harus Ernest minum demi menjaga suhuntubuhnya agar tidak semakin panas. Lalu, Ernest merebahkan tubuhnya tepat ditengah-tengah mereka.


"Udah bobo, Sayang. Baca doa biar enggak mimpi buruk lagi, di sini udah ada Bunda sama Ayah, jadi enggak mung---"


"Una cama Yayah tadi apain? Kok, Yayah ada diatas Una. Habis itu Una teliak-teliak akhhh, huhh, gitu mulu. Enes ingung Una agi cakit apa ndak, coalnya alo cakit tenapa Una biyang enyak cama Yayah? Teyus uga, Yayah napa nyucu cama Una? Itu tan, cucu unya dedek bayi utan unya Yayah. Enes aja macih ecil ndak cucu itu agi coalnya udah mau gede, Yayah udah gede maca macih nen, ihhh mayu!"


Ingin ketawa, tapi Elice urungkan sebab kalau tertawa akan membuat Sakha semakin malu. Apa lagi hasratnya belum tuntas dan masih menggantung, jadi sudah bisa dipastikan sedikit disenggol raungan singa langsung keluar.


Tahulah, bagaimana seorang suami jika sudah naik, tetapi harus tertunda hanya karena anak. Rasanya tidak karuan, gelisah juga kesal. Hanya saja, Sakha menahan semua itu agar bisa terus mengontrol sesuatu yang masih tertahan.


"Sstt, udah malam. Ayo, bobo Bunda udah ngantuk nih!" titah Elice mengalihkan Ernest agar tidak semakin menjadi-jadi.


Ernest memiringkan tubuhnya memeluk Elice, lalu memejamkan kedua matanya. Elice tersenyum mengode suaminya sambil mengusap punggung sang anak.


Sakha yang mulai tersadar langsung memberikan bahasa isyarat agar sang istri mengerti kalau dia masih menginginkan permainannya kembali dilanjut. Akan tetapi, Elice terlalu jahil hingga membuat sang suami merajuk bahkan membalikkan tubuhnya membelakangi mereka.

__ADS_1


Elice hanya terkekeh melihat aksi lucu Sakha ketika lagi merajuk sama seperti Ernest, tidak ada cara lain selain Elice fokus menidurkam sang anak lebih dulu barulah dia menidurkan adik kecil milik suaminya yang pasti masih berdiri kokoh bagaikan tiang.


Sekian lama Sakha hanya berdiam diri memainkan ponsel sesekali melirik ke arah belakang di mana sang istri malah memejamkan kedua matanya. Rasa kesal malah bertambah di dalam hati Sakha, jika semua itu tidak dituntaskan maka Sakha tidak akan bisa tertidur dengan nyenyak.


Tidak ada cara lain selain Sakha menuntaskan sendiri di kamar mandi. Dia meletakkan ponsel sedikit keras, lalu berjalan cepat menuju kamar mandi. Sehabis Salha masuk ke dalam kamar mandi, Elice membuka mata dan terkekeh tanpa suara.


Elice beberapa kali memastikan Ernest apakah sudah tertidur atau belum, ketika dia benar-benar yakin kalau sang anak sudah tertidur pulas. Perlahan Elice bangkit dari ranjang, kemudian masuk ke dalam kamar mandi di mana sang suami terkejut ketika dia menyadari kecerobohan berikutnya.


Elice terkekeh geli melihat suaminya sedang bermain sabun. Sakha yang tidak terima dipermalukan oleh sang istri, langsung menubruknya dan terjadilah olah raga malam sampai kurang lebih 1 jam setengah. Setelah puas, mereka kembali keluar kamar mandi lalu tertidur pulas bersama Ernest.


Selesai mengingat semua kejadian itu, Sakha dan Elice langsung tersadar karena dikejutkan oleh Moana. Wajah malu mereka membuat Ernest tersenyum penuh kemenangan.


"Bu-bunda ma-mau ke kantin dulu, na-nanti kalau kalian mau apa-apa telpon aja ya, bye!" ucap Elice langsung pergi meninggalkan kamar Felix karena sudah tidak kuat menahan rasa malu.


Sakha juga tidak ingin ketinggalan sang istri, segera berpamitan pada mereka untuk menyusul Elice. Semua tertawa kecil lantaran Ernest benar-benar paling bisa memutar balikan fakta yang memang nyata. Meskipun mereka tidak ada yang tahu bagaimana ceritanya, tetap saja saat melihat wajah Elice dan Sakha sudah bisa ketebak bagaimana malunya mereka ketika olah raga malam langsung dipergoki oleh sang anak.


Ini pelajaran bagi Felix dan Dinda agar mereka lebih hati-hati lagi ketika berolah raga malam agar tidak membuat kecerobohan seperti mereka.


.......


.......


.......

__ADS_1


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2