Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Nay Meninggal Dunia


__ADS_3

15 menit berlalu, membuat perasaan Thoms semakin gelisah. Tidak ada satu pun perawat yang keluar. Thons semakin bingung, bagaimana caranya bisa mendapatkan informasi tentang kondisi Nay di dalam.


Sementara itu, belum ada kabar apa pun mengenai perkembangan Nay selanjutnya. Terakhir keadaan Nay sangat kritis, tubuhnya kejang-kejang seperti orang tersengat listrik. Padahal, awalnya keadaan Nay terlihat sangatlah sehat.


Namun, entahlah. Thoms sendiri juga bingung, apa semua ini terjadi karena rasa trauma Nay akan kejadian tadi, atau memang Nay mengalami syok berat setelah mendengar siapa Thoms sebenarnya.


Thoms sudah tidak bisa lagi berpikir, fokusnya hanya satu. Semoga saja di dalam ruangan itu Nay tetap dalam kondisi baik-baik saja tanpa terjadi hal buruk di dalam sana.


Sekitar kurang lebih 5 menit, pintu ruangan terbuka bersamaan keluarnya seorang dokter dalam keadaan wajah pucat, keringat dingin mengucur deras, dan tidak ada senyuman terukir dibibir. Itu berarti ada pertanda buruk, kalau kondisi Nay sedang tidak baik-baik saja seperti harapan Thoms beberapa menit lalu.


"Gimana, Dok? Gadi itu baik-baik saja, 'kan?" tanya Thoms, wajahnya benar-benar terlihat sangat panik.


Sang dokter masih terdiam menatap Thoms, tubuhnya sedikit gemetar karena bingung harus menjelaskan dengan kata-kata apa agar Thoms bisa mengerti.


Melihat dokter terdiam, semakin membuat rasa cemas dan panik di dalam hati Thoms menggebu-gebu. Ingin rasanya Thoms memakan orang hidup-hidup untuk melampiaskan perasaan yang tidak pernah dia rasakan selama ini.


"Ada apa dengan kondisi Kanaya Farizka? Jika kau masih terdiam seperti ini, maka jangan salahkan saya jika rumah sakit ini akan hancur dalam hitungan menit!"


"Saya akan menjadikan rumah sakit ini hancur lebur bagaikan kepingan puing-puing yang tidak bisa lagi digunakan. Apa kau mau begitu, hahh?"


Ancaman yang sangat mengerikan membuat dokter itu semakin khawatir akan nasibnya yang berujung pahit. Tanpa berlama-lama lagi, dia mulai menjelaskan semua yang terjadi pada Nay secara tegas.


"Sebelumnya saya minta maaf, Tuan. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan detak jantung pasien agar tetap stabil. Akan tetapi, detak jantung semakin melemah hingga membuat pasien harus meninggal dunia. Sekali maafkan kami, Tuan. Kami belum bisa menyelamatkan Nona Kanaya, maaf!"

__ADS_1


" Saya dan tim telah berusaha semaksimal mungkin untuk mengupayakan agar pasien selamat, tetapi kami semua tidak ada yang bisa penyebab kema*tian pasien yang sangat mengganjal ini. Tidak ada sedikit pun luka di tubuh pasien. Ditambah, tidak ada satu pun penyakit membahayakan yang pasien derita selain penyakit asam lambung."


"Sejauh ini, kami masih tetao berusaha menemukan sesuatu yang mengganjal dikejadian ini. Saya harap, Tuan bisa sabar dan merelakan kepergian Nona Kanaya dengan ikhlas. Saya mewakilkan semua tim yang bekerja untuk menolong pasien kritis meminta maaf yang sebesar-besarnya karenakami belum bisa menyelamatkan korban. Jadi----"


Bugh!


Suara pukulan yang sangat keras mendarat dipipi kiri dokter sampai tersungkur di lantai. Dengan cepat salah satu bodyguard Thoms menolong dokter tersebut bersama asistes dokter.


Tidak ada satu orang yang berani mengatakan sepatah kata pun kepada Thoms. Beberapa bodyguard hanya fokus berdiri menundukkan kepala, sedangkan dokter baru saja berdiri dalam keadaan sudut bibir sebelah kiri penuh dengan luka dan sirup merah.


"Dasar dokter tidak becus! Buat apa kau punya gelar dokter jika menangani satu pasien saja tidak bisa, memalukan!"


"Di mana dokter itu, hahh? Jangan biarkan dia lolos karena saya tidak akan mengampuninya, ngerti kalian!"


"Nyawa harus dibayar dengan nyawa, sekali pun da*rah yang menetes ditubuh dokter itu akan saya jadikan sebagai minuman!"


Mereka melihat Thoms memiliki anak buah di mana-mana dalam keadaan kondisi badan tinggi, besar, kekar, wajah datar dan memiliki aura menyeramkan. Pejabat-penjabat tinggi juga kalah, sebab Thoms seperti memiliki kekuasaan yang tidak semua orang bisa miliki.


"Ma-maafkan saya, Tuan. Saya----"


"Ckk! Minggir!" pinta Thoms kembali mendorong dokter begitu keras sampai terjatuh untuk kedua kalinya.


Dokter kembali berdiri dibantu oleh bodyguard Thoms dan suster, setelah itu dokter berjalan memasuki ruangan dalam keadaan tangan memegangi pipi akibat linu.

__ADS_1


Tubuh Thoms seketika menjadi kaku saat melihat tubuh Nay sudah ditutupi oleh diselimuti berwarna putih bagaikan mayat yang ada di kamar jenazah.


Lirikan ma*ut yang Thoms berikan pada beberapa perawat di sana membuat mereka ketakutan dan langsung berdiri di dekat sang dokter.


"Siapa yang telah memperlakukan dia bagaikan seorang mayat, hahh? Siapa!"


"Cepat buka kain itu dan pasang kembali semua alat yang telah dicopot, atau satu persatu dari kalian akan saya permudah menemui ajalnya!"


Suara lantang tersebut, benar-benar seperti sebuah panggilan kema*tian yang sangat dekat. Awalnya mereka semua terdiam menundukkan kepala tanpa ada berani menatap Thoms. Sang dokter berinisiatif untuk berjalan mendekati Nay, lalu kembali membuat kain putih yang menutupi wajahnya.


Melihat dokter menunjukkan rasa keberaniannya, mereka langsung ikut serta berbondong-bondong membangu dokter untuk memasangkan alat-alat kepada Nay yang sudah tidak bernapas.


Dokter sedikit memaklumi, jika Thoms melakukan ini karena wajar saja. Siapa sih, di dunia ini yang ingin di tinggal oleh kerabat, teman, sahabat, bahkan orang yang cukup spesial seperti Thoms dan Nay.


Setelah semua alat terpasang rapi ditubuh Nay tanpa ada respons sama sekali membuat mereka perlahaan mundur menjauhi bangkar.


Ketegasan yang dari tadi Thoms perjuangkan seketika hilang begitu saja. Pria itu mulai melangkah mendekati bangkar Nay dalam kondisi mata sangat merah, persis seperti orang yang sedang berusaha keras untuk menahan air matanya agar tidak terjatuh.


.......


.......


.......

__ADS_1


...💜💜>Bersambung<💜💜...



__ADS_2