
Justin memang tumbang, tetapi bukan karena terkena tembakan. Melainkan tumbang akibat seseorang yang berhasil menolongnya, sehingga tubuh mungil Justin tidak kuat menahan beratnya tubuh seseorang yang ada di belakangnya.
Thoms yang sudah berhasil melumpuhkan musuh-musuhnya, langsung berlari mendekati Justin untuk mengecek keadaannya. Begitu juga Moana yang sudah sampai lebih dulu sambil menggendong Barra.
"Justin, kamu gapapa, Nak? Kamu baik-baik aja, 'kan?" tanya Moana belum melihat seseorang yang sedang berbalik memeluk Justin.
Justin melirik ke arah orang tersebut, lalu terkejut ketika melihat siapa yang sudah menyelamatkan dirinya. Wajah itu terlihat begitu berbinar sambil tersenyum, tidak lupa tangannya mengusap ke arah wajah Justin penuh kasih sayang.
"Da-daddy?" ucap Justin langsung berbalik menatapnya. Di mana Ernest sudah berhasil menyelamatkan putra kesayangannya yang selama ini sangat dia rindukan.
Pada saat itu Ernest tidak sengaja sedang menelusuri hampir semua tempat yang ada di sana demi mempertemukan Moana dan Justin pada kedua orang tuanya. Di saat Ernest sudah berhasil bertemu, dia segera menghubungi kedua orang tuanya. Akan tetapi, dia tidak tahu jika akhirnya semua menjadi seperti ini.
"Justin, gapapa, Sayang? Maafin papah, papah tidak bisa melindungi kamu. Maafin papah!"
"Pah, Da-daddy. Daddy terluka!"
Thoms yang baru saja mengambil Justin dari pelukan Ernest, langsung terkejut ketika yang terkena sebuah tembakan adalah Ernest bukan Justin. Begitu jugsa Moana, dia langsung membalikan wajah Ernest agar menghadapnya.
Di mana Ernest tersenyum menatap Moana yang saat ini tangannya sudah sangat bergetar ketika memegang perut kiri dekat pinggang Ernest yang sudah mulai merembas cairan berwarna merah.
"E-ernest, pe-perutmu?"
Ernest menggelengkan kepalanya perlahan, lalu tangannya mulai terangkat ke atas untuk menyentuh pipi Moana yang suda berubah menjadi warna merah. Tidak lupa tangan Moana pun menyentuh tangan Ernest, mereka saling menatap satu sama lain. Yang mana Justin dan Barra sudah menangis melihat keadaan Ernest tidak berdaya.
"A-aku ti-tidak apa-apa, ka-kamu tenang aja. Se-setidaknya a-anakku se-selamat, i-itu jauh lebih penting dari nya-nyawaku sendiri."
Moana menggelengkan kepalanya, dia tidak terima bila kehidupan Ernest harus berakhir di sini. Moana ingin Ernest kembali sehat, tanpa harus mengalami keadaan yan buruk.
"Ti-tidak, Ernest, tidak! Kamu harus selamat, pokoknya kamu harus selamat, titik! Kak, ayo bantu aku. Tolong Ernest, Kak. Tolong!"
__ADS_1
"Kakak akan tolong Ernest, asalkan dia harus bertahan. Anak buah kakak lagi mengambil mobil ujung sana, kamu tenangin dia dulu jangan sampai berpikir yang tidak-tidak supaya tekanan da*rahnya tidak semakin rendah. Pahamkan?"
"Kamu dengar kata kakakku, dia akan segera menolong kamu. Jadi, stop berpikir aneh-aneh. Kamu tidak kasian melihat Justin dan Barra menangis seperti ini? Aku tidak mau kehilangan kau, pleace ... Bertahanlah!"
Ernest begitu syok mendengar perkataan Thoms dan Moana. Dia masih tidak mengerti maksud pembicaraan yang Moana katakan barusan, sebab yang Ernest tahu kalau mereka sudah menikah. Lantas kenapa sekarang Moana mengatakan Thoms sebagai kakaknya? Apa sebenarnya yang terjadi? Entahlah, Ernest sendiri bingung.
"Ka-kakak? Ma-maksudnya?" tanya Ernest napasnya sudah tersenggal-senggal akibat kekurangan da*rah.
"Ya, Kak Thoms adalah----"
"Ernest!"
Suara teriakan kedua orang tua Ernest begitu bergema di telinga semuanya membuat mereka langsung menoleh. Elice dan Sakha berlari sekuat tenaga saat melihat anaknya tumbang begitu saja.
"Bu-bunda? A-ayah?"
"O-oma? O-opa?"
"Kamu kenapa, Ernest? Kenapa bisa sampai seperti ini? Kenapa!" teriak Elice, melihat anaknya sudah dalam kondisi lemas tidak berdaya.
"Apa yang terjadi pada Ernest? Kenapa dia bisa begini? Katakan!" tanya Sakha berulang kali menatap Moana dan Thoms secara bergantian.
"Ma-maafin Jusin, Opa, Oma. Semua karena Justin, Daddy jadi seperti ini. Ini salah Justin, kalau saja Justin tidak keluar dari tempat persembunyian mungkin Daddy tidak akan terluka. Sekali lagi maafin Justin, Justin salah hiks ...."
Justin menangis di dalam pelukan Thoms, dia menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi padanya. Sementara Ernest selalu menggelengkan kepalanya sambil megang pipi Justin, ingin rasanya dia mengatakan kalau ini bukan salahnya.
Akan tetapi, Ernest keburu tidak sadarkan diri saat cairan merah yang keluar dari tubuhnya terus mengalir deras. Tanpa harus berkata apa-apa lagi, beberapa bodyguard segera menolong Ernest dan membawanya ke mobil.
Ernest tiduran di belakang bertumpuan paha Moana yang terus menangis saat melihat kondisi suaminya sudah tidak berdaya lagi. Thoms duduk di depan samping supir sambil memangku Justin dan berusaha mencoba menenangkannya agar tidak terus menangis. Sementra Sakha sama Elice berada di mobil belakang bersama beberapa bodyguard yang terus menjaga mobil mereka serta membuka jalan agar mereka bisa secepatnya sampai di rumah sakit.
__ADS_1
Mereka semua tidak menyangka Ernest bisa seperti ini hanya demi menolong Justin. Padahal dulu Ernest tidak menerima keberadaannya, dan sekarang dia sudah membuktikan pada semuanya kalau memang Justin sangat berharga untuknya.
Ernest tidak peduli, jika setelah ini dia tidak bisa membuka matanya. Setidaknya dia telah mengorbankan nyawanya demi anak yang selama ini telah di sakiti untuk membalas semua rasa sakit yang sudah Ernest berikan.
25 menit berlalu, mereka semua sampai di rumah sakit dan langsung turun dari mobil untuk membawa Ernest ke ruang operasi. Di sana sudah ada beberapa dokter spesialis begitu juga profesor yang langsung di turunkan agar bisa membantu untuk menyelamatkan nyawa Ernest.
Setelah Ernest di bawa masuk ke dalam ruangan, di siru isak tangis pecah begitu saja antara kerinduan dan juga ketakutan menjadi satu.
Elice langsung memeluk Justin begitu erat saat rasa rindunya sudah tidak bisa di bendung lagi. Begitu juga Sakha dia pun memeluk Justin bersama dengan istrinya. Kerinduan yang mereka pendam selama ini tumpah, dibalik kesedihannya terdapat kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan lagi.
"Oma, Opa maafin Justin. Daddy begini gara-gara Justin, maaf hiks ...."
"Sstt, tidak boleh ngomong gitu, Sayang. Ini semua musibah, jadi bukan salah Justin. Oke?"
"Benar apa yang di katakan Omamu, ini semua takdir Tuhan. Setidaknya Justin baik-baik saja, Justin tidak terluka. Mungkin, ini semua karena Daddymu ingin membuktikan bahwa Justin jauh lebih berharga dari pada nyawanya sendiri. Benarkan, Oma?"
"Ya, benar, Opa. Daddymu sekarang ini sudah benar-benar berubah, dia bukan Daddymu yang dulu. Setelah kalian di nyatakan meninggal, Daddymu langsung menyesali semua perbuatannya. Dia berjanji, kelak jika kalian bertemu dia akan membuktikan bahwa dia sudah berubah. Bahkan nyawa pun akan dia berikan kalau itu di perlukan supaya kalian percaya. Dan, sekarang terbukti. Dia sudah berhasil membuktikan pada kita semua kalau dia bisa berubah menjadi pria yang baik. Apa kamu senang, Nak?"
"Ya, Justin sangat senang Oma. Justin bangga sama Daddy yang sekarang, dia rela melindungi Justin. Justin bangga punya Daddy, Justin tidak mau kehilangan Daddy. Justin mau kumpul lagi sama Daddy, Justin mau itu semua hiks ...."
Tangis Justin pecah di dalam dekapan kedua orang tua Ernest. Betapa bahagianya mereka, ketika bisa bertemu kembali dengan cucunya yang sudah lama tidak bersamanya.
Thoms mencoba untuk mengambil Barra dari pelukan Moana yang selalu nangis tanpa henti. Setelah itu, Moana berlutut di hadapan kedua orang tua Ernest menyamakan tinggi Justin. Lalu, Moana meminta maaf atas semua yang sudah dia lakukan karena sudah membohongi mereka.
.......
.......
.......
__ADS_1
...💜💜>Bersambung<💜💜...