Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Kalian Harus Tinggi Di Sini!


__ADS_3

Kurang lebih 3 hari. Naya, Sakha, dan Barra sudah dibolehkan pulang bersama. Namun, Elice tidak mengizinkan Naya untuk pulang ke Apartemen yang hanya dijaga oleh Thoms dan para bodyguard. Dia selalu bersikeras menginginkan semuanya untuk kumpul menjadi satu di rumahnya sampai Naya benar-benar dinyatakan sembuh total, tanpa kembali melakukan pengecekan setiap bulannya.


Hanya dengan begitulah, Elice merasa tenang. Bagaimanapun, apa yang terjadi dengan Naya semua itu akibat menyelamatkan salah satu anggota keluarganya. Sementara dalam waktu dekat, Thoms juga harus segera kembali ke negara tempatnya tinggal untuk menyelesaikan semua pekerjaan sampai tuntas. Selepas itu, barulah Thoms akan mengurus pekerjaan lain yang jauh lebih baik dari sebelumnya.


Jadi, suka tidak suka mereka semua harus menuruti keinginan Elice yang memang ada benarnya. Selama Thoms menyelesaikan segala urusan, biarkan Naya tingga bersama Moana dan keluarga suaminya.


Apabila pernikahan sudah dilakukan, Thoms baru memiliki hak atas Naya untuk dibawa ke mana pun dia inginkan. Namun, dengan satu syarat. Pernikahan akan terjadi saat semua pekerjaan hitam yang Thoms lakukan sudah selesai dan tergantikan oleh pekerjaan jauh lebih baik.


Sesampainya di rumah keluarga Ernest, mereka semua berkumpul di ruang tengah tempat keluarga biasa duduk santai menikmati waktu kebersamaan. Moana dan pembantu menyiapkan beberapa minuman serta cemilan, tak lupa juga untuk makan siang bersama dengan menu yang akan Moana masak sendiri.


Awalnya semua terlihat baik, mereka sudah kembali tertawa bersama. Akan tetapi, ketika Barra melihat Thoms rasanya anak itu langsung memeluk Ernest dan tidak ingin dilepaskan sesekali melirik sang paman. Maklum saja, meskipun Barra tidak mengerti apa yang telah terjadi, anak kecil tetap bisa merasakan aura tersebut.


Tidak hanya Barra saja, Justin juga terlihat sedikit takut, tetapi cenderung lebih ke marah dan kecewa ketika wajahnya kembali menatap wajah sang paman.


Papa tahu, kalian berdua pasti masih marah dan kecewa sama Papa. Tapi, asal kalian tahu saja. Jikalau bukan karena masa lalu, Papa tidak akan melakukan apa yang waktu itu dilakukan. Di dalam da*rah kalian mengalir da*rah keturunan Papa, jadi tidak mungkin Papa melakukan itu kalau bukan ada alesan kuat untuk melakukannya,


Cuma maaf, jika Papa bukanlah orang baik yang duli kalian banggakan. Inilah Papa, sejuta kesalahan dan dosa melekat jelas di tubuh Papa yang baru kalian ketahui. Percayalah, Sayang! Suatu saat nanti Papa akan kembalikan kepercayaan itu secara perlahan karena Papa sayang banget sama kalian berdua. Sekali lagi, maafkan Papa, Justin, Barra. Semoga kebencian kalian tidak berlanjut sampai dewasa. Harapan Papa hanya satu, kita bisa kembali kumpul seperti dulu lagi. Kita bisa bercanda, tertawa, saling menjahili satu samalain, dan sebagainya.


Begitulah pikir Thoms. Dia masih tidak berani untuk mendekat atau menarik perhatian kedua ponakan yang memang masih ketakutan akan dirinya. Pria itu tidak ingin memaksakan semua keadaan, ketika sang ponakan enggan untuk didekati.

__ADS_1


Thoms cuma tersenyum menatap sang ponakan sambil menunggu momen di mana dia kembali berbicara untuk menjelaskan apa yang terjadi pada saat itu. Semua juga atas izin dari kedua orang tua sang ponakan, supaya ke depannya mereka dapat antisipasi akan semua yang terjadi.


Tak lama, Moana datang dengan wajah gembiranya menatap semua orang untuk memberitahu bahwa, makan siang sudah siap dan mereka bisa menikmatinya bersama-sama. Tanpa berlama-lama, Sakha dan Elice langsung menyuruh semua orang pergi ke ruang makan karena jam makan siang sudah lewat 1 jam. Apalagi, anak-anak serta Naya harus segera minum obat jangan sampai telat atau terputus.


"Ayo, ayo ... Semuanya duduk yang manis ya, kita makan bareng-bareng. Aduhh, senangnya aku rumah ini bisa semakin ramai. Nanti kalau kalian nikah, tinggal sama Bunda aja ya, jangan beli rumah. Udah di sini aja kita kumpul bareng, lagian ini rumah besar kok, masa iya, kalian tega sih," ucap Elice mentap Thoms dan Naya yang baru saja duduk.


"Ya, benar itu. Kalian tinggal di sini aja ya, supaya rumah ini tambah biar ramai. Apalagi, ketika kalian punya anak, pasti seru deh, rumah ini berasa kaya hidup gak sunyi," balas Sakha tersenyum ketika membayangkan rumahnya akan menjadi seramai apa nantinya bila mereka semua tinggal di satu atap yang sama.


"Udah janga ditolak, Kak. Bunda sama Ayah dari dulu memang mau rumah ini ramai, cuma gimana anaknya hanya ada satu. Apa aku harus buat cucu segudang untuk mereka biar bisa ramai hihi ...."


Apa yang dikatakan Ernest mampu membuat Moana melotot ketika sedang mengambilkan Justin makan di atas piringnya, begitu juga dengan Barra.


Tatapan kesal Moana langsung membuat semuanya tertawa, melihat reaksinya yang begitu ketakutan akan menambah anak. Sementara, kedua anaknya saja masih sangat kecil dan sang suami pun tidak memiliki inisiatif untuk membantunya kalau Moana tidak memintanya.


Di saat semua irang tertawa, Justin hanya melirik -lirik ke arah Thoms yang sesekali meliriknya. Curi-curi pandang di antara keduanya ketahuan dengan Naya membuatnya sedikit gemas melihat tingkah lucu keduanya.


"Udah ayo, dimakan yang banyak. Jangan lupa, ucapan Bunda tadi. Kalian harus tinggal di sini titik!" tegas Elice tidak ingin dibantah karena telah menganggap Thoms dan Naya sebagai anaknya sendiri.


Keduanya hanya tersenyum saling menoleh satu sama lain, tidak tahu harus mengatakan apa lantaran mereka juga bingung. Satu didi tidak ingin merepotkan keluarga besar Ernest dan sisi lain mereka ingin sekali belajar hidup mandiri dengan mengurus keluarga kecil mereka sendiri.

__ADS_1


Akan tetapi, Naya seperti takut menolak Elice dikarenakan gadis itu sudah menganggapnya sebagai orang tua sendiri. Dia bukan takut dimarahi oleh Elice, melainkan takut menyakiti hati jika menolak apa yang dikatakannya. Namun, Thoms sangat mengerti apa yang ada dipikiran calon istrinya saat ini, sehingga dialah yang harus turun tangan memberikan pengertian kepada Elice.


"Nyo ... E,ehh, maksudnya Bu-bunda. Sekali lagi Thoms dan Naya mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas kebesaran cinta kasih yang keluarga ini miliki pada kami berdua. Tapi, sekali lagi maafkan kami, Bun, Yah. Kami tahu, niat kalian semua baik sama kami. Cuma, kami ingin belajar mandiri mengurus rumah tangga kami sendiri. Apalagi aku juga harus mengurus perusahaan almarhum Kakek angkatku di luar kota jadi, tidak mungkin aku selalu bolak-balik meninggalkan istriku nantinya."


"Kalian tenang aja, nanti seminggu sekali bila aku libur dan tidak sibuk, pasti kami akan sering mengunjungi ke sini Atau, kalau tidak kalian yang main ke sana pun tak apa kami malah senang. Kalau untuk sementara, kemungkinan aku akan menitipkan Naya kepada kalian sampai urusanku di sana selesai semuanya. Aku juga tidak ingin membahayakan nyawa calon istriku karena di sana cukup membahayakan untuknya. Aku janji, setelah urusanku selesai maka aku akan kembali dan menikahinya. Itulah, janjiku saat ini!"


Tidak ada yang mampu membantah keinginan Thoms dan Naya. Mereka memang sudah sangat besar, jadi wajar saja bila mengambil keputusan sendiri. Dikarenakan Elice dan Sakha juga tidak berhak memaksakan mereka, sedangkan adik kandung Thoms saja tetap diam menyetujui apa pun keputusan sang kakak selagi itu yang terbaik untuk semuanya.


Selepas itu, semuanya langsung tersenyum. Mereka mulai menyiapkan makanan ke atas piringnya secara bergantian. Kemudian, mereka makan bersama dalam keadaan sedikit mengobrol mengenai langkah apa yang akan Thoms ambil untuk mengakhiri semuanya dan bagaimana dampak ke depannya nanti.


Sementara para wanita hanya menyimak obrolan para pria, sesekali Elice dan Naya menjawab jika memang mereka mengetahuinya. Berbeda sama Moana yang hanya menyimak sambil mengurus kedua anaknya, apalagi Barra yang sedikit susah makan jika tidak dibujuk terlebih dahulu.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...

__ADS_1


__ADS_2