
Sesampainya di suatu tempat, Thoms turun dari mobilnya lalu berjalan perlahan ke arah Enza. Thoms membukakan pintu sambil menjulurkan tangannya bagaikan seorang Pangeran yang sedang menjemput kekasih hatinya.
Enza tersenyum dalam keadaan wajah memerah sambil tersenyum manja. Dia begitu bahagia di perlakukan layaknya Princes, tepat seperti masa kecilnya yang sangat menyukai film Princes.
Perlahan mereka berjalan memasuki sebuah Restoran yang sangat besar, tetapi yang lagi-lagi membuat Enza senang saat melihat isi di dalam Restoran hanya ada 2 kursi serta 1 meja. Artinya tempat itu memang sudah di desain hanya untuk mereka berdua saja, tidak ada orang lain selain mereka.
Pirasat Enza semakin ke sini semakin besar, dia menduga bila Thoms sebentar lagi akan melamarnya untuk menjadikannya kekasih hatinya.
Pelayan menyambut mereka berdua dan mempersilakan duduk di kursinya masing-masing setelah di persiapkan. Lalu, satu persatu minuman serta makanan mulai berdatangan.
Semua itu adalah menu-menu utama yang ada di Restoran berbintang 5. Sehingga rasanya bisa di jamin tidak akan mengecewakan.
Saat semuanya sudah tersusun rapi di atas meja makan, 2 pelayan pun berpamitan serta tidak lupa untuk memberikan ucapan manis untuk kedua pasangan yang terlihat sangat romantis.
Selepas perginya pelayan itu, tanpa di sengaja Enza menggenggam tangan Thoms dengan penuh semangat, "Tuan, terima kasih. Terima kasih!"
Salah satu alis Thoms terangkat ke aras dalam keadaan bingung, "Terima kasih? Buat?"
"Buat semuanya. Tuan selalu berhasil menyenangkan hatiku tanpa aku harus memintanya. Seharusnya aku yang membahagiakan, Tuan. Karena Tuan sudah memberiku kehidupan yang layak ketika kita bertemu di saat yang tidak tepat."
"Jika boleh tahu, kenapa waktu itu kamu berlari begitu cepat sampai hampir saja tertabrak dengan mobilku?"
Pertanyaan Thoms, langsung merubah keceriaan di wajah Enza dan tergantikan dengan rasa bingung serta gugup. Semenjak kejdian itu, Enza tidak pernh cerita pada Thoms. Dia hanya sekedar meminta tolong lantaran hidupnya berada di dalam bahaya.
__ADS_1
Dengan berat hati Enza menceritakn semuanya, tetapi tidak secara jujur. Melainkan sebuah karangan cntik yang dia sematkan di dalam kisah hidupnya. Enza tidak ingin, kalau Thoms tahu jika dia merupakan seorang buronan yang telah menculik anak di bawah umur hingga membuatnya hampir kehilangan nyawanya.
Enza menceritakan bila pada satu itu, dia memiliki hutang yang sangat besar terhadap seorang juragan yang ada di daerahnya. Semua itu bukanlah hutangnya, tetapi hutang mendiang keluargnya yang semakin bertambah karena dia tidak bisa melunasinya.
Maklum saja, namanya juga rentenir. Apa bila kita telat membayarnya maka bunganya malah bertambah, hingga mengalahkan hutang yang seharusnya di bayar.
Saking tidak bisanya melunasi hutang tersebut, juragan itu meminta untuk Enza menikah dengannya. Akan tetapi, Enza menolaknya dan kabur melarikan diri sejauh mungkin. Hanya saja, di saat dia sudah mulai menjalani kehidupan yang baru, juragan itu kembali muncul untuk menikahinya.
Sampai akhirnya Enza melarikan diri, dalam keadaan panik dan tanpa di sengaja dia hampir saja tertabrak oleh mobil Thoms.
"Aarrrgghhh ...." teriak Enza sambil menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.
Untungnya, pada saat itu supir Thoms sangat cekatan untuk mengerem mobilnya tepat pada waktunya. Jadi, Enza masih bisa selamat tanpa mengalami luka sedikit pun.
"Ma-maaf, Tuan. Di-di depan ada seorang wanita menyebrang jalan tanpa melihat terlebih dahulu, untungnya saya bisa langsung menghindarinya. Jika tidak, kemungkinan kita akan di salahkan karena sudah menabraknya," jawab sang supir, sangat tegang.
"Ckk ... Dasar tidak tahu malu. Bu*nuh diri kok di siang hari!" celetuk Thoms, kesal.
"Saya tidak tahu, Tuan. Sebentar, saya akan periksa wanita itu dul---"
"Tidak usah, biar saya saja!" tegas Thoms, wajahnya sangat datar.
Sang supir segera menuruti Thoms, dia langsung keluar mobil untuk membukakan pintu belakang. Di mana Thoms turun dari mobil dalam keadaan gagah sambil membenarkan jasnya serta kacamata hitam yang selalu menempel.
__ADS_1
Satu persatu langkah kaki Thoms, mulai mendekat ke arah Enza. Dia langsung sedikit duduk sambil menyandar di depan mobilnya dalam keadaan melipat tangannya di dada.
"Hei, Nona! Apakah kau sudah bosan hidup, hem?" tanya Thoms, dengan segala kecuekannya. Enza spontan membuka tangannya dan menatap Thoms, bola matanya membola besar ketika melihat ketampana seorng pria yang berkali-kali lipat di atas Felix.
"Ma-maaf, Tuan. Sa-saya tidak sengaja, habusnya saya harus buru-buru karena di belakang ada yang mengejar saya!" jawab Enza, panik.
Mata Thoms melirik ke arah belakang yang tidak menemukan siapa pun. Thoms kira Enza sedang berusaha untuk membohonginya, nyatanya memang dia sedang menghindari Felix serta Ernest saat kejadian Justin terekam jelas di dalam ingatannya.
"Hidup aja udah nyusahin, ma*ti juga mau nyusahin. Dasar manusia!" sahut Thoms, tersenyum miring.
"Tidak, saya tidak begitu ya. Siapa juga yang ingin ma*ti! Saya masih muda, Tuan. Hidup saya masih panjang, jadi tidak mungkin jika saya mengakhiri hidup saya secara sia-sia!" tegas, Enza. Matanya menatap tajam saat melihat senyuman semeh yang menyudut ke arahnya.
"Untung mobil saja baik-baik saja, jika lecet sedikit saja. Nyawamu tidak akan bisa untuk menggantikannya!" seru Thoms.
Awalnya Enza ingin memarahi Thoms, tetapi saat melihat penampilan Thoms, membuat Enza mengurungkan niatnya. Dia malah bersikap layaknya seseorang yang sedang dilema dengan kehidupannya sendiri, tanpa di sangka Enza malah meminta tolong pada Thoms.
Dia bersujud di kaki Thoms untuk meminta bantuan agar bisa menyelamatkan hidupnya dari terkaman juragan yang ingin menikahinya. Thoms sedikit syok, sedikit membuka kacamatanya melihat ke arah kakinya. Lalu kembali memakainya dan menyuruh Enza untuk ikut masuk ke dalam mobilnya.
.......
.......
.......
__ADS_1
...***💜💜>Bersambung