Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Nasihat Dari Pembantu


__ADS_3

"Aduh, kasian ... Kok, maduku di tinggal sih, belum juga resmi jadi madu. Masa udah di tinggal-tinggal, kalau aku jadi Nona Dinda. Pasti aku langsung pergi saja, baru ke kamar mandi aja di tinggal. Apa lagi nanti, bisa-bisa kau akan merasakan apa yang aku rasakan saat dia kembali mencari madu lainnya yang jauh lebih manis!"


"Upss ... Sorry, aku keceplosan ya. Aduh, dasar mulut tidak bisa di ajak kompromi. Ya sudah, aku pergi dulu. Selamat bersenang-senang. Jangan lupa, cepat jadi maduku ya. Aku sudah tidak sabar, mau istirahat karena begitu lelah rasanya mengurus suami seperti dia! Dahhh ...."


Moana melambaikan tangannya sambil melirik ke arah Ernest penuh kesinisan. Di mana Ernest melihat itu, seolah-olah malah Moana sedang mengejeknya.


Jelas-jelas tujuan dia memperkenalkan Dinda, ingin membuat Moana cemburu dan juga marah. Ini malah terbalik, Ernest sendiri yang merasakan kekesalan terhadap sikap Moana.


Tanpa harus mengucapkan apa-apa, Ernest segera pergi meninggalkan rumah bersama Dinda. Justin yang tidak sengaja melihat kepergian Daddynya, merasa sedikit sedih. Hanya saja, dia juga tidak bisa kembali dekat seperti sebelumnya karena sifat Ernest yang menakutkan.


Di dapur, Moana baru saja selesai mencuci piring dalam keadaan air mata mulai menetes. Ingin sekali dia menyerah dengan semua sikap suaminya, tapi ada satu hal yang membuatnya harus tetap bertahan meski rasanya bisa menghancurkan dirinya sendiri.


"Apakah seberat ini cobaan yang Kau berikan padaku, Tuhan? Kenapa, harus aku yang melewatinya sendiri? Sementara orang yang ada di balik semua masalah ini sudah sukses sama apa yang dia miliki (Felix). Sedikit pun dia tidak merasakan hidup menderita seperti ini, beda sama diriku yang tidak terlibat malah harus menerima semua kekecewaan yang ada di dalam hati Ernest!"


"Aku tahu, apa yang Ernest lakukan ini hanya sebagian balas dendamnya atas kekecewaan pada kejadian yang menjebaknya. Dia ingin aku dan Justin ikut merasakan apa yang di rasakan, tapi seandainya Ernest sedikit saja berdamai sama keadaannya. Kemungkinan hidup kita akan jauh lebih baik, karena kami bisa bahagia tanpa harus melihat status dari Justin!"

__ADS_1


"Namun, mengapa dia malah menyakitiku. Jelas-jelas aku tahu, kalau dia masih cinta denganku. Sebab, saat aku sakit 2 hari lalu. Dia yang merawatku dengan baik, meski dia selalu berasalan demi kedua orang tuanya. Cuman aku tahu, kalau itu adalah bentuk dari cintanya!"


"Aku tidak tahu sampai kapan aku harus bertahan, aku tidak ingin menyerah dari pertempuran ini. Aku akan membuktikan padanya kalau aku tidak bersalah, jadi aku akan terus bertahan sekuatku agar Ernest yang menyerah dengan sendirinya!"


Moana berbicara di dalam hatinya, yang mana tangannyanterus bekerja mencuci alat makan lalu menaruhnya di rak piring kecil untuk meneteskan airnya terlebih dahulu.


Setelah itu Moana berbalik dan terkejut atas munculnya seseorang yang hampir membuat jantungnya lepas.


"Astaga, Bibi! Huhh, untung jantung saya permanen. Kalau bongkar pasang, bisa-bisa udah lepas dari tempat aslinya!" celetuk Moana memegangi dadanya.


"Maaf, Nyonya. Loh, Nyonya kenapa? Kok nangis?" tanya Bibi, heran.


"Akhh, sa-saya gapapa, Bi. Ini tadi abis nyuci piring, eh airnya muncrat ke muka hehe ...." jawan Moana, mencoba mencari alasan.


"Nyonya jangan bohong, saya tahu kok. Nyonya cemburu ya sama Tuan, karena tadi Tuan membawa wanita ke rumah? Hayoo, ngaku!" sahut Bibi, penuh intimidasi.

__ADS_1


"E-enggak, kok. Bibi jangan sok tahu ya, lagi pula ngapain saya cemburu. Biarkan saja, mau dia punya cewek, kekasih, tunangan bahkan istri lagi. Saya tidak peduli!" tegas, Moana. Terus membohongi tentang perasaannya sendiri.


"Nyonya tidak usah khawatir, saya tahu bagaimana sifat Tuan Ernest dari kecil. Dia tidak mudah jatuh cinta sama seorang wanita, buktinya cinta pertamanya sama sama Nyonya. Itu pun Nyonya berjuang kerasa selama beberapa tahun, bukan? Jadi, saya yakin. Cewek itu hanya ingin memanfaatkannya saja. Kalau Tuan sudah sadar, dia pasti kembali bersama Nyonya. Percaya deh!"


"Tidak, Bi. Mau dia kembali atau tidak, kalau dia belum bisa menerima Justin sebagai anaknya sendiri. Maka, hubunganku dengannya akan tetap hambar. Bagaikan masakan tanpa bumbu!"


"Saya punya ide, Nya. Gimana kalau Nyonya coba untuk membuat Den Justin berani pada Tuan Ernest. Dengan begitu, nanti Nyonya bisa mencoba kembali medekatkan Den Justin sama Tuan menggunakan cara-cara kecil. Saya yakin, lama-lama Tuan Justin bisa menerima Den Justin walau membutuhkan proses yang cukup panjang dan juga melelahkan!"


Moana terdiam sejenak mencerna nasihat serta ide yang pembantunya berikan padanya. Sedikit ragu sih, tapi apa boleh buat. Tidak salah mencoba itu semua, setidaknya hubungan mereka kembali membaik.


Jika tidak juga, maka Moana akan langsung menyerah dan pergi sejauh mungkin dari Ernest saat sekali lagi perjuangannya tidak mendapatkan hasil yang maksimal.


.......


.......

__ADS_1


.......


...***💜💜>Bersambung


__ADS_2