
Tengah malam, kurang lebih pukul 2 menjelang pagi. Felix kembali bermimpi buruk mengenai Justin yang sudah tidak ingin bertemu dengannya.
Justin benci, Paman Felix. Justin benci! Pokoknya sampai Justin ma*ti pun Justin tidak akan pernah memaafkan Paman Felix, bagi Justin Paman Felix adalah penjahat!
Paman Felix benar-benar tega membuang dan memberikan Justin pada Daddy Ernest. Sementara Justin adalah anak kandung Paman, dasar kejam! Justin kecewa sama Paman, Justin tidak mau lagi kenal sama Paman lagi. Pokoknya Justin sudah tidak peduli lagi karena Paman sampai kapan pun bukan ayah Justin!
Suara itu terus terngiang-ngiang di dalam mimpi Felix, seakan-akan Felix sedang mengejar Justin yang terus berlari untuk menjauhinya tanpa ingin mendekat sedikit pun.
"Tunggu Ayah, Justin, tunggu! Ayah mau jelasin sesuatu sama kamu, Ayah tidak bermaksud meninggalkan kamu. Kamu salah paham, Sayang. Please, kembalilah! Ayah janji, Ayah akan menjalani hukuman apa pun dari Justin asalkan Justin bisa memaafkan Ayah, Ayah mohon!"
Tidak, Justin tidak akan pernah memaafkan Paman! Seumur hidup Justin akan tetap membenci Paman, dan Justin tidak pernah mau mengakui Paman Felix. Jadi, jangan lagi panggil Paman dengan sebutan ayah Justin tidak suka mendengar kata-kata itu. Justin tidak suka!
"Tapi, Justin ... A-ayah ini benar-benar ayah kandungmu, Ayah tidak mau kehilangan kamu, Ayah mohon. Ayah takut sendiri, Nak. Jangan tinggalin Ayah, please!"
Pokonya Justin sudah tidak mau lagi ketemu Paman, bagi Justin ayah Justin hanya satu. Yaitu, Daddy Ernest bukan Paman Felix! Jadi, jangan pernah berharap kalau Justin akan mengakui Paman!
"Ayah mohon Justin, jangan per---
"Bangun, Sayang. Bangun! Jangan seperti ini, aku tidak tega lihat kamu begini. Please, bangun. Ayo, buka matamu!"
Mimpi buruk itu seketika hilang begitu saja
ketika Dinda terbangun dari tidurnya saat mendengar sang suami terus menangis di dalam tidur. Dinda mencoba membangunkan Felix dengan cara menggoyangkan badan hingga Felix pun refleks terbangun dan langsung memeluk sang istri.
__ADS_1
"Aku takut, Sayang. Aku takut Justin membenciku, aku gak mau itu terjadi. Aku pengen main lagi sama Justin, pengen meluk dia, pengen ketawa bareng. Pokoknya aku kangen Justin, aku tidak mau dia membenciku. Aku mohon, bantu aku!"
"Aku rela masuk penjara, aku rela seumur hiduo di jeruji besi asalkan Justin mau maafkan aku, mau main sama aku walaupun sebentar. Aku kaya dulu lagi, Sayang. Aku mau kaya dulu hiks ...."
Felix menangis di dalam pelukan Dinda membuatnya tidak tahu harus mengatakan apa lagi selain meminta Felix untuk tetap tenang dan bersabar atas ujian dari Tuhan. Jika Felix bisa melakukannya, maka dia juga harus bisa menghadapi semua konsekuensi yang sudah ditanam.
"Sudah ya, jangan begini lagi. Aku mohon, jangan siksa mentalmu sendiri!"
*Pelan-pelan kita akan mencari cara supaya Justin bisa memaafkanmu, ingat, Sayang. Kita tidak sendirian, masih ada Tuan Ernest dan Kak Moana yang sedang berjuang berusaha memberikan penjelasan agar Justin tidak lagi memiliki dendam padamu."
"Kamu harus bersabar, Sayang. Memang tidak mudah menaklukkan hati Justin, setidaknya kita dapat dukungan dari banyak orang. Jadi, kamu tidak perlu khawatir lagi, percayalah! Jika kamu melakukan sesuatu yang buruk dan berniat ingin memperbaiki, maka suatu saat usahamu tidak akan sia-sia. Kamu harus tetap berjuang, jangan menyerah. Oke?"
"Aku tidak suka melihat suamiku lemah seperti ini, mentalmu sangat berharga, Sayang. Kalau kamu gila, bagaimana kamu bisa bermain dengan Justin? Malah dia akan tambah takut dan menjauhimu, apa kamu mau semua itu terjadi?"
Felix menggelengkan kepala di dalam pelukan sang istri. Felix tahu, apa yang dia lakukan itu salah, tetapi Felix tidak ingin dibenci oleh anak kandung sendiri. Sehingga, pikiran negatif terus memenuhi isi kepalanya yang membuat Felix tidak bisa berpikir jernih.
...🌟🌟🌟🌟🌟...
Keesokan harinya tepat pukul 8 pagi, Felix baru saja terbangun dari tidur yang cukup menyegarkan pikiran juga tubuh Felix yang semalam terasa berat tidak karuan.
Dinda begitu senang ketika melihat Felix sudah kembali pulih dari rasa stres yang hampir membuat Dinda khawatir dan panik. Dia mulai mencerikan apa yang terjadi semalam sampai akhirnya Felix berada di rumah sakit.
Felix meminta maaf pada sang istri atas semua kegaduhan yang dia lakukan. Betapa beruntungnya Felix bisa mendapatkan wanita sepengertian Dinda, padahal mereka baru saja menikah sudah harus menghadapi masalah yang hampir membuat Felix masuk rumah sakit jiwa.
__ADS_1
"Terima kasih, Sayang. Kamu sudah mau mengerti tentang keadaanku ini, aku benar-benar beruntung memiliki istri sepertimu. Aku mohon, jangan tinggalin aku apa pun keadaannya nanti. Aku sayang sama kamu, aku tidak mau kembali merasakan kehilangan. Please, terus sama aku ya!"
Berulang kali Felix menciumi tangan Dinda sambil meneteskan air mata, sedangkan Dinda tersenyum penuh rasa bahagia karena bisa dicintai oleh pria sedalam ini. Sebelumnya, Dinda tidak pernah mendapatkan kasih sayang setulus Felix hingga Dinda sendiri yang merasakan sakit hati.
Namun, sekarang tidak lagi. Dinda tidak peduli bagaimana masa lalu Felix, dia malah bangga dengan Felix yang ingin berjuang memperbaiki semua kesalahannya dari pada tidak sama sekali.
"Aku pun bangga, Sayang. Kamu itu pria baik, pria hebat. Jadi, jangan pernah putus asa untuk tetap ada di jalan kebaikan. Ingat, di sini ada aku ... Aku yang akan menemanimu sampai kapan pun itu, kamu paham?"
"Sekali lagi terima kasih, Sayang!"
Felix dan Dinda langsung berpelukan satu sama lain, Dinda tidak bisa lagi berkata apa-apa selain mengusap punggung Felix demi membuatnya kembali nyaman. Sebenarnya Felix sudah bisa pulang, hanya saja Dinda mengikuti saran dari dokter agar Felix bisa berobat lebih lama lagi untuk menyembuhkan mental yang sedikit terganggu.
Mungkin, jika Felix sudah mulai membaik, bebannya sudah sedikit tersalurkan dengan adanya dokter psikolog. Barulah dia akan pulang ke rumah dan menjalani aktifitas seperti biasa sesekali meminum obat khusus yang diberikan oleh dokter agar tidak putus.
Dinda menyudahi pelukannya, lalu menyuapkan nasi ke dalam mulu sang suami dengan perlahan. Mereka tersenyum sesekali Dinda berusaha untuk menghibur Felix agar bisa kembali tersenyum.
Setelah Felix selesai sarapan, Dinda memberikan obat yang harus diminum sampai Felix benar-benar dinyatakan sembuh total dari serangan mental. Akan tetapi, ketika semuanya sudah selesai Felix ingin beristirahat, tiba-tiba saja pintu terbuka lebar bersamaan masuknya beberapa orang berbadan kekar yang membuat Felix terkejut bukan main.
Entah, orang dari mana Felix tidak tahu. Jantungnya berdetak kencang lantaran merasa terancam akan kehadiran mereka yang tidak di kenal. Tidak lupa Felix juga langsung menarik Dinda untuk tetap berada didekatnya karena Felix tidak ingin sang istri terluka. Apa pun itu, Felix tetap akan selali melindungi sang istri dari marabahaya yang saat ini ada didepan.
.......
.......
__ADS_1
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...