
Selang 3 hari, Justi sudah di perbolehkan pulang kembali ke rumahnya di saat badannya benar-benar stabil. Hubungan antara Justin dan Ernest semakin hari semakon erat, meskipun waktu itu ada problem sedikit karena kesalah pahamanan. Akan tetapi, sekarang mereka sudah kembali baikan.
Setelah pulang dari rumah sakit, mereka semua duduk di ruang tamu sambil memainkan permainan tembak-tembakan bersama-sama. Apa lagi di sini juga ada Felix yang tanpa sadar, kehadirannya membuat Ernest selalu cemburu pada kedekatannya sama Justin.
"Ayo, Justin kita kabur. Kita cari senjata dulu untuk melawan mereka, atau kita akan kalah sia-sia!" seru Felix.
"Oteh, Aman. Ustin cali cenjata duyu, ahaa ... Etemu, Aman. Aman udah etemu cenjata?" tanya Justin sambil menoleh ke arah Felix.
"Sudah, ayo kita serang mereka!" perintah Felix, langsung di angguki oleh Justin. Kemudian mereka berlari mencari musuh yang ada di layar besar depan matanya.
Dari tadi, fokus Moana hanya pada suaminya. Keseruan yang timbul akibat kekompakan mereka memang pantas di acungi jempol. Akan tetapi, aksi mereka mengundang rasa cemburu di hati suaminya.
Sementara Elice dan Sakha hanya bisa tersenyum melihat mereka bersenang-senang, tanpa mengetahui bila wajah Ernest dari tadi terlihat datar.
"Sayang, apa kamu masih cemburu sama kedekatan mereka?" tanya Moana, memeluk lengan suaminya sambil menyandar.
Ernest menoleh ke arah istrinya dan mencoba untuk tersenyum walaupun rasanya benar-benar sakit, ketika melihat atau menyaksikan anaknya sendiri lebih akrab dengan orang lain.
"Tidak, Sayang. Aku baik-baik saja, aku tinggal ke kamar dulu ya, sebentar!" ucap Ernest, langsung di tahan oleh istrinya.
"Mau kemana? Jangan bilang---"
"Aku hanya ingin ke kamar mandi kok, nanti aku balik lagi. Janji," jawab Ernest tersenyum.
__ADS_1
"Ya sudah, jangan lama-lama ya," sahut Moana, di angguki oleh Ernest. Kemudian dia pun pergi perlahan meninggalkan semuanya.
Baru beberapa langkah menaiki anakan tangga, Ernest mendengar suara teriakan kemenangan Justin dan Felix. Sedikit penasaran, Ernest menoleh dan melihat Justin memeluk Felix sampai menciumnya. Sementara dirinya? Tidak sedikit pun di cium oleh Justin, kecuali Ernest yang menciumnya.
"Semudah itu mendapatkan kasih sayangnya, sedangkan aku? Tidak sama sekali mendapatkannya. Untuk bercanda pun aku tidak mampu membuat anakku sendiri bahagia. Dasar Daddy, bodoh*!"
"Apakah aku tidak pantas mendapatkan kasih sayang itu dari Justin? Itu semua karena, beberapa tahun lalu aku bersikap cuek padanya yang seolah-olah aku tidak pernah menginginkan kehadirannya."
Ernets berbicara di dalam hatinya sambil berkaca-kaca, lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar. Tanpa di sadari, Moana terus memperhatikan gerak-gerik suaminya yang memang sedikit aneh.
Saat Moana ingin meyusul suaminya, tiba-tiba Justin berdiri di hadapannya sambil mengatakan sesuatu, "Omi, au ipis!"
Moana pun segera membawa Justin ke arah kamarnya, karena di kamar Moana pasti ada Ernest. Mereka berjalan saling gandengan tangan, sementara Felix kembali di tantang oleh Sakha untuk melawannya. Tanpa rasa takut, Felix segera menyetujuinya.
...🌟🌟🌟🌟🌟...
"Mommy mau nanya sama Justin, tapi harus jawab yang jujur ya. Boleh?"
"Boyeh, Omi au anya apa?"
"Apakah Justin sayang sama Paman Felix?"
"Cayang, cayang anget. Aman Eli olangna ceyu, ndak aya Edi mayah-mayah teyus!"
__ADS_1
"Berarti, Justin tidak sayang sama Daddy?"
"Ishh, ndak itu Omi. Ustin cayang tok, cama Edi. Api, Edina emebalkan!"
"Kalau Mommy kasih pilihan, Justi lebih sayang Daddy atau Paman Felix?"
Pertanyaan ini membuat Justin terdiam, dia bingung harus menjawab seperti apa. Bukan berarti dia tidak sayang sama Daddynya sendiri, melainkan dia bingung. Satu sisi dia sayang sama Felix karena Felix tipe pria yang hamble dan tidak membosankan. Sementara sisi lainnya, Ernest terlalu kaku untuk mendekati anaknya sendiri serta belum bisa mengambil hatinya.
"Kok diam, hem? Pasti Justin bingung ya, karena Justin lebih sayang sama Paman Felix dari pada Daddy, iya?" tanya Moana, membuat Justin menundukkan kepalanya sambil memelilinkan bajunya.
"Tidak apa-apa, Sayang. Kalau Justin lebih sayang sama Paman Felix, Mommy bisa mengerti perasaan Justin. Hanya saja, Mommy harus ingatkan sama Justin. Daddy yang sekarang bukan lagi Daddy yang dulu Justin tahu, Daddy sudah berubah kok. Justin tahu tidak, kemarin selama Justin sakit itu Daddy khawatir loh. Daddy langsung bawa Justin ke rumah sakit supaya Justin bisa sehat. Terus juga Daddy kemarin bawa Mommy pergi bukan karena Daddy jahat, tapi Daddy mau memberikan adik buat Justin supaya Justin tidak kesepian. Baikkan?"
"Nah, jadi Justin enggak boleh cuekin Daddy ya. Kasihan Daddy loh, pasti Daddy sedih banget lihat Justin hanya dekat sama Mommy atau Paman Felix. Sementara sama Daddy? Justin selalu berantem, terus juga Justin tahu tidak. Saat Justin mencium pipi Paman Felix itu membuat Daddy sedih banget. Padahal selama ini, Justin tidak pernah cium Daddy. Selalu Daddy yang cium Justin. Apakah adil Justin bersikap seperti itu? Memangnya Daddy salah apa sama Justin, kenapa Justin tidak sayang sama Daddy?"
Moana mencoba untuk menasihati anaknya panjang kali lebar, meskipun Justin tidak semuanya mengerti tentang bahasa yang Moana sampaikan. Akan tetapi, Justin sedikit paham mengenai perasaan Ernest padanya.
Justin menatap kembali Moana, dimana matanya berkaca-kaca. Wajahnya mulai merah karena menahan rasa sedihnya, akibat Justin baru sadar atas kesalahannya. Maklum saja, dia masih sangat kecil. Jadi, tidak bisa menyadari kesalahannya sendiri jika tidak ada yang menasihatinya.
Satu kalimat itu berhasil lolos dari mulut Justin, membuat Moana terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab seperti apa, sedikit saja dia salah dalam memberikan penjelasan bisa jadi Moana menyakiti 2 hati sekaligus.
.......
.......
__ADS_1
.......
...***💜💜>Bersambung