Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Sarapan Keluarga Ernest


__ADS_3

Pada pagi hari tepatnya di hari Senin jam 7. Moana dan Elice sedang berkutik di dapur untuk menyiapkan sarapan sebelum mereka berangkat ke rumah sakit. Di mana Justin sama Ernest akan melakukan terapi secara bertahan supaya tangan serta kaki mereka bisa kembali bergerak seperti sediakala.


"Bunda sama Ayah yakin mau ikut sama kita? Nanti kalian capek loh, soalnya dari siang sampai sore terapinya. Ini juga Moana mau sambil bawa bekel biar nanti anak-anak gak akan kelaperan, dari pada beli 'kan sayang juga."


"Ya, benar juga. Ya, udah Bunda bantuin kamu buat nyiapin sarapan sama bekel. Pokoknya jangan khawatir, Bunda sama Ayah akan tetap ikut kok, masa iya, kami diam di rumah mulu. Bosan tahu, mending kami ikut kalian ke rumah sakit hitung-hitung menyaksikan perkembangan Ernest. Terus juga kalau nanti kamu lagi kerepotan, Bunda sama Ayah bisa bantu jagain Barra. Tenang aja, Ayah lagi gak banyak kerjaan kok."


Elis tersenyum menoleh ke arah samping menatap Elis yang lagi sibuk memasak sayur sop sambil mematangkan sambel udang. Tidak lupa Elice membantu menggoreng udang crispy untuk anak-anak yang belum terlalu suka pedas.


"Ya, sudah gimana enaknya Bunda saja. Kalau nanti Bunda sama Ayah capek, pulang duluan gapapa kok jangan maksain. Kasihan Bunda sama Ayah sudah cukup tua jadi tidak boleh sampai kelelahan."


Elice mengangguk penuh kebahagiaan. Awalnya Elice berpikir bahwa hidupnya akan terasa menyedihkan tanpa seorang menantu juga cucu, tetapi Tuhan maha baik. Moana kembali di hadirkan untuk menemani masa tua Elice dengan membawa kabar baik, bahwa Moana ternyata telah memberikan pewaris keturusan dari Ernest.


Mereka kembali meneruskan masakannya, di mana Moana dan Elice akan membuatkan sayur sop yang akan dibagi dua untuk sarapan juga bekal. Tidak lupa Moana juga memasak beberapa lauk, seperti ayam, tempe dan tahu goreng akan dihidangkan di meja makan. Lalu, lauk sambal udang, udah crispy serta nugget dan sosis akan dia siapkan untuk lauk bekal nanti.


Banyak bukan? Ya, itulah Moana. Dia memang lebih memilih untuk memasak masakan sederhana, tapi penuh dengan cita rasa yang sangat lezat. Tidak perlu memasak masakan luar, bagi Moana menu sederhana ini pun masih masuk dalam kategori mewah.


Di saat Moana sedang asyik memasak, tiba-tiba Justin datang untuk memberitahu kalau Ernest sedikit kesulitan untuk menangani kelincahan putra kecilnya tersebut.


"Mom, ayo bantu Daddy. Kasihan Daddy kesusahan, soalnya Barra gak bisa diem mulu lari sana lari sini. Pas mandi mah anteng main air bareng kakak sama Daddy, tapi pas mau dipakein baju Barra malah ke mana-mana. Daddy jadi susah mau ngejarnya, harus bolak-balik naik kursi roda. Terus juga Kakak mau bantu tapi gak bisa, soalnya tangan kakak yang ini 'kan masih sakit."


Moana dan Elice sedikit menundukkan kepalanya mendengar semua keluhan yang Justin katakan. Sampai seketika, Elice meminta agar Moana segera menolong Ernest sebelum Barra melakukan sesuatu yang nanti bisa membuat bahaya mereka berdua.


Tahu sendiri bukan, usia Barra sudah satu tahun lebih sehingga dia lagi senang sekali merangkak ke mana-mana sambil mengoceh tanpa tahu apa yang dikatakan. Lebih parahnya lagi, Barra sudah pintar belajar berdiri dengan merambat benda apapun tanpa tahu apakah itu berbahaya atau tidak.

__ADS_1


Sementara Ernest, masih belum bisa menggerakan kedua kaki yang masih kaku.. Meskipun Ernest sudah bisa mengangkat pinggul untuk belajar memindahkan tubuhnya dari tempat satu ke tempat lainnya, tetap saja akses gerak Ernest sangat terbatas. Sehingga dia akan sedikit kesulitan apa bila Barra semakin hari terlihat semakin lincah.


"Sudah, jangan banyak berpikir. Cepatlah tolong suamimu, biar ini urusan Bunda. Lagi pula semua sudah beres tinggal matengin saja sama goreng tempe, tahu. Ayo, cepat!" titah Elice sedikit mendorong Moana yang belum bergerak dari tempatnya.


"Bunda gapapa, beneran? Nanti kalau udah beres, Moana ke sini lagi ya, Bun. Sebentar! Ayo, sayang kita ke Daddy!"


Elice menganggukan kepalanya, lalu melihat Moana menggandenga tangan Justin satunya untuk bergegas pergi menolong Ernest. Untuk sementara waktu, kamar mereka dipindahkan di kamar tamu yang berada di lantai bawah supaya mempermudah Ernest bergerak.


Berhubung rumah tersebut tidak ada lift, jadi terpaksa Ernest dan Moana harus tidur di kamar tamu yang luasnya tidak seperti kamar asli mereka.


Sesampainya di dekat kamar, Moana dan Justin berpapasan sama Sakha yang baru turun dari kamar dalam keadaan yang sudah rapi.


"Ada apa, kok buru-buru?" tanya Sakha heran.


Moana menghentikan langkahnya sejenak, lalu menjawab apa yang ditanyakan oleh Sakha. "Biasa, Yah. Barra bikin ulah lagi, dia merepotkan Daddynya karena udah mulai pintar bergerak."


"Isshh, Oppa. Tidak boleh berbicara seperti itu, tidak baik. Sama saja Oppa menertawakan penderitaan orang lain. Dosa tahu!" celoteh Justin, membuat Sakha tersadar dan langsung meminta maaf atas apa yang sudah dia katakan tadi.


"Ma-maafkan, Oppa. Oppa tidak sengaja," ucap Sakha, wajahnya sedikit melas.


"Lain kali Oppa gak boleh gitu, oke? Janji!" ucap Justin sangat tegas untuk membela kebenaran.


Sakha langsung menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Justin. Lalu, Sakha mengangguk sambil tersenyum saat Justiin sudah memaafkan perkataan yang sedikit menyinggung.

__ADS_1


"Ya, sudah, Yah. Moana ke dalam sebentar ya, gak enak ninggalin Bunda di dapur lama-lama. Permisi!"


Moana bergegas meninggalkan Sakha dan Justin, kemudian masuk ke dalam kamar yang terlihat seperti kapal pecah akibat ulah Barra dan Ernest.


"Astaga, kalian berdua ini benar-benar, ya!" pekik Moana langsung bertolak pinggang dengan ekspresi wajah yang sangat menyeramkan.


"Ehh, Sa-sayang hehe ... Ma-maafkan aku, janji deh, nanti aku beresin. Terpenting bantu aku nangkep moster kecil itu, dia sudah cukup lama hanya menggunakan pempes. Aku takut masuk angin," ucap Ernest.


Moana hanya bisa mengehela napas panjang, lalu berjalan mendekati Barra. Serangkaian ocehan Moana ucapkan sambil menasihati Barra agar tidak membuat Ernest kerepotan. Setelah selesai, Moana kembali meletakkan Barra di box bayi agar membuat dia lebih mudah mengurus suaminya yang masih acak-acakan.


Kurang lebih 15 menit, Ernest sudah selesai Moana mandikan. Kemudian Moana membantu Ernest memakaian lengkap, saat Ernest sudah bisa melakukan semuanya sendiri. Moana langsung membereskan kamar yang sedikit berantakan akibat ulah dua pria menyebalkan itu.


Justin dan Sakha sudah menunggu di meja makan bersama Elice yang masih menyelesaikan tugasnya. Di rasa sudah beres semua, Moana mengambil Barra dari box bayi kemudian menggendong sambil keluar dari kamar yang diikuti oleh Ernest dari samping.


Sedikit kesal sih, tetapi bagaimana lagi. Moana harus ekstra sabar menghadapi keluarga kecilnya yang seperti ini. Apa lagi kondisi suami sedikit berbeda dari yang lain, jadi Moana tidak ingin sampai menyindir atau membuat Ernest tidak nyaman.


Mereka langsung berkumpul di meja makan, tidak lupa Moana menaruh Justin di kursi khusus agar mempermudah Moana menyiapkan semua makanan untuk anak juga suami tercinta.


Melihat Moana yang seperti ini membuat Ernest sedikit merasa sedih karena dia sudah terlalu banyak membantu hidupnya. Ernest berjanji, dia akan lebih smeangat lagi untuk bisa sembuh dari semua ini agar nanti Ernest bisa membantu Moana kapan pun itu.


.......


.......

__ADS_1


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2