
"Sumpah, Kak. Kakak jahat banget sama aku, Kakak udah menghancurkan semua kehidupanku. Kakak rela membuat aku dan Ernest menjadi sebuah permainan yang bisa Kakak kendalikan, padahal itu benar-benar kejadian yang membuatku trauma, Kakak tahu semua itu, 'kan!"
"Terus kenapa Kakak dengan mudahnya hanya memikirkan nasib Kakak sendiri, kenapa, Kak. Kenapa? Kakak takut kehilangan wanita yang Kakak sayangi, tapi Kakak tidak memikirkan masa depanku yang sudah hancur? Hehh, sungguh kejamnya dirimu, Kak. Tanpa rasa bersalah atas apa yang sudah Kakak lakukan padaku, Kakak malah melempar semua kesalahan itu sama Ernest, demi menyelamatkan hidupmu sendiri dengan alasan agar aku bahagia?"
"Haha ... Kakak salah, Kak. Kakak salah, setiap hari aku hanya makan hati hidup sama Ernest selama beberapa tahun belakangan ini, akan tetapi saat kami sudah saling mencintai, semudah itu Kakak hancurkan semua perjuanganku. Benar-benar jahat, aku benci Kakak, aku benci!"
"Lebih baik Kakak pergi dari hadapanku, pergi! Aku tidak mau melihat Kakak lagi, sudah cukup selama ini aku menderita hidup seorang diri. Dan sekarang Kakak ingin menghancurkan hidup anakku yang tidak tahu apa-apa, gitu!"
"Ingat, Kak! Sampai Justin mengalami hidup yang aku alami, maka aku tidak akan pernah memaafkan Kakak sampai kapan pun! Tanpa Kakak sadari kebahagian yang Kakak kira itu, malah semakin membuatku menderita! Kejahatan yang Kakak lakukan ini, berhasil membuat rumah tanggaku bersama Ernest telah kandas. Terus gimana dengan kebahagiaan yang mau Kakak berikan padaku? Mana, Kak. Mana!"
"Sekarang suamiku sudah membenciku dan juga Justin. Baru kemarin kami merasakan bahagia karena Justin sudah dekat dengan Ernest. Lalu, kebahagiaan itu kembali Kakak renggut darinya. Apa Kakak tidak sampai kepikiran, bagaimana jika Justin tahu semua ini, pasti dia akan membenci Ayahnya sendiri!"
"Kakak mau Justin tumbuh menjadi anak yang menyimpan dendam sama orang tuanya sendiri, iya? Jika itu yang Kakak inginkan, maka aku akan ucapkan selamat! Silakan, Kakak jalani hidup Kakak bersama wanita yang Kakak pilih, yang nyatanya adalah wanita licik!"
"Pergi sana, kejarlah wanita itu. Biarkan aku yang mengurus Justin! Aku ini Ibu sekaligus Ayahnya, aku tidak perlu dirimu dan aku tidak perlu pertanggung jawbaann darimu! Cukup sampai di sini persahabatan kita, aku tidak akan lagi ingin melihat wajahmu bahkan aku tidak akan membiarkan Justin mendekati orang jahat sepertimu!"
__ADS_1
"Pergi sekarang, pergi, pergi, pergi! Aku benci sama kamu Felix, aku benci! Aarrghhhhh ...."
Moana berteriak dengan tatapan yang sangat menyakitkan. Apa pun yang ada di dekatnya di lempar tepat ke arah Felix. Hatinya begitu terluka ketika dia mengetahui betapa liciknya pria yang sudah dia panggil sebagai Kakak.
Bagi Moana, Felix dan Enza adalah 2 manusia licik yang berhasil menghancurkan hidupnya. Di mana Enza berhasil membuat Justin terluka parah di ruangan ICU dan Felix berhasil membuat Moana terluka, tetapi tidak berda*rah. Yang artinya rasa sakitnya berkali-kali lipat dari apa yang Justin rasakan saat ini.
Di balik ketulusan persahabatan atau kebaikan yang Felix lakukan, ternyata dia menyembunyikan sesuatu yang besar. Mungkin, dengan Felix bersikap seperti itu. Bisa menebus semua kesalahan yang pernah dia lakukan pada Moana dan juga Justin.
Nyatanya, itu tidak merubah apa pun. Kekecewaan tetaplah kekecewaan, tidak bisa di rubah sampai kapan pun itu. Kecuali, Felix menyadari kesalahannya dari awal. Mungkin itu akan menjadi pertimbangkan kembali, dan bisa di pastikan Felix bisa hidup bahagia bersama Moana dan juga Justin. Bukan malah menjadi kebencian seperti ini.
"Jika memang nanti Ernest akan menceraikanmu, maka aku siap untuk bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan. Aku akan menikahimu, dan kita bisa memulai hidup yang baru bersama Justin. Aku tidak masalah kamu tidak mencintaiku, setidaknya aku tidak jauh dari anakku!"
Permintaan maaf yang Felix lakukan, terdengar lucu di telinga Moana. Dia tertawa geli di sela tangisannya, terlihat bisa Moana sangat terpukul atas apa yang Felix katakan. Sama halnya seperti Sakha dan Elice yang mendengar semuanya, mereka berdua begitu gemas. Rasanya ingin sekali merauk wajah Felix dan mematahkan batang lehernya.
Hanya saja, mereka berusaha untuk tetap tenang. Mereka tidak ingin ikut campur urusan Moana dan Felix. Akan tetapi, Elice yang tidak tega melihat Moana seperti itu langsung mencoba untuk menenangkannya dengan cara memeluknya.
__ADS_1
Lama kelamaan tawa yang menggelegar itu, hilang bersamaan dengan Moana yang tidak sadarkan diri. Sakha segera membantu istrinya untuk merebahkan Moana di bangkar dengan benar. Setelah itu memencet tombol untuk memanggil dokter agar segera datang ke ruangan Moana.
Felix yang khawatir atas keadaan Moana, ingin mendekati langsung di larang oleh Sakha dan segera di bawa kembali oleh Sakha ke kamar Felix. Meskipun Sakha begitu kecewa atas sikap Felix, tetapi dia juga tidak tega melihat wajah Felix yang semakin pucat.
"Lebih baik Kau kembali ke ruangan, kita selesaikan semua ini setelah semua keadaan membaik. Biarkan Justin dan Moana sembuh dulu, begitu juga dengan dirimu. Setelah itu, kita bahas semua masalah ini!"
"Saya tidak mau mengambil resiko sama apa yang terjadi pada kesehatan kalian. Intinya, secepatnya maslaah itu akan di selesaikan. Dan saya akan berusaha keras agar Ernest dan Moana tidak sampai bercerai!"
Felix yang tidak bisa berkata apa-apa lagi, hanya menuruti perkataan Sakha. Dia juga sudah tidak sanggung harus mengatakan apa lagi, rasanya hatinya sangat hancur ketika mendengar bila Moana akan melarangnya untuk bertemu dengan anaknya sendiri.
.......
.......
.......
__ADS_1
...***💜💜>Bersambung