
Di ruang makan, Moana sedang duduk di atas kursi bersama Justin yang sudah mulai kembali bersikap normal. Dan, Justin juga perlahan telah menikmati sayur bayam yang di masak oleh Moana.
"Uhh, pinternya anak Mommy. Makan yang banyak ya, biar cepat besar. Terus gimana rasanya, enak? Enggak pahit, 'kan?" ucap Moana sambil menyuapini anaknya.
"Ndak Omi, enyak. Ohya, Omi, adi itu ciapa? Tok Edi cama Ante itu?" tanya Justin, mengunyah makanannya.
Baru sebentar Moana melipakan kejadian tadi dan berusaha untuk fokus pada anaknya, lagi-lagi Justin malah mengingatkannya tentang Dinda.
Rasanya berat sekali ingin menjawab kalau Dinda itu akan menjadi Ibu sambungnya, sehingga Justin akan memiliki 2 Ibu dan juga 2 Ayah sekaligus yang berbeda dari teman-temannya.
Akan tetapi, Moana tidak ingin mengatakan itu supaya anaknya tidak merasa sedih. Sebab, Justin hanya tahu kalau Mommy dan Daddy yang selama ini menjadi orang tuanya adalah Moana dan Ernest. Bukan Felix dan juga Dinda.
"Oh, itu. Namanya Tante Dinda, dia adalah----"
"Mommymu yang kedua!"
Moana sontak terkejut, atas jawaban yang Ernest berikan ketika dia baru sampai di ruang makan lalu mendengar obrolan mereka berdua. Moana menoleh ke arah belakang Justin, melihat Ernest berjalan sambil menggandeng tangan Dinda begitu mesra. Kemudian, Ernest menarik satu kursi untuk Dinda duduk.
Cukup romantis, bukan? Itulah, yang membuat Moana tidak henti-hentinya di buat syok akibat ulah Ernest. Perlakuan itu memang pernah Moana rasakan, tetapi tidak seromantis yang dia lihat saat ini.
"O-omi tedua itu apa, Edi?" tanya Justin, penasaran. Matanya menatap ke arah Ernest yang baru duduk, ketika di tatap balik olehnya. Justin malah memutuskan tatapan itu sambil menunduk.
Semenjak Justin sadar dari komanya, semua sikap Ernest berubah drastis padanya. Dia lebih memilih memerahainya dari pada menyayanginya, jadi sedikit membuat Justin trauma untuk bisa menatap mata Ernest lebih lama.
"Mommy kedua itu artinya----"
__ADS_1
"Aduh, kayanya di sini panas banget ya. Gimana kalau kita makan di ruang tengah, hem? Justin mau 'kan? Nanti Mommy setelin film upin dan ipin. Oke?"
"Otehh, Ustin au nonton upin ipin cama Kak los. Ayo, Omi. Anti etinggalan iyemna!" ucap Justin antusias.
Moana langsung pergi membawa makanan Justin menuju riang tengah. Untungnya dia bisa mengalihkan anaknya agar tidak selalu menanyakan hal-hal yang tidak baik di usianya. Apa lagi, posis Ernest begitu tidak suka sama Justin. Jadi, akan lebih mudah untuk membuat Justin merasakan apa yang akan dia sampikan.
Melihat kepergian mereka, entah mengapa Ernest malah menjadi sangat kesal. Niat ingin membuat Moana merasa cemburu dan marah, malah dia sendiri yang terkena jebakannya.
"Arrghh ... Sial! Ternyata tidak mudah untuk membuat Moana bisa masuk ke dalam jebakanku! Apa sih yang membuat dia sekuat itu, malah dia terlihat begitu happy sama anaknya. Dasar menyebalkan*!" pekik Justin di dalam hatinya. Kedua tangannya mulai mengepal kuat di atas meja membuat Dinda menjadi bingung.
"Tuan, apa Tuan baik-baik saja? Ini minum dulu, biar Tuan lebih tenang!" tanya Dinda, mendekatkan gelas yang sudah dia isi air di sela-sela kedua tangannya.
Perlahan mata Ernest melirik ke arah Dinda yang kembali duduk, lalu dia minum dengan sekali tenggak hingga air habis tidak tersisa.
"Jam berapa kita ada meeting?" tanya Ernest, meletakkan gelas secara kasar.
"Kita pergi sekarang! Makan siang di luar aja, saya sudah tidak mood berada di rumah!" seru Ernest, pergi begitu saja meninggalkan Dinda yang berada di belakangnya.
Ernest berjalan melewati ruang tengah, di mana Moana sedang menyuapini Justin yang lagi berdiri lompat-lompat penuh kegirangan saat mendengar lagu Upin & Ipin yang sedang di putar.
...Upin dan Ipin inilah dia....
...Kembar seiras itu biasa....
...Upin dan Ipin ragam aksinya....
__ADS_1
...Kau di senangi siapa jua ......
"Yeeeyy, holee ... Iyemnya muyai agi, haha ...."
Justin begitu antusias saat film yang di sukainya tadi habis, dan sekarang kembali berdendang ketika film Upin dan Ipin berikutnya sudah di mulai.
"Sayang, Mommy naruh piring dulu ya. Justin di sini aja, jangan keluar rumah. Oke?"
"Oteh, Omi. Justin onton ini aja, anti angan upa bawain es kim ya!"
Moana mengangguk sambil tersenyum, lalu bengkit berjalan meninggalkan Justin. Akan tetapi, beberapa langkah malah terhenti saat berpapasan oleh Justin yang juga ikut berhenti.
"Loh kok sendiri, di mana maduku? Apakah kau meninggalkannya? Kok bisa? Bukannya tadi---"
"Sayang, aduh ... Maaf ya, aku kelamaan. Tadi aku ke kamar mandi dulu, soalnya kebelit pipis," pekik Dinda dengan jarak 3 meter di belakang Ernest.
Mendengar panggilan itu, membuat Moana terkejut bukan main. Panggilan yang biasa dia berikan sama suaminya, sekarang malah di berikan oleh orang lain.
Namun, Moana tidak ingin terlihat lemah. Dia harus membuktikan sama Erenst kalau apa yang akan Ernest lakukan tidak sedikit pun menggetarkannya. Gimana pun Moana harus terlihat senang, walau hatinya hancur.
Hanya itu satu-satunya yang bisa Moana lakukan, agar apa yang Ernest lakukan kembali padanya sendiri. Dengan begitu yang akan menyerah bukanlah Moana, tetapi Ernest sendiri.
.......
.......
__ADS_1
.......
...***💜💜>Bersambung