Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Keceplosan Justin


__ADS_3

Ingin rasanya Felix mengungkap siapa Thoms dan seberapa bahaya dia bagi keluarga Ernest. Sehingga, mereka bisa berhati-hati dalam bertindak agar tidak menimbulkan korban lainnya.


Haya saja, Felix tidak bisa mengungkapkan semuanya karena sudah ada ancaman yang bisa membahayakan nyawa sang istri. Mungkin belum saatnya Felix mengungkapkan tentang Thoms, tetapi dia harus membicarakan semua ini kepada Moana.


Tidak mungkin jika Moana belum mengetahu tentang pekerjaan Thoms, sebab dia adalah adik kandungnya. Baru juga Felix memikirkan semua itu, tiba-tiba saja mereka semua datang ke rumah sakit demi menjenguk Felix.


Namun, satu yang berhasil menarik perhatian Felix yaitu, kehadiran Justin. Walaupun wajahnya terlihat marah, murung, juga terpaksa tetap saja Felix merasa senang. Sang anak datang untuk melihat kondisi Felix saat ini.


Dinda segera melepaskan peukan Felix dan menghapus semua air mata diwajah agar mereka semua tidak merasa curiga. Begitu juga Felix yang berusaha terlihat baik-baik saja, padahal hatinya ingin sekali berbicara empat mata kepada Moana perihal Thoms.


"Loh, kalian kenapa kok pada nangis? Apa yang terjadi sama kamu, Fel?" tanya Elice cemas sbil berjalan mendekati Felix yang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri.


"Aku baik-baik aja, Tan---"


"Bunda!" sahut Elice mempertegas panggilan yang harus Felix ucapkan untuknya.


"Tapi, Tan ...."


"Semenjak kau bersama anakku, bahkan menjadi sahabat juga orang yang membantu di dalam kesuksesannya. Aku dan suamiku sudah menganggap kau sebagai anak kedua kami, jadi jangan lagi panggil kami dengan sebutan Om dan Tante, tapi---"


"Si Mbah!" sambung Justin sambil duduk di sofa panjang dalam keadaan cuek.


Semua orang langsung menoleh ke arah Justin. Rasa kesal yang terukir diwajah Elice membuat mereka menahan tawa. Berani sekali Justin memotong percakapan Elice yang terlihat serius menjadi candaan agar tidak membuat suasana menjadi tegang.


"Justin!" ucap Elice penuh rasa kesal.


"Apa, Simbah?" tanya Justin, lagi-lagi membuat semua tertawa.


"Hyaakk! Dasar cucu menyebalkan, aku ini Omamu bukan Simbah. Kau kira aku orang desa apa!" pekik Elice.

__ADS_1


"Mau kota ataupun desa semua sama aja, yang membedakan itu hanya cara menyebutkan panggilan nenek aja. Sudah paham, Simbah?" sahut Sakha memecahkan suasana.


Mereka semua menertawaakan Elice, kecuali Justin. Elice hanya bisa mendengusnkesal lantaran sang suami juga malah ikut untuk meledeknya. Dibalik canta tawa mereka, Justin sesekali melirik ke arah Felix yang sudah mengetahui tetap memilih berpura-pura tidak tahu.


Felix merasa terhibur akan kedatanga mereka ke sini, apa lagi sang anak selalu mencuri pandang dalam keadaan marah. Maklum saja, semarah apapun Justin tetap saja tidak bisa membohongi kalau rasa sayang itu melekat di hatinya.


"Aishh, udah cukup ya, bercandanya. Ayah juga, malah ikut-ikut Justin. Lihat tuh, belahan hatinya langsung murung." Moana memberikan kode lirikan mata kepada Sakha untuk melihat reaksi wajah sang istri.


"Marah?" tanya Sakha menatap istrinya.


"Pikir aja sendiri!" seru Elice langsung menyerongkan badannya agar tidak melihat wajah Sakha.


"Lah, kenapa marahnya sama aku? Yang mulai duluan itu Justin, sedangkan aku hanya memberikan sedikit pengertian biar perkataanmu tidak menyinggung siapapun. Jadi, marahlah sama Justin, bukan sama aku," jawab Sakha.


"Mana bisa Bunda marah sama cucunya, liat kegemasan mereka aja udah langsung sejuk lagi hatinya. Beda sama suami dan anak, sekalinya marah udah kaya singa ngamuk!" sahut Ernest berhasil membuat Elice kembali menoleh sambil melototkan matanya.


"Awas jatuh matanya, Oma!" ucap Justin membuat Moana, Felix dan Dinda berusaha menahan tawanya.


"Apa kau bilang, Er---"


Perkataan Elice terhenti saat mendapatkan hadiah kecu*pan bibir sekilas dari suami tercinta. Api yang kian membara langsung padam begitu saja, membuat Elice tidak berkutik akibat rasa malu karena sang suami memperlihatkan adegan cukup menegangkan.


"Upss!" Dinda refleks menutup matanya karena tidak sengaja melihatnya. Sedangkan Felix, mengalihkan wajah setelah menyaksikan adegan sedikit memalukan.


"Hyakk, Ayah!" teriak Ernest langsung berlari menutup mata Justin yang sudah sempat melihat sekilas. Begitu juga Moana, spontans berbalik membelakangi semuanya agar Barra tidak melihat adegan orang dewasa.


"Kalau enggak gitu, Bundamu tidak akan berhenti mengoceh," jawab Sakha tanpa rasa malu.


"Udah enggak marah lagi, 'kan? Jadi, mendingan sekarang kau duduk di sini, jangan marah lagi. Gak baik juga buat tekanan darahmu." Sakha menuntun istrinya untuk duduk di kursi tunggal dekat bamgkar Felix samping Dinda berdiri.

__ADS_1


Elice tidak sanggup berkata apa-apa lagi selain menuruti perintah sang suami, bagaikan sapi yang sudah dicolok hidungnya. Inilah magnet cinta dari Sakha kepada Elice hingga mampu membuatnya tidak berdaya.


Jika cara baik tidak bisa membuat Elice terdiam, maka cara satu-satunya mencium bibir sang istri hanya sekedar menempel guna mengelem bibir agar Elice tidak lagi keterusan mengomel.


"Ckkk, dasar orang tua tidak tahu malu! Bisa-bisanya mempertontonkan adegan gratis pada cucu sendiri. Benar-benar tidak ada akhlak!"


Ernest mendumel tanpa henti mewakilakan sang istri. Ingin rasanya Moana memarahi Sakha, hanya saja dia tidak berhak atas semua itu. Status sebagai menantu membuat Moana tidak bisa semena-mena bersikap, selagi sang suami membelanya tugas Moana hanya diam. Lain cerita jika Ernest tidak membelanya, maka Moana terpaksa harus bernyanyi demi memberikan wejangan lebih baik.


"Isss, Ayah! Lepasin, mata Justin gelap tahu," ucap Justin sambil menarik tangan Ernest.


"Lain kali kalau Justin melihat ada adegan kaya gitu harus tutup mata ya, karena yang dilakukan Opa salah. Justin masih kecil, gak boleh melihat adegan orang dewasa. Oke?"


"Apa yang dikatakan Ayah itu benar, lain kali Justin gak boleh lihat ya," sambung Moana yang sudah kembali menghadap mereka.


"Kalau Justin gak boleh liat adegan orang dewasa, terus kenapa semalam Justin kebangun liat Mommy naik diatas Daddy. Mommy bilang lagi mijit Daddy yang lagi capek, terus Justin tanya lagi kenapa kalau capek Daddy cium Mommy? Kata Daddy kalau udah suami-istri boleh cium soalnya itu tanda cinta. Nah, sekarang kenapa Opa cium Oma gak boleh, 'kan itu juga sama tanda cinta Opa sama Oma. Gimana sih!"


Semua orang melototkan matanya ketika mendengar celotehan Justin yang sangat mengejutkan. Mereka tidak menyangka ternyata diam-diam Ernest dan Moana malah lebih parah karena mempertontonkan live secara gratis pada sang anak.


Mata Moana melirik ke arah Ernest, mereka berdua terlihat tidak bisa berkutik sama sekali. Padahal, tadi pagi mereka sudah mewanti-wanti agar Justin tidak membicara soal semalam kepada semuanya. Dikarenakan semua itu terjadi akibat ketidak kesengajaan ranjang yang bergoyang.


Aduh, mam*pus dah, bisa-bisa kena sidang Bunda sama Ayah ini, mah! Lagian Justin kenapa keceplosan sih, 'kan udah dibilangin jangan kasih tahu kejadian semalam. Malah dibeberin semuanya, astaga!


Huhhh, kalau kaya gini efeknya mending aku gak bolehin Justin tidur lagi di kamarku. Dari pada kaya semalam ya, 'kan? Bisa-bisa setiap malam kami gak jadi olah raga, cuman karena dia bangun. Nasib!


Ernest berbicara didalam hati ketika melihat tatapan Sakha dan Elice yang begitu menusuk. Setelah ini, Ernest pasti akan menghadapi sidang kemarahan kedua orang tuanya.


.......


.......

__ADS_1


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2