
"Gimana? Sekarang udah percaya? Betapa terpukulnya istrimu itu atas kejadian yang terjadi pada kalian!"
Sakha menoleh ke arah anaknya, di mana Ernest pun menatapnya dengan tatapan yang di buat seolah-olah Ernest sudah tidak peduli lagi atas apa yang terjadi sama Moana.
"Biasa aja, lagi pula Ayah sama Bunda kenapa percaya banget sih sama dia? Dia itu udah menipu kita semua loh, bahkan kalau kita bawa semua ini ke jalur hukum. Maka, mereka semua bisa langsung di tangkap tanpa basa-basi!"
"Cukup, Ernest. Ayah tidak mau membahasnya lagi. Kamu boleh kecewa sama semua kejadian itu, tetapi jangan sampai melupakan tentang cintamu kepada istri dan juga anakmu!"
"Tidak, Ayah. Dia bukan anakku! Dia adalah anak dari seorang peng*ecut yang telah menghancurkan hidupku!"
"Kau boleh marah dengan orang tersebut, tapi tidak dengan Justin. Dia tidak tahu apa-apa tentang semua ini, dia adalah korban sebenarnya dari semua kejadian ini. Mungkin, jika dia sudah mengerti. Dia tidak akan pernah mau menganggap kalian sebagai Ayahnya!"
"Yayaya, terserah Ayah aja! Intinya aku tidak mau menganggap dia sebagai anakku, dan aku akan segera mengurus semua perceraian ini!"
"Sekali saja kau melangkah menuju ke pengadilan, maka aku selaku kepala rumah tangga dan juga Ayah untukmu, akan mencoret namamu di dalam kartu keluarga! Dan aku tidak akan pernah menganggapmu lagi sebagai anakku. Aku serta istriku akan hidup bahagia bersama anakku Moana, serta cucu kesayangan kami!"
Setelah mendengar penjelasan dari Sakha, berhasil membungkam mulut anaknya. Ernest tidak bisa berkutik, saat ancaman Ayahnya bukanlah ancaman main-main untuknya. Sehingga, Ernest lebih memilih ubtuk menyudahi semua ini dari pada dia harus kembali berdebat dengan Sakha dan itu bisa kembali membahayakan bagi kesehatannya.
"Udah enggak usah ngomel-ngomel, lebih baik Ayah istirahat aja. Aku harus pergi dulu, ada urusan. Ayah banyakin istirahat, nanti setelah urusan selesai aku akan segera kembali ke sini!" titah Ernest, membantu Sakha untuk merebahkan tubuhnya.
__ADS_1
Sakha hanya menganggukan kepalanya perlahan, pertanda bila dia telah mengizinkan Ernest untuk menyelesaikan tugasnya dan kembali ke rumah sakit.
Ernest perlahan pergi meninggalkan ruangan Ayahnya dan melewatu ruangan Moana. Di mana dia hanya mengintip dari pintu yang terdapat kaca kecil agar bisa melihat ke arah dalam kamar.
Di dalam sana Elice sedang menyuapini Moana dengan penuh kasih sayang. Akan tetapi, Ernest merasa heran kenapa bisa Moana bersikap secuek itu sama kedua mertuanya. Sementara selama ini sika Moana terhadap mertuanya sangatlah ramah tamah penuh senyuman.
Namun, kembali lagi. Ernest tidak peduli, sandiwara apa yang lagi Moana jalani saat ini. Baginya semua udah cukup, dia tidak lagi ingin ketipu oleh permainan cantik Moana dan Felix.
Perlahan Ernest mulai berjalan meninggalkan ruangan Moana dalam keadaan hati yang masih memikirkan tentangnya. Rasa khawatir dan juga kasian sebenarnya melekat di hatinya, hanya saja Ernest terlalu mementingkan egonya.
Langkah kaki Ernest berjalan menuju ke arah lift, entah mengapa tangannya malaj memencet lantai 3. Di mana lantai tersebut adalah tempat Justin berada.
Tidak tahu, Ernest sadar atau tidak. Dia malah berjalan ke arah depan ruangan Justin. Sampai dia pun terkejut dengan sendirinya karena sudah berdiri sambil menatap ke jendela kaca yang sangat besar. Di situ Justin tertidur dalam keadaan baru saja alat-alat yang beberapa hari lalu menyiksanya, kini sedang di copot oleh suster dan dokter secara perlahan.
Suara lirih Justin ketika memanggil namanya dan meminta untuk di peluk, masih terngiang-ngiang di telinganya. Sehingga mata Ernest mulai berkaca-kaca. Andaikan Justin adalah anaknya, mungkin saja saat ini Ernest akan selalu ada di sampingnya selama 24 jam.
"Aku tahu, kamu tidak bersalah atas semua kejadian ini. Akan tetapi, jika tidak ada dirimu pasti kehidupanku akan jauh lebih bahagia lagi tanpa harus menikahi Mommymu. Mungkin, sekarang aku sudah sangat sukses, karena menduduki peringkat ke 1 orang terkaya di dunia ini. Namun, hadirnya dirimu malah membuat impianku menjadi hancur sia-sia."
"Seakan-akan hadirnya dirimu itu seperti membawa petaka bagi kehidupanku. Jika kamu memang anakku, darah dagingku sendiri. Maka, aku masih bisa terima semua inpian yang sudah kandas itu. Sayangnya, kamu bukanlah anakku, sehingga aku sangat menyesali langkah yang sudah aku ambil ini. Seharusnya aku melakukan tes terlebih dahulu, barulah aku bisa mengambil keputusan untuk menikahi Mommymu itu!"
__ADS_1
"Di saat aku sudah mulai menerima keadaan, dan juga telah menyayangiku serta Mommymu. Kenapa kenyataan itu harus terjadi? Kenapa tidak di sembunyikan saja sampai aku tada, agar aku tidak merasakan kekecewaan sedalam ini kepada kalian!"
Ernest berbicara di dalam hatinya sambil terus menatap ke arah Justin. Air matanya tanpa sadar menetes perlahan, membuat Ernest segera menghapusnya. Dan kembali bersikap biasa saja, tanpa memberikan ekspresi kesedihan di dalam hatinya.
Ketika Ernest ingin pergi dari sana, tiba-tiba langkah kakinya di hentikan oleh seorang dokter yang sudah keluar dari ruangan Justin. Ernest segera berbalik menatap dokter tersebut sambil menunjukkan wajah datarnya.
"Tuan mau ke mana? Apa Tuan tidak jadi untuk menengokinya? Kenapa? Apa Tuan masih marah dengan semua kenyataan ini? Jika memang benar, mohon maaf sekali, Tuan. Saran saya, Tuan harus bisa mengesampingkan Ego Tuan untuk anak sekecil Justin yang tidak tahu apa-apa. Sebenarnya di sini yang korban bukan hanya Tuan sendiri, tapi semuanya. Kalau memang Tuan ingin membandingkan di antara kalian siapa yang jauh lebih sakit atas kenyataan ini. Orangnya yang jelas bukan, Tuan. Melainkan Justin, dialah korban sesungguhnya!"
"Di mana dia hadir di saat yang tidak tepat, tapi dia harus di benci oleh orang yang selama ini dia ketahui sebagai Ayah kandungnya sendiri. Apa Tuan tidak kasihan, seandainya dia tahu semua ini apakah hatinya tidak akan lebih hancur dari Tuan? Sebelum adanya dia saja, kehadirannya sudah tidak diinginkan oleh Ayah kandungnya. Akan tetapi, saat dia mendapatkan seorang Ayah, hidupnya tidak seberuntung anak lainnya."
"Asalkan Tuan, tahu saja. Semenjak Justin membuka matanya atau pun mengigau, dia selalu menyebut nama Tuan. Semua itu karena dia sangat menyayangi Tuan dan dia begitu merindukan Tuan untuk ada di sampingnya. Apakah Tuan tidak tega, melihat anak sekecil itu yang tidak tahu apa-apa ikut menjadi korban atas kebencian Tuan terhadap kedua orang tuanga? Tidakkah, ada sedikit saja niat untuk Tuan melihatnya dari jarak dekat?"
Pertanyaan dari sang dokter semakin membuat hati Ernest menjadi dilema. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi mengatakannya, jantungnya seakan berdebar sangat cepat. Perasaannya mulai tidak karuan. Sebenarnya dia juga kangen dengan kehadiran Justin, tapi rasa kecewa atas kenyataan ini yang membuat Ernest merasa berat.
Akankah, Ernest bisa melawan dirinya sendiri demi menemui anak yang selama ini telah dia perjuangkan untuk menarik perhatian dan juga kasih sayangnya. Ataukah dia harus meninggalkannya tanpa harus melihatnya sekali saja.
.......
.......
__ADS_1
.......
...***💜💜>Bersambung