
Naya terkejut atas perlakuan sang ayah yang tiba-tiba saja langsung menarik tangan anaknya tanpa mengatakan sesuatu. Dari jarak yang sangat dekat Naya bisa mencium aroma tidak sedap dari mulut sang ayah. Aroma tersebut merupakan ciri khas orang yang habis meminum minuman keras dengan kadar alkohol sedang.
Naya langsung berusaha untuk menghindar, tetapi sang ayah malah menahan tubuh Naya agar tidak menjauh darinya. Naya yang masih trauma akan kejadian yang dulu hampir terjadi, segera memukul dada sang ayah begitu keras.
"Lepasin, Ayah. Lepas! Naya mau pulang sekarang, Naya tidak mau lagi ketemu ayah. Lepas!"
Naya berteriak sekencang mungkin sampai pita suaranya sedikit menghilang. Tangisan hingga pemberontakan yang Naya berikan pada sang ayah, tidak mampu membuat Naya terlepas. Tubuh sang ayang mengunci semua akses gerak Naya agar dia tidak bisa melarikan diri darinya.
Air mata Naya terus mengalir akibat rasa takut yang semakin kuat. Tubuh Naya sudah bergetar hebat, tetapi tidak membuat sang ayah gentar. Dia malah semakin mengeratkan tubuh Naya dengan cara disandarkan ke tiang. Tidak ada lagi celah untuk Naya pergi, dia hanya bisa menangis meminta dilepaskan yang tidak didengar olehnya.
"Ssstt ...." Jari telunjuk kanan sang ayah berada tepat di bibir Naya. Wajah sang ayah yang sayu semakin membuat Naya ketakutan, dia tidak ingin sesuatu terjadi pada tubuhnya yang sudah dia jaga selama 23 tahun. "Jangan berisik anakku sayang, tenang aja. Ayah tidak akan melukaimu seperti biasa, asalkan kamu mau melayani ayah seperti ibumu dulu. Gimana?"
Naya langsung menggelengkan kepalanya ketika tangan sang ayah mengusap wajah sang anak, mulai dari rambut turun ke pipi dan bermain di leher yang cukup sensitif bagi Naya.
"Tidak, lepaskan tangan menjijikan itu. Aku tidak sudi disentuh denganmu! Selama ibu tidak ada, hidupmu aku yang nanggung semuanya. Jika bukan karena aku, dari dulu kau sudah ma*ti!"
"Harusnya kau bersyukur karwna hidupmu semuanya masih ada yang mau nanggung. Itu artinya kau berhutang budi dengan diriku, jadi lepaskan semua ini! Jika tidak, jangan salahkan aku kalau malam ini adalah malam terakhir bagimu untuk bisa melihat indahnya dunia!"
Ancaman yang Naya berikan pada sang ayah malah mendapatkan tanggapan menyakitkan. Di mana sang ayah tertawa cukup puas sambil terus mencekram tangan Naya di atas dan satunya lagi terus mengusap wajah Naya tanpa sedikit rasa takut.
"Haha ... Sudah mulai berani kau mengancamku, hem?" Sang ayah mencekram kuat rahang Naha hingga membuatnya mendongak ke ke atas. "Masih berani, mengancamku, hahh!"
Suara bentakkan itu tidak membuat Naya takut, dia malah membuang air liurnya ke samping sambil mengatakan kata-kata yang cukup kasar.
__ADS_1
"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah takut denganmu! Hidup masih suka numpang denganku aja belagu ingin mengancamku. Cihh ... Dasar peng*ecut!"
Pertama kali seorang Naya berubah menjadi sosok yang berbeda. Sang ayah tiri juga terkejut saat melihat semakin ke sini Naya semakin bersikap diluar kendalinya.
"Kenapa? Terkejut melihat sisi lain yang ada di dalam diriku, iya? Ingatlah, Tuan! Sebaik apapun seseorang, selemah apapun seseorang dia akan tetap melawan orang yang tidak tahu diri sepertimu!"
"Jika sekali saja kau menyentuh tubuhku seperti tadi, jangan salahkan kalau Naya yang kau kenal bisa berubah menjadi monster yang sangat menyeramkan!"
Melihat sang ayah terdiam saat mendengar ucapan Naya, seketika Naya memiliki celah darinya yang tidak akan dia sia-siakan. Naya sengajak menginjakan kaki sang ayah begitu keras, setelah lepas Naya langsung berlari penuh ketakutan.
Sang ayah melihat anaknya kabur begitu saja segera mengejarnya walaupun dia harus tertatih-tatih untuk berlari. Naya yang terus memperhatikan kebelakang membuat dia tidak fokus, hingga terjatuh akibat kesendung kakinya sendiri.
"Aakhhh ... Si*al! Kenapa harus jatuh sih, pokoknya aku harus segera kabur dari sini. Aku tidak mau kejadian itu terulang kembali. Sudah cukup selama ini aku selalu nurut dan berusaha baik dengan dia, tetapi sekarang tidak lagi!"
"Maafkan Naya, Bu. Naya tidak bisa menjaga amanah Ibu untuk mengurus Ayah. Naya sudah tidak kuat lagi, Naya tidak mau lagi berurusan dengan orang gila itu. Sekali lagi maafin Naya, Bu. Maaf!"
"Bu, tolong Naya. Naya mohon berikan Naya perlindungan, Naya tidak mau menyerahkan hidup Naya pada pria gila itu. Mada depan nanya masih sangat panjang, Bu. Naya tidak mau karena dia masa depan Naya hancur! Naya mohon, kasih Naya petunjuk, Naya takut banget sama ayah, Bu. Naya takut!"
Naya menangis sesekali melihat ke arah belakang yang tidak ada siapa-siapa, sepertinya sang ayah tertinggal dibelakang akibat kaki sebelah kanan diinjak oleh Naya.
Namun, sayangnya. Selang beberapa detik, Naya berhasil di tangkap oleh ayahnya dan di geret sekeras mungkin tanpa menghiraukan kaki Naya yang sangat sakit akibat keseleo.
"Aaa ... Mau ke mana kamu, hahh? Jangan coba-coba kabur dari Ayah ya, Ayah ini tidak sebod*doh yang kamu kira. Pokoknya malam ini kita harus bersenang-senang, anggap saja ini tanda terima kasih dari Ayah karena kamu sudah memberikan Ayah uang hahah ...."
__ADS_1
"Akhhh ... Sa-sakit, Ayah. Sakit! Lepasin tangan Naya, Ayah. Naya tidak mau melakukan semua itu, karena ayah bukan suami Naya. Sampai kapanpun Naya akan pertahankan semua ini demi calon suami Naya nantinya. Naya mohon, lepasin tangan Naya!"
"Berapapun Ayah minta, Naya akan kabulkan asalkan jangan nodai Naya seperti apa yang ada di otak Ayah. Saat ini Ayah lagi dalam keadaan mabuk, jadi Ayah dalam keadaan tidak sadar. Ingat, Ayah. Mau bagaimana pun Naya tetap anak Ayah, bukan pemuas atau istri Ayah sendiri!"
"Kalau Ayah tidak mau melepaskan Naya, Naya akan teriak sekencang mungkin supaya orang-orang dtaang menolong Naya. Ayah mau masuk penjara, hahh? Ayah mau!"
Sang ayah yang sudah geregetan sama sikap Naya, tetap tidak peduli. Sekencang appun Naya berteriak meminta tolong, semakin membuat sang ayah malah tertawa. Tidak ada satu orang pun yang berani melewati tempat tersebut setelah maghrib. Mungkin jika siang ada walau pun tidak banyak, sebab tempat tersebut sering terjadi tindak kekerasan untuk memperkaos wanita demi memuaskan hawa napsunya.
"Tolong ... Tolong! Siapapun itu, jangn biarkan pria gila ini menyentuh tubuhku. Aku mohon bantu aku, aku tidak mau melakukannya. Aku mohon!"
Teriakan Naya memang tidak berguna apapun. Dia hanya menghabiskan suaranya di tempat yang sepi. Tidak ada jawaban dari siapa-siapa, Naya kembali berusaha untuk memberontak tetap saja hasilnya nihil.
Seretan yang dilakukan pada Naya tidak membuat sang ayah sadar, bahwa kulit kaki Naya sudah kegesek ke aspal hingga membuatnya menangis penuh kesakitan. Bagaikan sebuah karung yang di seret karena bebannya cukup berat.
"Sudah cukup Naya sabar sama Ayah. Kali ini tidak lagi, lepasin Naya, Ayah. Lepasin! Kalau sampai Ayah macam-macam, Naya akan membu*nuh Ayah dengan tangan Naya sendiri!"
Berulang kali Naya mengatakan semu itu, tidak sedikit saja di gubris olehnya. Sang ayah malah melemparkan Naya ke dalam gudang kosong bekas penyimpanan yang sudah tidak terpakai.
Naya yang tidak berdaya hanya bisa memundurkan bokongnya lantaran kakinya sebelah kanan sudah mati rasa akibat keseleo dan terluka karena gesekan aspal.
.......
.......
__ADS_1
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...