Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Drama Menyayat Hati


__ADS_3

"Omi angan angis ya, Omi enang aja. Alo Edi ndak cayang cama Omi, acih ada Ustin yang cayang anget cama Omi. Ustin anji, Ustin ndak atan uat Omi cedih-cedih teyus. Omi halus telcenyum bial Omi ahagia, Ustin tan anak aik. Dadi, Ustin atan jagain Omi dali olang-olang yang atan uat Omi angis."


"Omi cenyum agi ya, bial Omi celalu antik. Anti alo Edi ndak cayang agi cama Ustin, Ustin atan uat Edi cayang agi cama ustin. Dadi, Omi ndak boyeh angis-angis ya. Omi antu Ustin aja cali cala uwat ikin Edi bial cayang agi cama Ustin. Oteh?"


Moana menganggukan kepalanya sambil tersenyum, air matanya terus mengalir bukan berarti dia sangat sedih atas perkataan anaknya. Melainkan Moana tidak akan terbayang, betapa sakitnya Justin ketika suatu saat nanti dia tahu tentang cerita jati dirinya sendiri.


Bagaimana pun nantinya, Moana akan tetap menceritakan semua ini pada Justin. Akan tetapi, di saat waktunya sudah tepat. Di mana usia Justin sudah mulai mengerti, dan juga mentalnya yang cukup kuat. Maka, di situ Moana akan menceritakan siapa Ayah kandung Justin yang sebenarnya.


"Mommy janji sayang, Mommy akan bantu Justin untuk bisa mendapatkan kasih sayang dari Daddy. Apa pun Mommy lakukan, asalkan Justin bahagia. Kalau pun Daddy tetap bersikap cuek, Justin cukup ingat jika ada Mommy yang akan selalu ada di samping Justin. Jadi, Justin tidak boleh marah atau pun sedih. Oke?"


Justin menganggukan kepalanya antusias, lalu memeluk Moana dengan begitu erat sambil mengucapkan kalimat yang sangat membuat hati Moana bahagia.


"Ustin cayang anget cama Omi, Ustin anji Ustin ndak atan ingalin Omi celamanya. Ustin ndak apa-apa ndak di cayang Edi, acal Omi celalu cayang Ustin teyus ya!"


"Pasti, Sayang. Tanpa Justin minta, semua kasih sayang yang ada di hati akan Mommy berikan untuk Justin. Bagi Mommy, Justin adalah super hero buat Mommy. Jadi, super hero harus kuat dan tidak boleh cengeng. Setuju?"


"Yeyy, Ustin dadi cupel helo Omi. Belalti Ustin aya cepidelmen ya Omi, anti Ustin bica telbang ake tali. Cling, cling, cling udah aya cicak di dinding haha ...."

__ADS_1


Moana tertawa ketika melihat kelucuan di wajah Justin. Memang hanya Justinlah yang saat ini menjadi sumber kekuatan bagi Moana, dialah yang selalu berhasil membuatnya tersenyum dengan tingkah randomnya dan juga kegemasan di usianya yang masih terbilang sangat kecil.


Mereka tertawa bersama sampai bercanda satu sama lain, hingga tanpa di sadari mereka berhasil membuat seseorang yang ada di balik pintu sampai ikut tersenyum di sela tangisannya.


"Entah, aku harus bahagia atau sedih melihat keadaan mereka saat ini. Di satu sisi anak kecil yang selama ini memanggilku Oma, ternyata bukanlah anak kandung dari anakku. Di sisi lainnya, anak itu telah berhasil membuatku mengerti apa bila tidak ada perbedaan sedikit pun antara cucu kandung dan juga cucu sambung. Semua sama saja, asalkan kita bisa berpikir jernih, karena yang membedakannya hanyalah sebuah status bukan kasih sayang yang sesungguhnya."


"Aku tidak keberatan kehilangan Ernest, ketika dia terus melakukan kesalahan demi mementingkn egonya sendiri. Hanya saja, aku malah tidak rela kehilangan Justin yang meskipun bukan berasal dari keturunanku, karena rasa sayangku padanya tidak bisa di ukur dengan apa pun. Intinya, aku tidak mau kehilangan mereka!"


Seseorang itu berkata di dalam hatinya sambil terus melihat cucu serta menantunya yang bercanda satu sama lain dalam keadaan bahagia. Seakan-akan dia tidak ingin, melihat seyuman itu berubah menjadi kesedihan yang kelak akan membuat mental anak seusia Justin hancur tidak tersisa.


Orang yang ada di balik pintu, adalah Elice. Niatnya awal ingin mengantarkan makan siang untuk mereka berdua, tapi malah harus menyaksikan drama yang cukup menyayat hatinya.


Justin hanya menganggukan kepalanya, dan tidak lupa menyuruh Moana agar secepatnya kembali ke kamarnya, lantaran Justin takut sendirian di dalam kamarnya. Moana mengangguk perlahan, dia pun bergegas untuk jalan menuju arah pintu.


Elice yang menyadari itu, segera bergegas untuk berbalik dan ingin kembali berjalan meninggalkan kamar Justin, tiba-tiba suara Moana terdengar jelas di telinganya.


"Kenapa Bunda tidak masuk?" tanya Moana, datar. Bagi Moana, hanya Justinlah yang pantas mendapatkan sikap aslinya. Akan tetapi, di depan Elice, Sakha atau pun Ernest maka Moana akan kembali berubah menjadi datar.

__ADS_1


Perlahan Elice berbalik sambil menunjukkan sederetan gigi putihnya yang masih terlihat bagus dan juga utuh, "Hehe, ma-maaf ya kalau Bunda ganggu kalian. Tadinya Bunda mau nganter makan siang untuk kalian, tapi saat melihat kalian bercanda Bunda sedikit ragu. Takut ganggu kebahagiaan kalian."


"Tenang aja, Bunda tidak ganggu. Kalau mau masuk, masuk aja. Ini rumah Bunda jadi tidak perlu bersikap seperti itu. Kalau pun ada itu harusnya aku dan Justin, karena kami hanya menumpang di sini!"


Jawaban yang Moana berikan kepada Elice, tiba-tiba hampir membuat detak jantungnya berhenti. Dia tidak menyangka sehancur itukah hati Moana, sampai-sampai rumah yang seharusnya juga rumahnya telah di anggap sebagai kontrakan untuknya.


"Maaf, bila ada kata-kata yang kurang enak Bunda dengar. Bunda tidak perlu menangisi nasibku, aku sudah biasa seperti ini. Bunda tenang saja, jikalau pun nanti aku dan Ernest berpisah. Bunda dan Ayah tetap akan menjadi orang tuaku sampai kapan pun!"


Lagi-lagi kenyataan yang tidak harus Elice dengar, kini kembali dia dengar. Di usianya yang tidak lagi muda, seharusnya Elice bisa merasakan hidup bahagia bersama anak, cucu serta menantunya.


Namun, kali ini Elice malah harus berpikir keras bagaimana caranya membalikan keutuhan rumah tangga anak serta menantunya agar kembali menjadi keluarga yang bahagia dan juga harmonis.


.......


.......


.......

__ADS_1


...***💜💜>Bersambung


__ADS_2