Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Anak Emas


__ADS_3

Bayangan akan masa muda Ernest untuk bisa memiliki keluarga cemara perlahan telah terwujud, meskipun dia harus melewati perjalan yang cukup panjang di dalam bahtera rumah tangganya. Kini, rasa sakit beserta kekecewaan yang pernah timbul telah menghilang seiring berjalannya waktu. Sehingga menghasilkan suasana baru dengan adanya cinta kasih, bisa di pastikan sampai kapan pun rumah tangga Ernest dan Moana akan tetap langgengn


Sudah banyak rintangan juga ujian yang mereka lalui bersama, sampai akhirnya rumah tangga yang dulu di awali oleh keterpaksaan sekarang telah berubah menjadi keluarga yang penuh cinta kasih. Semua proses asam garam kehidupan pernikahan sudah mereka jalani, dan sudah waktunya mereka bahagia seperti sekarang.


Hanya saja, ujian mereka tidak selesai sampai di sini. Masih banyak ujian lainnya yang sudah mendaftar di depan untuk mereka lalui. Bisa di artikan sebagai pelajaran hidup, bahwasanya tidak semua yang terlihat mulus tetap mulus dan yang terlihat kusut tidak selamanya kusut.


Tanpa di sadari air mata Ernest terjatuh tepat saat Justin melihatnya, Ernest segera mengalihkan tatapannya menjadi menunduk sambil melanjutkan makannya. Tidak lupa sesekali Ernest menghapus air matanya agar tidak membuat semuanya menjadi panik.


"Daddy?" panggil Justin sangat lembut.


"Akh, ya. Apa, Sayang? Kenapa? Mau nambah lagi makannya, iya?" tanya Ernest mengalihkan Justin, sesekali menyendot lendir di dalam hidungnya akibat menangis.


Moana hanya sesekali melihat Justin dan Ernest, lalu kembali fokus mengurus Barra yang emosinya sedikit susah dikontrol ketika dia terus meminta untuk makan seorang diri.


"Justin udah kenyang, Dad. Ini masih ada banyak, tapi Justin bingung. Kenapa daddy nangis? Apa daddy sedih karena enggak ada oma sama opa? Atau daddy enggak bahagia sama keberadaan kita?"


Pertanyaan Justin langsung membuat kedua tangan Ernest melambai cepat dengan memberikan kode kalau apa yang di katakan Justin tidaklah benar.


"Kamu nangis?" tanya Moana menatap suaminya sambil menyuapini Barra yang sudah mulai bisa di kendalikan.


"E-enggak kok, Justin salah paham. A-aku tidak nang---"

__ADS_1


"Bohong dosa, Dad. Jujur saja, orang tadi aku lihat daddy nangis, kalau enggak percaya lihat aja. Itu ada air mata daddy di meja, 'kan?"


Justin menunjuk ke arah 2 tetes air mata yang masih setia diposisinya. Mata Moana mengikuti ke mana arah jari Justin, dan Ernest langsung menghapusnya dengan cepat.


"Akhh, i-ini mah air mi-minum tumpah palingan bukan air mata. Justin ini bikin mommy panik, orang daddy gapapa kok. Salah lihat mungkin Justin, ya 'kan?"


Gelengan kepala Justin semakin membuat Moana bingung, sebenarnya apa yang terjadi pda suaminya sehingga dia bisa menangis saat-saat makan seperti sekarang.


Kecurigaan Moana semakin kuat ketika melihat gelas Ernest jauh dari tempat air mata terjatuh, jadi tidak mungkin kalau itu air minum. Bahkan, air minum Ernest saja masih utuh tanpa di sentuh sedikit pun. Dari sini kecurigaan Moana terhadap suaminya benar-benar tidak bisa diganggu gugat.


"Aku lebih percaya dengan Justin, lihat saja gelasmu masih utuh dan berada di tempatnya. Jadi, mau mengelak apa lagi, hem?" tanya Moana, lirikan matanya sungguh menakutkan.


"Daddy tidak senang ya makan sama Justin, makannya daddy nangis? Apa daddy mau makan sama mommy dan Barra doang? Kalau gitu Justin makan sambil nonton tv aja deh, biar daddy tidak nangis lagi," ucap Justin, kedua tangannya langsung mengangkat piringnya secara hati-hati.


"Jangan, pergi! Justin di sini aja ya, daddy akui tadi daddy sempat nangis karena daddy senang bisa kumpul sama kalian semua di sini. Daddy tidak terbayang sudah lama daddy pisah dari kalian yang rasanya sepi juga kesepian, tapi sekarang tidak lagi. Daddy bahagia sekali kalian udah mau nemenin daddy dan bisa menerima keadaan daddy yang lumpuh ini. Terima kasih, daddy sayang kalian semua."


Lagi-lagi mata Ernest mulai berkaca-kaca, dia tidak bisa mengapreasikan kebahagiaan ini dengan apapun. Dia hanya bisa meneteskan air mata karena hanya itu yang bisa di lakukan sebagai rasa syukur atas apa yang sudah Tuhan berikan padanya.


"Dad, jangan bicara seperti itu lagi. Daddy tidak lumpuh, tapi Tuhan baik sama daddy karena daddy kebanyakan kerja lupa sama istirahat. Jadi, Tuhan kasih semua ini supaya daddy bisa istirahat. Kalau nanti sudah cukup pasti daddy bisa jalan lagi, iya 'kan, Mom?"


Justin menoleh ke arah Moana yang tersenyum sambil mengusap kepalanya. Betapa bangganya Moana saat dia memiliki anak emas seperti Justin. Walaupun usianya masih sangat kecil, tapi Justin begitu ngerti jika di kasih tahu. Semua ini tidak lepas dari campur tangan Moana yang berusaha memberikan pengertian pada anaknya tentang penyakit yang di derita Ernest.

__ADS_1


Moana menganggukan kepala, menyetujui apa yang telah di katakan oleh anaknya dan berkata, "Oh, benar dong. Hem, pinternya anak mommy. Sekarang udah paham ya, apapun yang terjadi sama daddy kita harus terus mensuportnya tidak boleh menjelekkan atau menghakiminya. Setuju?"


"Setuju, Mom. Justin akan selalu menjaga mommy, daddy, juga Barra. Pokoknya kita harus bahagia seperti apa yang selalu Mommy katakan sama Justin. Kita tidak boleh menyakiti orang lain kalau kita tidak mau di sakiti," jawab Justin, menyentuh hati Ernest.


Sungguh, ini di luar dugaan Ernest. Anak yang sempat dia sakiti, bahkan tidak dianggap. Sekarang malah menjadi super hero baginya, terbayang bukan? Baiknya Justin, dia tidak mempermasalahkan tentang kondisi daddynya. Dia malah berusaha menjadi pelindung untuk Ernest, sampai Ernest sendiri berpikir betapa jahatnya dia pada saat itu.


Ini merupakan penyesalan yang tidak akan pernah Ernest lupakan seumur hidup. Ernest berjanji pada dirinya sendiri untuk bersikap adil pada kedua anaknya serta mencintai istrinya sepenuh hati.


Tidak hanya Ernest yang bahagia, Moana sendiri terharu. Ternyata didikannya selama ini tidaklah sia-sia, pelan-pelan Moana mencoba melatih Justin agar tumbuh menjadi pria sejati. Akan tetapi, belum juga dewasa Justin sudah menunjukkan sifat tersebut yang membuat Moana hanya bisa memeluk bangga padanya.


Orang tua mana yang tidak senang, bangga bahkan bahagia ketika memiliki anak seperti Justin. Mungkin, dulu Ernest boleh saja kesal dengan sifat Justin yang terbilang menyebalkan juga kecewa lantaran bukan anak kandungnya. Hanya saja hari ini Justin membuktikan kalau dia bisa berubah menjadi apa yang mereka inginkan, dan tetap berada di jalan yang benar.


Setelah mereka selesai menangis karena bahagia. Mereka kembali meneruskan makan paginya penuh senyuman. Selesai makan Ernest dan anak-anak kembali bermain sebentar sambil menunggu Moana yang lagi memberikan makanan untuk bodyguard yang menjaga mereka sekalian bersih-bersih.


Saat semuanya sudah duduk santai, waktunya mereka berjalan keliling taman di dekat Apartemen untuk menikmati suasana baru. Semua itu Moana lakukan supaya mereka tidak bosan, begitu juga Ernest. Dia bisa menikmati udara segar di luar agar tidak terpacu pada kondisinya yang sekarang tanpa ingin berusaha untuk bisa sembuh.


.......


.......


.......

__ADS_1


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2