
Bugh
Bugh
Bugh
Tangan kecil yang tidak memiliki kekuatan itu memang tidak dapat memukul dengan benar. Dia hanya melimpahkan semua rasa kesal di dalam hati ketika melihat wajah pria yang hampir melenyapkan adiknya.
Meskipun Justin memukuli wajah Thoms tidak memiliki kekuatan yang lebih, tetap saja sudut bibir sang paman robek hingga meninggalkan besar dan noda merah.
Akan tetapi, Thoms tidak menggeser tempatnya dan tetap berdiam diri menerima semua pukulan demi pukulan yang diberikan sang ponakan sebagai hukuman untuknya.
Melihat aksi itu, kedua bodyguard Thoms dari jauh melihat sang atasan disakiti langsung berlari untuk menjauhkan Justin darinya. Hanya saja, Thoms memberikan isyarat kepada mereka supaya tidak ikut campur urusan mereka.
"Papa jahat, Papa tega mau membu*nuh Barra. Apa salah Barra sama Papa. Dia masih kecil loh, kenapa Barra yang ingin Papa bun*uh, kenapa bukan aku saja. Apa Papa udah gak sayang sama kami? Dulu, Papa selalu menyayangi Barra bahkan lebih dari Justin, terus kenapa sekarang Papa berubah jadi jahat? Dendam apa yang Papa katakan tadi, kenapa Papa juga benci sama Opa. Apa salah Opa, Pah? Katakan, Pah. Katakan!"
Justin menangis meraung-raung terus memukuli sang paman dengan asal-asalan yang untungnya tidak sampai mengenai kedua mata Thoms. Rasa sakit di dalam hati membuat pria itu tidak dapat berkutik selin terus menatap wajah Justin tanpa berkedip.
Hanya dengan melihat kondisi Justin sekarang, Thoms dapat merasakan betapa hancurnya sang ponakan ketika mengetahui paman yang begitu menyayangi mereka hampir melenyapkan salah satu dari ponakannya sendiri. Kemarahan yang timbul dari hati anak kecil itu tidak mampu dibayangkan oleh Thoms bagaimana jika kejadian pada saat benar-benar terjadi. Pasti, amarah dan kekecewaan yang dilihatnya akan berubah kebencian teramat mendalam.
Beberapa menit telah berlalu, pukulan Justin mulai melemah membuat Thoms langsung memeluknya begitu erat. Mereka menumpahkan rasa kasih sayang bersama, meskipun dalam suasana yang masih dipenuhi amarah.
__ADS_1
"Maafkan, Papa, Justin. Papa tidak tahu hatus bagaimana lagi menjelaskan pada Justin, kalo yang Papa lakuin itu bukan semata-mata karena Papa tidak sayang sama kalian. Papa sayang banget sama kalian, sayang ... Banget. Cuma, gimana? Dendam Papa sama Opa kalian sangatlah besar, mengalahkan rasa sayang Papa sama kalian."
Justin hanya menangis mendengarkan apa yang Thoms sampaikan. Usianya memang masih sangat kecil, tetapi dia sedikit paham apa yang dikatakan oleh sang paman. Apalagi, dia sudah dinasihati oleh sang mommy secara perlahan hingga anak itu berhasil meredakan emosi dan membiarkan sang paman meneruskan kembali penjelasannya.
"Kamu pasti tahu bagaimana dulu Daddy Ernest membenci kalian karena salah paham? Begitulah, Papa sama Opa. Kami pun salah paham, sekarang Papa dan Opa sudah baikan. Kami juga tidak lagi bertengkar seperti kemarin yang Justin lihat. Dan, satu lagi. Papa janji sama Justin, mulai saat ini Papa akan jadi orang baik, Papa hanya akan jahat apabila keluarga atau orang-orang yang Papa sayangi celaka. Papa janji, Papa janji, Sayang. Maafin Papa, please ... Maafin Papa. Ya, Papa tahu Papa salah. Maka dari itu, maafon Papa, berikan hukuman sesuai apa yang Justin mau. Papa akan lakukan asalkan, kita kembali berteman. Papa gak mau Justin marah, Papa mohon!"
Justin tidak mampu berkata apa-apa karena hatinya sudah begitu kecewa atas semua penjelasan yang Thoms berikan. Kakak mana yang ingin adiknya terluka, pasti tidak akan ada. Sama seperti Justin, meskipun dia masih kecil jiwa seorang kakak melekat jelas di dalam diri untuk menjaga dan melindungi sang adik dari bahaya.
"Papa yang sekarang bukan Papa yang dulu, Justin kecewa sama Papa. Papa sama Ayah sama-sama membuat Justin terluka. Kalian kejam, kalian tidak ngerti perjuangan Mommy untuk melindungi anak-anaknya. Kalau sampai Papa melukai Barra kembali, Papa akan berhadapan dengan Justin. Pokoknya sekarang Justin tidak mau berbicara sama Papa, Justin marah banget sama Papa. Maraahh ...."
Saking tidak tahu harus berbicara apa, Justin mendorong keras sang paman hingga terjatuh ke tanah taman yang ditumbuhi rerumputan hijau. Kemudian, Justin berlari kencang ke arah kamar meninggalkan Thoms.
Pria itu terus memanggil nama sang ponakan, tetapi tidak digubris sama sekali. Sampai akhirnya dia berdiri, lalu berteriak keras menatap langit dengan menendang bahkan menonjok angin yang lewat.
Teriakan itu membuat bodyguard menundukkan pandangan dengan tubuh sedikit bergetar. Mereka sangat takut ketika melihat reaksi Thoms yang sudah seperti ini. Namun, apa daya. Thoms langsung melirik tajam ke arah mereka dan pergi begitu saja.
Di dalam kamar, Justin menangis sambil memeluk guling sambil terus memikirkan setiap perkataan yang Thoms ucapkan padanya. Sebenarnya, Justin ingin memaafkan samg paman. Cuma, entah mengapa rasanya berat sekali ketika mendengar bahwa pamannya akan melenyapkan sang adik yang masih sangat kecil dan tidak tahu apa-apa.
Sementara Thoms. Dia masuk ke kamarnya untuk meluapkan apa yang sudah diperbuat kepada mereka semua terutama sang ponakan.
...🌟🌟🌟🌟🌟...
__ADS_1
Keesokan paginya, semua orang sudah berkumpul di ruang makan kecuali, Thoms. Makanan yang terlihat sederhana, tetapi mewah dan bergizi membuat mereka ingin secepatnya menyantap semua menu yang ada di atas meja.
"Loh, di mana Thoms? Apa jam segini dia belum bangun? Atau memang dia bangunnya selalu siang?" tanya Elice menatap Naya dan Moana secara bergantian, dikarena hanya mereka yang tahu jam tidur Thoms.
"Aku kurang tahu, Bun. Kayanya sih, masih tidur. Setahuku Kakak itu tidur di atas jam 12 malam, tapi walaupun begitu Kakak selalu bangun pagi, kok. Apa jangan-jangan dia kesiangan kali, ya," jawab Moana seperti apa yang diketahui olehnya tentang sang kakak.
"Bisa jadi, Moana. Soalnya dia sering banget tidur malam bahkan sampai gak tidur. Cuma, dia gak pernah yang namanya kesiangan. Aku aja tidur jam 10 bangun jam setengah 7, tapi dia selalu bangun lebih dulu dariku. Itu artinya dia memang selalu on time meskipun, tidur larut malam," sahut Naya meyakinkan mereka semua.
"Daripada kalian saling tebak-tebakan, lebih baik Ernest suruh ke kamar Thoms. Kalau masih tidur biarin aja jangan dibangunin, jika udah bangun suruh ke ruang makan kita makan bareng-bareng," pinta Sakha diangguki oleh semua yang ada di meja makan.
"Ya, udah. Ernest ke kamar Kakak dulu, sebentar." Ernest berdiri dari kursinya, lalu pergi ke arah kamar bawah menuju kamar tamu.
Selepas perginya sang anak, Sakha meminta semuanya untuk langsung mengambil makanannya ke atas piring sambil menunggu kabar dari Ernest. Jika mereka menunggu, takutnya kasihan yang sudah lapar akan terkena penyakit lambung apabila tidak segera di isi.
Di saat semuanya sedang tertawa asyik memakan sarapan mereka sambil melihat kelucuan Barra dan Justin yang saling berebut makanan satu sama lain sebagai candaan. Namun, tiba-tiba terdengar suara teriakan yang sangat menggelegar membuat mereka menyudahi sarapannya dengan wajah terkejut.
.......
.......
.......
__ADS_1
...💜💜>Bersambung<💜💜...