Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Moana Menemui Thoms


__ADS_3

Setelah mendapatkan izin, Moana langsung memeluk Ernest sambil membisikan sesuatu ditelinganya, "Banyak anak buah Kakak yang selalu mengawasi kita, jadi aku tidak bisa memberitahu sekarang. Cuman, aku janji. Setelah aku mendapatkan jawaban yang akurat, aku langsung memberitahukan padamu tentang semuanya. Tunggu aku pulang, oke?"


Ernest mengangukan kepalanya perlahan, lalu Moana melepaskan pelukan kemudian tersenyum penuh arti. Mereka kembali masuk ke dalam rumah untuk menemui yang lain, tidak lupa Moana mengambilkan pasta tersebut untuk suami tercinta juga dirinya sendiri.


Mereka semua memakan pasta sambil menonton film dengan tema komedian yang membuat mereka sesekali tertawa sambil menikmatinya.


...🌟🌟🌟🌟🌟...


Selesai memandikan anak-anak, Moana menitipkan mereka pada sang suami juga kedua mertuanya lantaran dia ingin pergi sebentar menemui kakak tersayang. Sedikit ada perdebatan antara Moana dan Justin, tetapi ketika sudah diberikan penjelasan secara perlahan akhirnya Justin menurut dan tidak lagi marah akibat kepingin ikut bersama Moana.


Moana berpamitan, tidak lupa mencium kening sang anak sambil melambaikan tangan. Walaupun, sedih melihat wajah Justin yang ingin sekali ikut menemui Thoms tetap saja Moana tidak mengizinkan karena semua ini urusan orang dewasa. Kecuali, kalau Moana pergi ke Apartemen untuk sekedar bermain barulah dia akan mengajak keluarga kecilnya tersebut.


Moana pergi bersama bodyguard Thoms menggunakan mobil yang biasa dipakai mereka untuk mengawal Moana juga keluarga kecilnya. Sehingga, Moana tidak menggunakan supir seperti biasa saat pergi ke luar rumah.


Moana duduk tepat di kursi belakang sambil membalas chat sang suami yang terlihat begitu mengkhawatirkan kondisi istri tercinta ketika harus keluar rumah seorang diri. Hanya saja, kembali lagi. Tidak mungkin bodyguard Thoms mencelakakan Moana karena semua itu akan berurusan dengan nyawanya sendiri.


Selama perjalanan kurang lebih 20 menit, tibalah Moana di sebuah Apartemen sang kakak. Moana di sambut oleh kedua bodyguard yang ditugaskan untuk mengawal Moana sampai ke pintu Apartemen Thoms.


Pintu Apartemen terbuka lebar, bersamaan masuknya Moana yang sudah ditunggu oleh kakak tersayang. Moana berjalan ke ruang tengah atas petunjuk dari bodyguarf tersebut untuk menemui Thoms yang saat ini sedang menonton televisi sambil menunggunya.


"Kakak, aku sudah datang," ucap Moana membuat fokus Thoms teralihkan dan langsung berdiri. Thoms berjalan mendekati sang adik, lalu memeluknya sekilas sebagai pelepas kerinduan.


"Tumben kamu datang ke sini, biasanya kamu meminta Kakak main ke rumah jika sedang kangen, hem?" ucap Thoms mengelus pipi Moana sambil tersenyum.


"Memangnya aku gak boleh main ke sini? Kalau begitu, ya, sudah. Aku pulang lagi aj---"


"Jangan dong, ayo, sini duduk!" titah Thoms, menarik lengan Moana untuk duduk bersamanya di sofa panjang.

__ADS_1


Moana duduk dalam keadaan cemberut, membuat Thoms hanya tersenyum. Kemudian dia berdiri, "Kakak ke dapur sebentar, mau ambil minum segar biar kamu gak cemberut mulu. Jangan lupa tadangi bibirnya, takut jatuh, hihi ...."


"Kakak, ishhh!" sahut Moana, kesal. Thoms terkekeh kecil sambil pergi ke arah dapur.


Para bodyguard suadah tidak heran saat melihat Thoms hanya bisa tertawa dengan orang tertentu, seperti Moana dan kedua ponakannya. Selain itu, Thoms tidak akan bisa tertawa bahkan tersenyum meski ada adegan lucu sekalipun.


"Minum dulu biar adem. Udah, jangan marah-marah lagi, ini juga ada buah, makanlah!"


Moana langsung mengambilnya, lalu menyantap dengan rasa kesal yang ditunjukkan pada Thoms. Padahal, Moana begitu demi menetralkan perasaan gelisah yang ada di dalam hati.


Melihat cara makan Moana hanya bisa membuat Thoms tersenyum sambil mengusap kepala sang adik. Sampai akhirnya, satu pertanyaan Thoms keluarkan membuat Moana bingung harus menjawab seperti apa agar tidak menyinggung perasaan Thoms.


"Ada apa, hem? Kamu ke sini sendiri, psti ada sesuatu yang penting untuk dibicarakan padaku, 'kan?"


"Eee, gi-gimana ngomongnya, a-aku---"


"Kenapa? Kamu takut sama kakakmu sendiri?"


Thoms terdiam sejenak, membaca gerak-gerik tubuh sang adik yang terasa aneh. Tidak bisa berbuat apa-apa lagi, Thoms memberikan kode pada semua anak buah yang selalu menjaganya untuk keluar Apartemen dan membiarkan mereka berbicara berdua saja.


Selepas mereka semua pergi, barulah suasana berubah menjadi tegang. Tatapan keduanya berubah menjadi mendalam, Moana kembali menaruh makanan di tangannya. Lalu, duduk berdapan dengan Thoms yang dari tadi hanya terdiam memperhatikan sang adik.


"Melihat dari caramu menatap kakakmu sendiri sepertinya ada yang sedang kamu sembunyikan. Ada apa, hem? Katakan!"


"Aku pengen kakak jawab pertanyaanku dengan jujur, bisa?"


"Ya, sudah. Katakan, apa yang mau kamu katakan. Kakak akan mendengar dan menjawabnya sebisa Kakak."

__ADS_1


Moana menarik napas perlahan lalu, menatap Thoms dan membicarakan semua yang Moana ketahui dari Felix. Tanpa Moana sadari sepanjang dia menceritakan semua itu, salah satu tangan Thoms mengepal keras lantaran Felix sudah mengabaikan ancamannya.


Namun, tidak hanya itu. Moana juga mewanti-wanti agar Thoms tidak menyalahkan atau melakukan sesuatu hal yang buruk kepada Felix ataupun Dinda. Jika itu terjadi, maka Moana tidak akan menganggap Thoms sebagai kakaknya lagi.


"Gimana, Kak? Apa benar kecurigaan kami, kalau kakak adalah seorang Mafia?" tanya Moana meyakinkan.


Thoms benar-benar bingung, wajahnya terlihat sedikit pucat. Tidak tahu harus berkata apa-apa lagi, dia lebih memilih berdiam diri tanpa menjawab pertanyaan Moana.


Melihat reaksi terkejut Thoms, Moana semakin yakin kalau ada sesuatu yang memang tidak dia ketahui tentang Thoms. Sebenarnya, melihat cara Thoms memperlakukan Moana dan kedua keponakan saja sudah menjadi teka-teki yang mengarah ke sana.


Akan tetapi, Moana enggan untuk memikirkannya. Sampai beberapa Minggu yang lalu terjadi penembakan yang hampir menewaskan Justin, semakin meyakinkan Moana jika Thoms bukanlah orang biasa.


Pekerjaan yang banyak mengumpulkan musuh termasuk pekerjaan yang sangat membahayakan, sehingga Mafia adalah jawaban yang tepat untuk mendeskripsikan mengenai pekerjaan Thoms.


"Kenapa Kakak diam, apa Kakak sedang mencari alasan untuk membo*dohiku atau Kakak lagi mencari cara melenyapkan Felix, Dinda maupun diriku yang sudah mengetahui jati diri Kakak, iya?"


"Jika memang itu yang ada dipikiran Kakak saat ini, maka aku siap menerima semua itu, asalkan satu. Aku mau Kakak jawab dengan jujur pekerjaan apa yang Kakak jalani saat ini?"


Nada Moana sudah mulai berubah, terlihat sekali kalau Moana begitu geregetan melihat Thoms terdiam membisu. Bagaimana tidak diam, Thoms sendiri bingung harus menjelaskan mulai dari mana. Apa lagi, pekerjaan seperti ini bisa dia dapatkan hanya karena dia sedang menjalani misi untuk mencari musuhnya yang masih bersembunyi.


"Baiklah, jika Kakak tidak bisa jujur pada adik kandung Kakak sendiri. Oke, aku tidak akan lagi menemui Kakak. Terserah Kakak mau bagaimana aku tidak peduli, bagiku seorang Kakak tidak akan merahasiakan apapun pada adiknya. Paham!"


"Kalau begitu aku pam----"


.......


.......

__ADS_1


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2