
"Tuan, Nyonya. Semuanya tenang dulu ya, saya akan membacanya siapa dari kalian yang bisa memberikan donor darah untuk pasien. Apa bila Nyonya Moana yang cocok dengan pasien, maka saya sarankan agara semuanya kembali mencari pendonor lainnya. Sebab, kondisi Nyonya Moana tidak memungkinkan untuk menjadi pendonor," ucap sang dokter, langsung di bantah keras oleh Moana sendiri.
"Tidak! Apa bila saya yang jadi pendonornya, maka semua darah yang saya punya akan saya berikan pada anak saya, saya siap. Lebih baik, anak saya yang harus melanjutkan hidupnya yang masih sangat panjang dari pada saya melanjutkan hidup tanpanya!"
Perkataan Moana benar-benar berhasil menyentuh semuanya, termasuk Ernest. Dia tidak menyangka pengorbanan istrinya memang sangat gila. Dia rela menukar nyawanya demi sang anak, sementara dia sama sekali tidak ke pikiran soal itu.
"Tenang, sayang. Tenang! Bunda tau kamu khawatir sama kondisi Justin, Bunda paham. Tapi, bukan begini caranya sayang. Kalau kamu tiada, bagaimana nasib Justin ke depannya. Kamu tahu 'kan, seberapa dekat dia sama kamu. Jadi, Bunda mohon. Jangan berbicara seperti itu ya, Bunda tidak mau kehilangan salah satu dari kalian. Bunda tidak sanggup, sayang. Bunda tidak bisa!"
Moana terdiam mendengarkan semua perkataan Elice. Apa yang dikatakan mertuanya itu memang benar, sehingga Sakha kembali membuat semuanya tenang. Lalu, mempersilakan sang dokter untuk membacakan semua hasilnya secara satu persatu.
Di mulai dari Sakha, hasil kesehatannya sangat bagus. Sayangnya golongan darahnya tidak cocok dengan cucunya, sama halnya seperti Elice.
Setelah itu, sang dokter membacakan kondisi Moana yang terbilang cukup lemah dan mengharuskan untuk di rawat di rumah sakit, karena tekanan darahnya sangat menurun. Jika mengenai hasil golongan darah, dia pun tidak cocok dengan anaknya.
Kini, hanya tinggal tersisa 2 orang saja. Yaitu, Ernest dan juga Felix. Semua sudah mempercayakan kepada Ernest, agar dia bisa berkorban demi sang anak. Walaupun Ernest pobhia dengan cairan merah itu. Dia tetap harus melakukannya agar anaknya bisa terselamatkan.
"Harapannya hanya ada pada kamu, Nak. Ayah mohon, lawan rasa takutmu itu demi kesembuhan anakmu. Tidak mungkin dari kalian berdua Felix yang menjadi pendonornya, karena kamu adalah Daddynya. Jadi, cepatlah ikut suster itu, kalau perlu Ayah temenin biar kamu tidak takut!"
__ADS_1
Belum juga sang dokter menyatakan hasil dari keduanya, Sakha langsung mendorong anaknya dengan suport dan kepercayaan diri yang sangat tinggi. Baginya, tidak perlu di jelaskan lagi itu sudah pasti. Jika Ibunya tidak sama, maka harapan terakhir adalah Ayahnya.
"Aku mohon, sayang. Selamatkan anak kita, aku mohon. Hidupku tergantung pada Justin, apa bila Justin tiada. Maka hidupku juga akan tiada, jadi aku mohon selamatkan anakku hiks ...."
Moana segera memeluk Ernest sangat erat, membuat Ernest yang awalnya takut serta berat untuk menjalani semuanya. Seketika langsung kuat dan bersemangat, Ernest melepaskan pelukan istrinya lalu meraup wajahnya sambil mengusap air matanya.
"Apa pun akan aku lakukan demi kesembuhan anak kita, jadi tidak perlu khawatir lagi. Kamu cukup doakan yang terbaik untuk Justin, karena doa seorang Ibu adalah doa yang akan di kabulkan sama Tuhan jauh lebih cepat untuk membus langit ke-7. Jadi, bantu Justin dengan doa bukan tangisan, oke?"
Moana menganggukan kepalanya, mereka tersenyum berdua di atas tangisannya. Lalu, Ernest mencium kening Moana dan dia berjalan untuk ikut dengan sang suster di temani oleh Sakha.
Namun, baru beberapa langkah Ernest dan Sakha berjalan. Tiba-tiba sang dokter menghentikan langkah kaki mereka, sehingga perkataan sang dokter membuat semuanya langsung menatapnya dengan perasaan tidak percaya.
Kalimat itu membuat mereka syok, tidak ada satu pun yang menduga bahwa apa yang dikatakan sang dokter memicu pada satu hal yang belum dia ucapkan secara detail.
"Hahh? Ma-maksudnya bagaimana, Dok?" ucap Elice, penasaran.
"Ke-kesalahan seperti apa, Dok? Katakan dengan jelas!" seru Sakha, wajahnya benar-benar terlihat panik.
__ADS_1
"Apa yang terjadi sama hasilnya, Dok?" tanya Moana, khawatir.
Ernest yang tidak tahu harus mengatakan apa lagi, dia hanya terdiam menatap Felix yang dari tadi tidak bisa diam. Terlihat sekali kegugupan di wajahnya yang semua orang tidak ketahui, kecuali Ernest.
"Tidak, Nyonya, Tuan. Saya harus periksa semua kebenaran ini, tunggu sebentar. Saya akan kembali!"
Sang dokter langsung pergi begitu saja membawa hasil LAB semua orang. Sehingga Ernest, Moana, Elice dan juga Sakha menjadi bertanya-tanya. Mereka tidak tahu apa yang terjadi pada hasil pemerisaan antara Ernest dan Felix. Sang dokter tidak mengatakan semua itu secara jelas.
Wajah panik, cemas dan gelisah mulai menjadi kepanikan tersendiri bagi mereka. Sementara sang suster yang mengantar surat tersebut, sama sekali tidak tahu. Apa lagi dia tidak mengetahui apa pun hasil yang ada di dalamnya.
Felix semakin salah tingkah, wajahnya memerah. Dia segera duduk di kursi panjang dalam keadaan gusar. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada hasilnya, tetapi dia sudah memprediksi semuanya tidak akan baik.
.......
.......
.......
__ADS_1
...***💜💜>Bersambung