
Tahun demi tahun, mulai berganti. Kini usia Baby Justin sudah memasuki usia 4 tahun, dimana sikap Ernest kepada Moana pun semakin terlihat bila dia sudah mulai mencintai istrinya. Akan tetapi, Ernest masih menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkannya demgan suasana romantis.
Hari ini, adalah hari dimana Justin berulang tahun yang ke-4. Setiap tahun selalu ada perayaan yang cukup mewah untuknya, apa lagi Justin adalah anak dan juga cucu pertama di keluarga Ernest. Sehingga, dia akan menjadi kesayangan semuanya.
Untungnya sikap Justin tidak mengikuti Ernest yang terbilang dingin serta cuek. Melainkan, Justin seperti Moana yang sangat murah senyum, ramah dan juga lucu.
Ernest saja hampir kewalahan ketika Justin berusaha mengajaknya bermain, tetapi menggunakan bahasa yang masih belepotan.
Kelincahan Justin, selalu meresahkan semua orang yang ada di rumah. Terkadang dia bisa berada di kolong meja sambil makan es krim, bahkan di dalam lemari sambil tertidur pun dia juga pernah. Ya itulah ke randoman Justin yang jauh dari sikap Ernest.
Namun, di balik itu semua Justin selalu bisa membuat semua orang tertawa bahagia tanpa sedikitpun merasakan kesedihan. Apa lagi dia begitu pintar menjadi obat ketika Moana sakit ataupun merasa lelah, dan kesal akan sikap Ernest.
Hanya saja semakin Justin tumbuh besar mengikuti usianya, kemiripan antara Justin dengan Ernest malah semakin memudar. Semua mengambil Moana, sehingga terkadang Ernest menjadi iri akan kemiripan antara Ibu dan anak.
...🌟🌟🌟🌟🌟...
Acara ulang tahun Justin di adakan tepat pukul 7 malam hari ini, semua sudah bersiap-siap di posisinya masing-masing. Sakha dan Elice berada tidak jauh dari mereka sambil mengobrol dengan rekan bisnis keluarga lainnya.
"Dad, iup ilin. Ustin au iup ilin!" ucap Justin yang tidak sabar. Ernest segera menundukkan kepalanya menatap anaknya yang sedang mendongak ke atas.
"Sttt, jangan berisik! Dengarkan baik-baik, nanti kalau sudah waktunya tiba Justin baru boleh tiup lilinnya!" ucap Ernest, kesal saat Jusyin terus menarik-narik celananya.
__ADS_1
"Ishh, dacal Daddy eyek! Dahlah, ita mucuhan!" sahut Justin melipat kedua tangannya, lalu cemberut sambil menjauhi sedikit tubuh Ernest.
Sementara Ernest yang melihat sikap anaknya hanya bisa menggelengkan kepalanya, kemudian kembali memperhatikan acara yang berlangsung.
Moana sama sekali tidak dengar obrolan anaknya dengan Ernest, membuatnya bingung. Karena tiba-tiba saja wajah Justin berubah menjadi badmood. Sampai akhirnya Ernest mendapat lirikan maut dari istrinya yang sedikit mengejutkannya.
"Ke-kenapa kamu me-menatapku seperti itu?" tanya Ernest, khawatir.
"Kau apakan anakku, hem? Kenapa wajahnya yang terlihat gembira, seketika berubah kaya gini? Jelaskan padaku, apa lagi yang sudah kamu perbuat?" ucap Moana penuh penekanan.
"A-apa? Ko-kok aku? I-itu anakmu yang ngeselin, udah tahu acara belum di mulai. Malah mau minta tiup lilin duluan, dasar---"
"Apa, hem? Apa!"
"E-enggak jadi!"
Ya, itulah. Ernest hanya mendapatkan pabrik susu, bukan pabrik lainnya yang sebenarnya jauh lebih menantang. Jelaslah, dia hanya mendapatkan setengah. Semua itu belum dia dapatkan sebelum kata cinta terucap dari mulutnya sendiri.
Perjanjian beberapa tahun lalu di saat Ernest sudah mencintai istrinya, maka dia akan mendapatkan semua haknya sampai tuntas. Pernah satu sisi, Ernest sudah mulai naik dan menginginkan itu semua. Akan tetapi, Moana tidak mengizinkannya sesuai atas perjanjian mereka pada Elice dan Sakha. Bahwa mereka akan melakukannya atas dasar cinta, bukan nap*su sesaat.
Moana berjungkok di hadapan Justin sambil menatapnya dan mengusap pipinya. Suara musik yang cukup keras, membuat Moana harus sedikit mendekat ke arahnya agar Justin bisa mendengarkannya.
"Sayang, jangan marah dong. Maafin Daddy ya, Daddy itu memang terbilang menyebalkan. Tapi, hatinya baik kok. Apa lagi yang Daddy katakan itu benar. Kalau Justin mau meniup lilin, maka Justin harus menunggu tante itu yang mengatakannya. Oke?"
"Dadi, Ustin halus unggu ante itu?" Justin menunjuk ke arah MC yang masih membawakan acara berikutnya. Moana menganggukan kepalanya sambil tersenyum.
"Hem, ya cudah. Api angan ama-ama ya, Usti au iup ilinna." ucap Justin kembali.
__ADS_1
"Sebentar, kok. 5 menit lagi, jadi Justin harus sabar ya. Tidak boleh marah-marah, ini 'kan hari ulang tahun Justin. Janji?"
Moana memberikan jari kelingkingnya yang langsung di sambut oleh kelingking Justin yang sangat kecil. Setelah itu, Moana mencium pipi Justin sambil berdiri.
Ernest yang melihat itu langsung menggendong Justin sambil meminta maaf padanya, karena sudah memarahinya. Meskipun bukan marah pada umumnya, lantaran Ernest hanya kesal saat mulut Justin terdengar behitu comel. Ernest tidak ingin membuat suasana hati anaknya rusak akibat dirinya.
Justin kembali tertawa ketika dia bercanda oleh Ernst di dalam gendongannya. Tiba-tiba Elice dan Sakha datang lalu berdiri di samping mereka, dimana acara inti sudah di mulai.
Semua orang bertepuk tangan sangat meriah sambil menyanyikan lagi 'selamat ulang tahun' untuk Justin. Begitu pun anak-anak dari kalangan bisnis Ernest dan Sakha, mereka semua datang bersama anak, ataupun cucu di acara terbilang sangat mewah. Sampai ada beberapa wartawan yang selalu meliput setiap acara yang diadakan oleh keluarga Ernest.
Justi meniup lilin bersama kedua orang tuanya sambil tangannya yang jahil langsung mengoleskan kue tepat di pipi Ernest dan juga Moana. aaksinya telah mengundang tawa semua orang yang melihatnya.
Ernest dan Moana kembali membalasnya pada Justin, sampai mereka tertawa bersama. Kemudian Justin memotong kue di bimbing oleh kedua orang tuanya. Lalu suapan pertama Justin berikan pada Moana, barulah suapan ke dua kepada Ernest. Berlanjut dengan suapan ke 3 kepada Elice, Sakha dan yang terakhir pada dirinya sendiri.
Begitulah ke randoman seorang Justin, dia seperti pembawa keceriaan di kehidupan keluarga besar Ernest. Sampai-sampai, dia juga yang menjadi pemersatu kedua orang tuanya.
Selepas itu, mereka menikmati acara yang penting ini dengan berbagai lomba kecil untuk anak-anak, serta kekompakan orang tua pada anaknya.
Acara berlangsung sampai pukul 10 malam, dan para tamu undangan pun satu persatu sudah meninggalkan gedung dari mulai jam 9.
Ernest, Moana, Justin, dan kedua orang tuanya pun segera kembali ke rumah dalam keadaan Justin tertidur pulas. Hari ini merupakan yang cukup melelahkan, tetapi juga sangat membahagiakan. Karena semakin hari, Justin semakin tumbuh menjadi anak yang ceria dan juga bisa menjadi pengusir kesedihan bagi mereka semua.
.......
.......
.......
__ADS_1
...***💜💜>Bersambung