
"Moana ke dapur dulu mau buatkan minum, kalian mau minum apa?" tanya Moana, menitipkan Barra pada sang suami.
"Aku ikut, ya. Aku mau bantu-bantu, capek duduk terus, pegel tahu," sahut Naya, berdiri di samping Moana.
"Tapi----"
"Udah, gapapa. Ajak istriku, anggap aja dia sedang belajar darimu supaya nanti bisa melayani suami dengan baik."
Degh!
Semua pandangan mata melongo tak percaya sama apa yang dikatakan oleh Thoms. Mereka saja berdua tidak ada ikatan resmi pernikahan, tetapi panggilan yang Thoms berikan membuat mereka terkejut.
"Na-nah, i-iya, tuh, be-betul apa yang dikatakan su-suamiku. Aku harus banyak belajar darimu untuk urusan melayani keluarga dan suami biar bisa jadi istri yang baik. Ya, 'kan, suami?" tanya Naya memberikan senyuman canggung.
"Benar sekali, istriku," jawab Thoms membalas dengan senyuman kecut.
Jika yang lain masih dalam keadaan syok mendengar panggilan suami-istri dari Naya dan Thoms yang tidak ada ikatakan janji suci, sementara Justin tertawa dibalik semua itu.
Kalo saja bukan karena hukuman Justin yang ketika, tidak mungkin aku memanggil Naya dengan sebutan itu. Terdengar romantis sih, tapi itukan pantasnya ketika kita udah menikah. Cuma, kalo belum nikah pasti membuat mereka jadi pelongo begini. Huhh, sabar ya, Thoms. Ini hukuman untukmu, anggap saja kau sedang berlatih menjadi romantis, cuma melalui hukuman Justin. Huaaa ....
Teriakan suara hati Thoms terdengar begitu frustrasi, tetapi tidak ada cara lain untuk menolak semua itu. Ternyata ini hukuman ketiga Justin yang meminta Naya dan Thoms merubah panggilan mereka bukan dengan kata "Sayang dan Kakak" melainkan "Istriku dan Suamiku".
Aaaa ... Perasaan yang membuat kesalahan pamannya, kenapa aku jadi ikut terseret sih, Justin! Sumpah, kalo anak itu bukan keponakannya sudah aku bejek-bejek mukanya yang menyebalkan itu. Mana dia tertawa dibalik penderitaanku lagi, sumpah ishhh ... Kesel banget loh, aakhhh ... Lagian ide gila dari mana sih, yang dia dapat itu. Hukuman kesatu sama kedua itu seperti janji, aku kira ketiga juga begitu ternyata tidak. Ketiga ini murni hukuman untuk membuatku dan Thoms merasa malu di depan mereka semua, huaa ... Ibu, tolong Naya, kenapa anak kecil itu menyebalkan hiks ....
Saking kesalnya Naya hanya dapat mengoceh pada dirinya sendiri ketika melihat Justin yang saat ini menjulurkan lidah padanya. Namun, Naya dan Thoms harus tetap tersenyum kecil menutupi rasa kesal pada moster kecil yang jahil itu.
Begitulah hukuman ketiga yang mereka harus terima. Suka tidak suka mereka harus menjalaninya demi membuat Justin merasa bahagia dan tidak kembali marah seperti sebelumnya.
"A-apa yang kalian katakan tadi, su-suami? I-istri?" tanya Moana mewakilkan semua orang untuk mencari tahu kenapa semua panggilan dapat berubah secepat itu.
__ADS_1
"Ya, kenapa? Gak boleh? Emang kalian doang yang boleh panggil sayang, cintaku, baby, honey, bunny apalah itu. Kami juga punya panggilan baru yaitu, suamiku dan istriku. Lucu, 'kan, ya, jelas, dong!"
Jawaban Thoms yang disertai dengan sedikit rasa kesal, membuat semua tidak menyangka. Namun, tawa Justin pecah ketika melihat wajah sang paman dan tantenya penuh dengan tekanan.
"Bhuahaha ...." Semua mata langsung menatap ke arah Justin. Di mana anak itu tertawa sambil terjungkal tiduran di lantai beralasan karpet bulu halus sambil meringkuk memegangi perutnya.
Seakan-akan perut Justin dikelitiki oleh ribuan tangan hingga membuat dia tidak dapat berhenti tertawa. Air matanya perlahan menetes membuat Ernest langsung menenangkan anaknya supaya tidak menyiksa perutnya sendiri.
"Cukup, Kakak. Jangan ketawa terus, perutnya nanti sakit. Kamu ini ngetawain apa, sih?" tanya Ernest.
"Hihi, i-itu filimnya lucu banget haha ...." Justin masih tertawa meskipun, mendapatkan lirijan maut dari sang paman dan Naya.
"Kakak udah ketawanya berhenti, nanti ngompol awas ya, Mommy pakaikan pempers Barra. Mau?"
Justin mulai mengontrol tawanya dengan menarik napas sesuai arahan dari Elice dan Sakha. Setelah berhenti, Moana ke dapur bersama Naya dengan wajah yang sedikit memerah menahan rasa malu.
Moana tertawa mendengar semuanya, ternyata sifat jahil sang anak turun temurun dari sang ayah yang dulunya memang jahil. Tawa Moana membuat Naya kesal, sampai akhirnya dia mulai merangkul calon kakak iparnya dan sedikit menasihati supaya Naya lebih sabar kembali untuk menjalani hukuman bersama Thoms.
Akan tetapi, jangan salah hukuman dari Justin ini tanpa disengaja membuat kedua calon pengantin itu supaya bersikap lebih romantis melebihi yang lain.
Mereka kembali berkumpul, menyemil sambil menonton film drakor yang sangat tegang bagaikan di bioskop. Namun, ketika mereka sedang tegang-tegangnya dikejutkan oleh kedatangan seseorang dalam keadaan tersenyum.
"Permisi semuanya, apakah keadatangan saya menggungguk kalian?" tanya orang itu membuat semua mata beralih ke arahnya.
Ada tatapan bahagia, ada tatapan bingung, dan ada tatapan ragu. Semua itu campur aduk menjadi satu membuat Sakha dan Elice segera memintanya untuk duduk dan ikut bergabung.
"Duduk, Fel, Din." pinta Sakha diangguki olehnya.
"Ya ampun, maaf ya, Fel, Bunda belum nengok kamu lagi. Soalnya---"
__ADS_1
"Gapapa, Bun. Kami paham kok, mungkin kalian lagi sibuk," jawab Felix disenyumi oleh Dinda, sesekali matanya melirik ke arah Thoms begitu juga dengan pria tersebut.
"Gimana kabarnya? Udah sehat total, atau masih harus brobat jalan?" tanya Ernest.
"Dokter bilang sudah jauh lebih baik, karena aku menemukan obat yang ampuh dari semua masalah yang mengganggu pikiranmu. Walaupun masalah terbesarku belum selesai, tapi aku senang karena istriku telah memberikan obat terbaik dari obat-obatan dokter."
Mata Felix sesekali menatap Justin, di mana anak itu pun menatap dengan tatapan yang berbeda dari biasanya. Teka-teki jawaban darinya cukup membingungkan semua orang, sebenarnya obat apa yang diberikan Dinda pada sang suami sampai obat dokter pun kalah manjur.
"Obat? Obat apa? Istrimu mendapatkan obat dari mana? Apakah harganya mahal?" tanya Sakha, penasaran.
"Obat ini, Yah. Sungguh, ketika aku mendapatkan obat terbaik ini semua yang aku rasakan seakan-akan hilang membuatku lebih iklas lagi menerima kenyataan masa lalu. Meskipun begitu, aku tetap akan berjuang bagaimana caranya mengembalikan anakku dindalam pelukanku."
Justin mengalihkan matanya setelah melihat senyuman Felix. Dia tidak tahu harus bersyukur sang ayah sembuh atau harus sedih karena sesuatu yang baru diketahuinya.
Semua orang tersenyum lebar menatap ke arah Dinda. Wanita itu memang sangat baik. Dia mampu menyembuhkan semua luka sang suami hanya dengan obat yang dimilikinya.
Di saat semuanya sedangbmengucaokan selamat atas kesembuhan Felix, Justin langsung pergi begitu saja ke arah taman membuat semua terkejut. Namun, Felix jauh lebih dulu refleks mengejar sang anak karena sudah tahu larinya anak tersebut akibat kehadirannya.
Sakha menahan Thoms dan Ernest maupun Moana. Mereka semua harus membiarkan Felix mengejar sang anak, jika semua terus memanjakan Justin tanpa memberikan ruang untuk keduanya bertatap muka sekedar mengeluarkan isi hati. Maka, Sakha dapat memastikan selamanya hubungan antara ayah dan anak kandung akan tetap dipenuhi rasa salah paham.
Akhirnya semua setuju dan memberikan waktu kepada mereka berdua. Sakha kembali menanyakan bagaimana Felix dapat sembuh secepat itu dari penyakit mental hanya karena obat yang diberikan. Dinda menceritakan dengan penuh kelembutan, senyuman, dan rasa hormat kepada semua orang yang sudah menganggapnya sebagai keluarga.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...
__ADS_1