Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Perhitungan


__ADS_3

"Ckk, lain kali bisa 'kan jangan bikin panik orang. Paham!" ucap Ernest lalu berjalan sambil tertawa kecil


"Hahah, akhirnya misiku telah berhasil. Lihat saja mulai besok, tidak akan ada lagi yang memuji aroma rambutmu itu. Dasar wanita ganjen!" sambung Ernest kembali duduk dan fokus menatap layar laptopnya.


Tak lama dari situ benar saja, saat Moana ingin menuangkan samponya. Tiba-tiba tutup botolnya terbuka, hingga semua sampo tersebut tumpah mengenai tangan dan lantai kamar mandi.


"Aaakhh, sampoku! Huaa ...."


"Baru juga aku beli 3 hari lalu, kenapa jadi tumpah begini. Apes banget sih, pasti ini semua gara-gara tadi aku membohongi Tuan Ernest. Sekarang jadi kena getahnya sendiri, 'kan? Ckk, menyebalkan!"


Moana mencoba untuk menyelamatkan sampo yang ada di tangannya terlebih dahulu untuk dia gunakan di rambutnya.


Setelah itu barulah perlahan dia membersihkan lantai yang licin, akibat tumpahan sampo yang berserakan dimana-mana.


"Huhh, tenang Moana. Tenang! Besok kita beli lagi, oke? Kalau perlu stock yang banyak 3 atau 5 pun tidak masalah. Apa lagi wanginya ini benar-benar membuatku merasa lebih fres dan juga tahan lama."


Bibir bisa berkata demikian, tetapi tidak dengan hati. Rasanya Moana ingin menangis saat harus membersihkan sampo kesayangannya.


Baru 1 bulan ini, Moana menemukan sampo yang benar-benar menarik perhatiannya. Meski harganya terbilang cukup menguras kantong, tetapi kualitasnya memang tidak bisa di ragukan lagi.


Saat semua sudah bersih, Moana kembali melanjutkan mandinya sampai selesai. Lalu, dia memakai bath robe dan handuk kecil di atas kepalanya. Perlahan melangkahkan kaki keluar kamar mandi dengan raut wajah yang masih sangat sedih.


Melihat reaksi Moana yang seperti itu, malah membuat Ernest tersenyum di balik layar laptopnya. Moana pun pergi ke arah ruangan ganti, lalu kembali lagi duduk di depan cermin rias.

__ADS_1


"Astaga, kau itu mandi atau mainan sampo sih! Wanginya benar-benar merusak penciumanku!" ucap Ernest, suaranya terdengar sangat kesal.


"Ma-maaf, sampoku semuanya tumpah. Jadi maklum saja bila wanginya sampai memenuhi kamar ini." jawab Moana, lesu.


"Ckk, makannya jadi orang tuh jangan ceroboh!"


"Baru juga belanja beberapa hari sudah boros, kalau begini caranya saya bisa-bisa bangkrut!"


Ernest menutup laptopnya cukup keras, lalu berjalan mendekati ranjangnya. Kemudian duduk menyandar, kakinya di selonjorkan sambil menarik selimut dan memainkan ponselnya.


Moana yang tidak terima atas perkataan suaminya langsung duduk berputar arah dan menatap Ernest dengan wajah kesalnya.


"Asalkan Tuan tahu saja, uang yang Tuan berikan setiap bulannya itu saya pergunakan untuk ke pentingan kebutuhan rumah tangga dan yang lain-lain."


Moana berdiri lalu mendekat ke arah suaminya, Ernest sedikit terkejut melihat tingkah Moana yang aneh. Dia membungkukkan tubuhnya membuka laci kecil, lalu memberikan semua bon belanjaan yang dia gunakan dari ATM yang Ernest berikan.


"Tuan bisa mengeceknya sendiri, itu semua bukti ada di situ. Bila masih tidak percaya, Tuan bisa menanyakan hal itu pada Bibi. Atau kalau perlu, ATM itu Tuan serahkan saja sama Bibi. Biarkan dia yang mengelolanya, agar Tuan bisa lebih percaya!"


"Status saya memang sudah menjadi istri dari seorang Pengusaha yang paling kaya raya, tetapi saya tetap tahu diri. Jika kita hanyalah sebatas atasan dan juga bawahan, menikah pun itu hanya demi anak. Jadi apapun kebutuhan saya nantinya, Tuan tenang saja. Saya bisa mencarinya tanpa harus mengemes pemberian dari suami sendiri!"


"Sekarang yang harus Tuan pikirkan adalah biaya hidup anak yang ada di dalam perut saya, karena tinggal beberapa bulan lagi dia akan segera menemui kedua orang tuanya."


"Namun, apa bila Tuan masih perhitungan untuk membiayai anak ini. Tenang, saya masih punya tabungan yang cukup untuk membiayai semua hidupku dan juga anakku!"

__ADS_1


Kata demi kata yang Moana ucapkan pada Ernest, benar-benar berhasil membungkam mulut Ernest sampai tidak bisa berkutik.


Tangan Ernest memegang semua bon-bon hasil belanja kebutuhan rumah tangga, bahkan isi di dalam ATMnya pun masih sangat banyak.


Entah perasaan apa yang Ernest rasakan, sepertinya dia mulai merasa sikapnya terlalu kejam pada istri dan juga anaknya. Hanya saja, itu tidak berlangsung lama. Ernest kembali bersikap seperti semula tanpa lagi menghiraukan Moana.


Sementara Moana segera membersihkan wajahnya, lalu memakaikan skin care sebelum dia tertidur. Sehabis itu, Moana berjalan menaiki ranjang. Dia merebahkan tubuhnya membelakangi suaminya sendiri sambil menarik selimut.


Kedua mata Moana pejamkan bersamaan rasa sakit di hatinya yang begitu mendalam. Tidak terasa air mata kembali menetes, tangan Moana perlahan menghapus air mata itu tanpa melakukan pergerakan yang mencurigakan.


Merasa begitu lelah, Moana pun tertidur dalam keadaan menangis. Sakit? Jelas sangat sakit. Menangis sambil tertidur itu hal yang paling menyakitkan. Dia tidak bisa mengeluarkan unek-unek hatinya, tetapi tubuhnya menuntut untuk beristirahat.


Berbeda sama Ernest, dia bisa tertidur nyenyak membelakangi istrinya tanpa menaruh curiga sedikitpun. Seakan-akan hati dan juga pikiran Ernest saling bertolak belakang.


Hanya saja yang lebih dominan adalah pikiran, keegoisan Ernest membuat rasa gensinya selalu menang. Hingga dia melupkan perasaannya yang selalu berteriak untuk berusaha menerima takdir yang telah menyatukan.


.......


.......


.......


...***💜💜>Bersambung

__ADS_1


__ADS_2