Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Kau Tetaplah Pengkhianat!


__ADS_3

Jika di malam itu Enza merasakan kebahagiaan bersana Thoms, berbeda sama Moana. Dia sedang berusaha untuk mencari cara bagaimana mendekati suaminya yang semakin hari semakin terlihat kaku dan juga dingin.


Moana mendekatinya bukan karena ingin menurunkan harga dirinya, melainkan ingin menjelaskan semuanya kepada Ernest menggunakan bahasa yang lebih lembut lagi. Dengan tujuan agar bisa meluruskan apa yang membuatnya menjadi salah paham.


Tepat di malam hari, sekitar jam 11. Ernest masih duduk berselonjor di atas ranjang sambil memainkan laptopnya. Sedangkan Moana tiduran sambil memainkan ponselnya, dalam posisi membelakanginya.


Keadaan seperti ini persis seperti awal-awal mereka menikah. Di mana tidak ada keromantisan karena cinta yang tumbuh. Padahal, sebelumnya ketika mereka sudah saling mencintai. Ernest tidur selalu memeluk Moana, dia tidak lepas dengan empeng kesayangannya.


Berbeda sama malam ini, mereka berdua terlihat saling terdiam satu sama lain untuk beberapa jam lamanya. Di rasa Moana sudah tidak kuat lagi, menahan rasa cueknya Ernest. Akhirnya, Moana segera duduk menyamakan seperti posisi Ernest, kemudian menarik napasnya secara kasar.


"Hahh, mau sampai kapan kita diam seperti ini?" tanya Moana, melirik ke arah suaminya.


Ernest terdiam tanpa menjawab satu kata pun untuk membalas pertanyaan Moana. Dia lebih memilih menyelesaikan pekerjaannya, dari pada harus menanggapi istri yang sudah menurunkan egonya demi bisa mengobrol dengannya.


"Ernest! Aku sedang berbicara padamu, bisakah sedikit saja berikan aku ruang untuk menjelaskan semuanya?" tegas, Moana.


Tangannya langsung menutup laptop yang ada di tangan Ernest, lalu mengambilnya sambil menunjukkan wajah kesal dan juga datarnya. Semua itu Moana lakukan, karena suaminya sama sekali tidak menanggapinya.


Cara itu memang berhasil membuat Ernest langsung menoleh ke arahnya. Akan tetapi dalam keadaan emosi dengan tatapan yang sangat tajam.


"Kembalikan laptopku, atau kau keluar dari kamar ini!" tegas Ernest, mulai mengancam Moana.


"Aku tidak akan mengembalikannya, sebelum aku selesai menjelaskan apa yang harus aku jelaskan!" sahut Moana, terus menatap suaminya tanpa rasa takut.

__ADS_1


"Apa yang ingin kau jelaskan, hahh? Pembelaan terhadap dirimu sendiri, gitu? Hehh, memalukan!"


"Semua ini sudah cukup jelas, jadi tidak perlu repot-repot untuk Anda menceritakan pada saya!"


"Bagi saya, kau tetaplah pengkhianat! Sama seperti pria yang telah menjadi Ayah kandung dari anakmu itu!"


"Stop, mengganggu saya! Masih untung kau berada di sini, jika tidak mungkin kau dan anak si*alan itu sudah berada di jalanan!"


"Seandainya Bunda dan Ayah tidak membelamu, saya sudah pastikan malam ini kita telah resmi berpisah!"


Sekalinya Ernest berbicara, benar-benar sangag pedas di mulut sampai langsung menusuk ke dalam hati Moana. Air mata yang hampir lolos, sebisa mungkin Moana tahan agar tidak terlihat lemah di depan suaminya.


Kata-kata yang seharusnya tidak ada, malah menjadi kesan kalau Ernest terpaksa mempertahankan rumah tangganya hanya demi kedua orang tuanya. Bukan, karena cintanya kepada istri dan juga anak yang selama ini berada di dekatnya.


Apa bila Ernest marah, wajar saja kalau dia akan memanggil Moana dengan sebutan nama. Tidak dengan panggilan seformal itu. Seakan-akan Moana telah kembali ke posisi awal pernikahan.


"Tahan, Moana. Tahan! Kamu harus kuat, ingat. Apa pun yang terjadi, kamu harus tetap untuk menjelaskan pada suamimu. Mau dia terima tau tidak, percaya atau tidak. Setidaknya kamu telah berjuang untuk memperbaiki rumah tanggamu. Dan kalau nanti Ernest tetap pada pendiriannya untuk mengakhiri hubungan ini, maka kamu harus siap menerimanya!"


"Intinya, kamu harus berjuang semampumu. Serahkan hasilnya pada nasib yang Tuhan akan berikan. Ingat! Berjuang bukan berarti merendahkan martabat harga dirimu, kamu hanya perlu menjelaskan bukan mengemis. Jika dia tidak bisa menerima semuanya, maka pilihan berpisah adalah jalan satu-satunya!"


Moana berbicara di dalam hatinya dalam keadaan hati yang cukup terluka. Kata demi kata yang Ernest lontarkan memang sangatlah tajam, melebihi tajamnya sebuah silet.


"Sudah cukup, Tuan menghina anak saya! Dia tidak tahu apa-apa dan dia tidak bersalah atas semua kejadian yang menimpa kita!"

__ADS_1


"Dia sendiri adalah korban dari ketidak siapan orang itu untuk bertanggung jawab atas apa yang telah dia lakukan! Kalau saja, saya tahu dari awal jika dia orang yang sudah menghancurkan saya. Mungkin, saya tidak akan mengemis untuk Tuan nikahi!"


"Namun, nyatanya saya tahu semua itu baru sekarang! Dan itu membuat saya benar-benar terkejut bukan main. Jadi, saya mohon. Stop menyalahkan anaknsaya atau pun saya! Kami tidak ikut serta untuk menjebakmu, apa pun alasannya!"


"Lebih baik saya hidup serba kekurangan bersama anak saya, dari pada saya harus mengorbankan seseorang yang tidak seharusnya ada bersama kita!"


"Asal Tuan tahu saja, di sini yang sakit bukan hanya Tuan. Tapi, semuanya! Kami pun merasa di khianati dengan orang itu, cuman kita bisa apa? Pada saat itu Tuan tahu sendiri keadaan kita seperti apa? Hebatnya, pria tersebut aktingnya sangat luar biasa. Seolah-olah dia terkejut, ketika melihat keadaan kita yang sudah tidak menggunakan satu helai pakaian. Padahal, semua itu adalah jebakannyang dia buat sendiri karena tidak ingin bertanggung jawab sama apa yang telah di perbuatnya!"


Moana terus berbicara di dalam hatinya demi membela haknya yang telah di rampas olehnya. Semua cerita yang telah Felix sampaikan, kini kembali di ulang sama Moana demi menjelaskan kepada suaminya kalau dia juga sebagai korban, bukan pelaku.


Ernest hanya terdiam menatap lekat manik mata istrinya yang semakin berkaca-kaca, menahan air mata yang ingin jatuh.


Mungkin, mulut bisa berbohong. Tidak dengan sorotan mata Moana yang membuat Ernest perlahan mulai luluh. Hanya saja, rasa kecewa di hatinya jauh lebih kuat dari pada cinta yang baru saja tumbuh untuk keluarga kecilnya.


Jadi, sepanjang apa pun Moana menjelaskan tentang kejadian itu. Ernest tidak menggubrisnya sama sekali, dia malah mengangkat tangannya layaknya orang yang sudah pasrah dan juga menyerah.


Moana terdiam memperhatikan tingkah Ernest, di mana dia memilih untuk tidur dalam keadaan membelakanginya dengan kedua mata yang dia pejamkan.


Sebenarnya Ernest tidak beneran tidur, melainkan dia hanya berpura-pura karena sudah tidak kuat lagi melihat wajah istrinya yang begitu tertekan.


.......


.......

__ADS_1


.......


...***💜💜>Bersambung


__ADS_2