
"Jika memang kau orang baik, maka bantulah burung saya. Sepertinya dia sedang gatal, jadi harus diusap-usap agar bisa kembali nyaman. Boleh, Nona Naya?"
Suara Thoms benar-benar terdengar sangat indah, tetapi malah kembali membangunkan bulu kuduk Naya sampai membuat dia langsung merinding. Walaupun Naya terbilang sedikit polos, dia cukup mengerti apa yang Thoms inginkan dali kalimat yang dia ucapkan barusan.
Kedipan maut Thoms berikan pada Naka, membuat dia semakin ketakutan. Akan tetapi, di dalam rasa takut itu malah terlintas satu ide yang bisa membalas kejahilan Thoms.
"Ohh, jadi burung Tuan gatal? Ingin diusap, begitu?" tanya Naya memberanikan diri untuk melawan Thoms sambil menunjukkan tatapan penuh arti.
"Jelas dong, silakkan!" Dengan senang hati Thoms berdiri di samping bangkar Naya penuh senyuman.
Awalnya Thoms hanya ingin berniat untuk menggoda Naya karena kepolosannya, membuat Thoms benar-benar gemas ingin mempera*waninya.
Namun, siapa sangka, wajah Thoms seketika berubah drastis saat mendengar satu kalimat terlontar dari bibir Naya. Dia benar-benar terkejut atas jawaban Naya yang sangat diluar dari ekspetasinya.
"Lebih dekat lagi, Tuan. Supaya saya bisa lebih leluasa lagi mengusapnya dengan penuh lembut, kebetulan kuku saya lagi cantik-cantik. Sudah hampir 3 bulan ini saya belum potong kuku, jadi ini masih sangat enak digunakan untuk menggaruk bagian burungmu yang gatal itu."
"Kebetulan loh, 2 hari yang lalu, saya tidak sengaja menggaruk bagian dari masa depan saya. Sayangnya dia malah lecet terus jadi kaya bisul kecil gitu, untung sudah meletus hehe ... kalau memang Tuan 1, boleh dicoba siapa tahu 'kan kuku s bisa bermanfaat untuk menggaruk bagian ujung kepalanya burung Tuan, gimana?"
"Pasti seru, 'kan? Ayo, kita coba. Bukalah celanamu, kuku saya siap untuk menggaruknya. Meong ... Meong!"
Kejahilan Naya benar-benar berhasil membuat Thoms terdiam mematung. Dia langsung membayangkan semua yang Naya katakan menjadi sesuatu yang sangat menyeramkan di dalam pikirannya. Di mana Naya begitu antusias mengukir tato di burung Thoms secara alami dengan menggunakan kuku lancip yang cukup panjang.
Apa lagi saat Naya memainkan jari-jari lentiknya terlihat seperti seekor kucing yang ingin menyakar musuhnya. Raungan menggemaskan itu malah membuat Thoms perlahan berjalan mundur, dia tidak ingin kembali bermain-main dengan wajah polos Naya.
Thoms tidak menyangka, bahwa dibalik kepolosan Naya terdapat jiwa psikopat yang begitu ekstream. Lebih-lebih dari kekejaman yang sering Thoms lakukan untuk melenyapkan seseorang, tanpa harus menyiksanya lebih dalam lagi.
"Loh, Tuan. Kenapa mundur? Tadi katanya mau digaruk, kok sekarang malah menjauh sih, ada apa? Tuan takut? Kalau memang Tuan segan pakai kuku, bagaimana jika pakai gigi? Gigiku bagus, bukan?"
__ADS_1
Naya menunjukkan sederetan gigi kecil yang rapi, bersih juga putih. Akan tetapi, ada beberapa gigi yang sedikit lancip sehingga kalau menancap di burung milik Thoms akan terasa sangat ngilu.
"Hyaakk ... dasar wanita ngeselin! Kalau gitu caramu namanya kau bukan ingin memanjakan burungku, tapi menyiksanya. Paham!"
Thoms berdiri dengan jarak kurang lebih satu meter dari bangkar Naya, tatapan mata Thoms terlihat begitu tajam saat mendengar Naya tertawa puas ketika sudah berhasil menakuti. Andaikan yang ada dihadapan Thoms ini bukan Naya, mungkin tawa yang menggelegar itu adalah penghormatan terakhir sebelum nyawanya di rebut paksa oleh Thoms.
"Hahha, siapa suruh main-main dengan Naya. Dimainin balik malah takut, dasar lemah. Wleee!"
Melihat reaksi Naya seperti itu membuat da*rah Thoms mulai mendidih, baru ini Thoms merasa seseorang yang telah diselamatkan ternyata malah tidak tahu terima kasih.
Begitu bahagianya Naya saat meledeki Thoms seperti anak kecil yang tidak berdosa, jelas-jelas Naya tahu Thoms ini adalah orang yang berhasil menolonginya dari perlakuan be*jad ayah sambung. Akan tetapi, sikap Thoms yang menyebalkan membuat Naya tidak tinggal diam, dia memiliki banyak cara untuk melawan Thoms.
Entah ada keberanian dari mana, Naya pun tidak tahu. Intinya sebelum mengenal Thoms, Naya sangat takut ketika dibentak oleh ayah sambung bahkan dia hanya sekedar mengancam beberapa kali, tetapi tidak sampai melakukannya.
Namun, sekarang seakan-akan kekuatan Thoms malah berpindah ke dalam diri Naya membuat dia terlihat lebih kuat dari Thoms. Ingin rasanya Thoms menelan Naya bulat-bulat untuk santapan makan malamnya, hanya saja dia malah merasa takut karena ketika Naya memarahinya beberapa saat lalu terlihat begitu menakutkan.
"Jika kau tahu siapa saya, maka bisa saya pastikan mulutmu akan terkunci rapat-rapat seakan ada lem perekat yang nempel dibibirmu itu!"
"Akhh, masa, iya? Memang kau ini siapa? Pembisnis? Perampok? Pembunuh atau---"
"Kau punya ponsel bukan, maka carilah profil saya dengan begitu kau akan tahu siapa orang yang sudah kau ledek saat ini!"
Thoms tersenyum kecil lalu kembali duduk santai di kursi tunggal samping bangkar. Naya sama sekali tidak penasaran sama apa yang Thoms katakan, dia lebih cenderung masa bodo setidaknya Naya tidak lagi terikat dengan ayah sambung yang tidak tahu diri itu.
"Eleehh, dahlah. Saya mau tidur, mata rasanya udah sepet," ucap Naya berpura-pura mengantuk.
"Kau tidak penasa---"
__ADS_1
"Tidak, kenapa?" tanya Naya membuat Thoms mengurungkan niatnya.
"Ya, terserah. Udah sana tidur, saya mau makan!" titah Thoms, bangkit dari kursi menuju meja makan yang masih berada di satu ruangan.
"Makanan itu cuman buat Tuan? Terus, saya?" Wajah Naya seketika berubah menjadi sedih, dia juga merasa lapar karena dari siang belum makan apapun mulai berangkat sampai pulang kerja.
"Memangnya kau mau?" tanya Thoms duduk di kursi meja makan sambil memiringkan tubuhnya menatap ke arah Naya.
"Enggak usah, makasih. Aku sudah kenyang!" sahut Naya langsung tiduran membelakangi Thoms yang sudah mulai memasukan cemilan di dalam mulutnya.
"Tadi nanya, bagian ditanya balik jawabannya aneh. Ya, sudah saya makan aja sendiri, lagian juga tenaga saya sudah habis gara-gara menolongmu."
Mulut Thoms mulai mengunyah, suara-suara menggiurkan menyita perhatian perut Naya yang langsung bunyi. Naya berusaha menahan perutnya agar tidak membuat kegaduhan, tetapi semakin kencang renyah suara makan tersebut semakin membuat Naya sudah mengontrol suara cacing diperut.
Akhirnya, Thoms menyudahi aksi bals dendamnya yang cukup menjengkelkan. Kemudian dia berjalan perlahan membawa makanan yang memang dikhususkan untuk Naya, beserta minuman. Lalu menaruhnya di samping meja kecil dekat bangkar.
"Makanlah, saya tidak setega itu terhadapmu!" titah Thoms, membuat Naya berbalik menoleh Thoms yang kini sudah duduk sambil makan di dekat bangkarnya.
"I-ini beneran buat saya, Tuan?" tanya Naya, wajahnya berubah bahagia. Thoms hanya mengnggukan kepala, tanpa berlama-lama Naya langsung mengambil makanan tersebut dan melahapnya penuh kenikmatan.
Naya begitu lahap makan makanan yang Thoms bawakan tanpa menyisakan satu butir nasi. Melihat itu membuat Thoms semakin tertarik, baginya Naya merupakan wanita yang berbeda dari yang biasa dia temui. Hanya saja, melihat dari wajah Naya Thoms sudah bisa menebak bahwa usia mereka terpaut jauh sekali. Jadi, tidak mungkin kalau Thoms berharap lebih dari Naya.
.......
.......
.......
__ADS_1
...💜💜>Bersambung<💜💜...