
Felix tersenyum menyambut kecantikan Dinda yang tiada duanya. Dinda berjalan mengikuti langkah Felix yang membukakan pintu mobil, untuk memberikan tempat ternyaman bagi bidadari hatinya.
Dinda merasa senang atas perlakuan Felix, sehingga dia tidak bisa berkata apa-apa lagi selain tersenyum mengikuti apa yang Felix lakukan.
Selama di dalam mobil, mereka berdua bercanda dan tertawa bersama sampai membuat rasa tegang di dalam hatinya mulai menghilang.
25 menit berlalu, akhirnya mereka sampai di suatu tempat. Yaitu, taman yang sudah di rias seindah mungkin. Dinda dan Felix keluar dari mobil, di mana Felix masih memperlakukan Dinda seperti Ratu yang harus di hormati.
Tidak lupa, ketika pintu di buka Dinda keluar dari mobil sambil menggenggam tangan Felix. Mereka tersenyum bersama, lalu berjalan ke arah di mana meja dan kursi sudah di susun rapi.
Mata Dinda langsung beredar menatap ke sekeliling dengan rasa kagum. Dia tidak menyangka semua ini di rancang secantik ini demi makan malam bersamanya. Pantas saja Felix memberikan gaun mewah sama riasan segala macem. Ternyata, ini maksud dibalik semuanya.
"Ka-kak? In-ini semua kakak yang menyiapkannya? Ko-kok bisa? Ki-kita 'kan hanya makan malam, terus kenapa acaranya tertutup seperti ini?"
Dinda berbicara sambil menatap Felix sekilas, lalu fokus berjalan ke mana-mana untuk menyentuh hiasan lampu yang saling memancarkan sinarnya. Tidak lupa ada juga balon-balon berwarna merah berbentuk hati yang menggemaskan.
Ketika Dinda sedang berjalan, tiba-tiba saat dia berbalik. Felix sudah berlutut tepat di hadapannya dalam posisi kedua tangan terangkat ke atas. Satu tangan memegang buket cantik dan satunya lagi memegang sebuah cincin berlian berhasil membuat Dinda syok.
__ADS_1
Tangan Dinda refleks langsung menutup mulut yang terbuka lebar, bersamaan kedua bola mata membola besar. Dinda benar-benar terkejut lantaran supraise yang di berikan oleh Felix di luar dugaannya.
"Malam ini aku ingin mengatakan sepenuh jiwa ragaku. Jika aku akan selalu menjaga serta melindungimu sampai kelak kita akan di persatukan dengan janji suci. Aku sudah menunggu saat-saat ini dari jauh hari, agar aku bisa mengutarakan semua yang ada di dalam hatiku."
"Berjuta-juta rasa yang tak mampu diungkapkan oleh kata-kata, dengan beribu cara kamu selalu membuatku bahagia. Kamu adalah alasan dan jawaban atas semua doa-doaku untuk selalu ada di sini bersamamu. Maukah kamu menjadi pilihan hatiku yang terakhir di dalam hidupku? Dan, maukah kamu menjadi orang yang pertama aku lihat, ketika membuka mata di pagi hari?"
"Satu-satunya yang bisa aku janjikan padamu, hanya cinta tulus yang ada di dalam hatiku. Aku akan melakukan yang terbaik untuk bisa selalu mencintaimu dengan cara yang sama seperti hari ini seumur hidupku. Maukah kamu menjadi penyembuh disetiap luka cinta yang ada di dalam hatiku ini? Dan, maukah kamu menjadi pendampingku seumur hidup? Aku hanya ingin menjadikanmu wanita satu-satunya yang akan menempatkan tahta di dalam hati kecilku ini. Will you marry me?"
Air mata Felix menetes perlahan sambil tersenyum mendongak ke arah wajah Dinda. Di mana wajahnya sudah penuh dengan air mata yang sangat deras. Baru kali ini Dinda bisa di lamar oleh seorang pria penuh keromantisan.
Ketulusan bisa Dinda lihat dari manik mata Felix, tidak sedikit pun kebohongan di matanya. Semua murni karena Felix memang mencintai Dinda. Bahkan, air matanya mewakilkan ketulusan yang sangat mendalam di hatinya.
"Kalau memang kamu tidak menyukaiku, tidak apa-apa. Aku bisa menerima semuanya dengan lapang dada. Niatku malam ini cuman ingin mengutarakan apa yang ada di dalam isi hatiku. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Baik di terima atau tidak, aku harus tetap bersikap dewasa karena aku tahu. Cinta itu tidak bisa dipaksakan, apapun caranya jika di paksakan maka kedepannya tidak akan benar. Jadi, jawablah sesuai isi hatimu. Katakan apa yang ingin kamu katakan, aku siap untuk mendengarnya."
Felix tersenyum di balik air mata yang masih menetes. Perlahan Dinda membungkuk memegang kedua pundak Felix sambil mengarahkan agar dia berdiri. Setelah itu, Dinda langsung berhambur memeluk Felix dengan sangat erat.
Tangisnya pecah, bersamaan dengan jawaban yang dia utarakan tepat di telinga Felix, "A-aku mau, Kak. Aku mau jadi istri kakak, aku mau banget. Terima kasih, Kak. Terima kasih, karena kakak selalu bisa membuatku terharu dan merasa wanita yang paling di cintai di dunia ini."
__ADS_1
"A-aku juga berterima kasih, kamu sudah menerimaku menjadi calon suamimu. Aku janji, aku akan menjaga cinta kita agar tidak sampai padam oleh waktu."
"Intinya, aku sayang sama kakak. Aku tidak mau kehilangan kakak, terus jadi pria yang aku kenal ya, Kak. Jangan berubah!"
"Kamu juga sama, jangan pernah berubah dan menganggap kalau aku ini sama dengan pria-pria yang suka menyakitimu. Aku akan tunjukkan, kalau aku adalah pria yang nantinya akan kamu banggakan di depan semua orang. Jadi, jangan sedih lagi ya. Ini hari bahagia kita, harus di rayakan oleh senyuman. Oke?"
Dinda melepaskan pelukannya, lalu Felix langsung memberikan buket bunga yang cantik itu padanya. Kemudian memasangkan cincin indah di jari lentik Dinda yang kosong.
Setelah itu Felix mengelap air mata Dinda sambil tersenyum. Begitu pun Dinda juga mengelap air mata Felix. Lalu, mereka pun duduk untuk melakukan ritual makan malam penuh kebahagiaan yang tiada tara.
Tatapan penuh cinta terlihat jelas di wajah mereka, keduanya benar-benar tidak ingin lepas satu sama lain. Bahkan, mereka makan sambil bergandengan tangan satu sama lain. Seakan-akan dunia milik mereka berdua, yang lain ngontrak.
.......
.......
.......
__ADS_1
...💜💜>Bersambung<💜💜...