Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Nenek Lampir


__ADS_3

Selepas perginya Moana ke kamar sebelah untuk menaruh Barra, perlahan Dinda mulai mendekati Justin. Walaupun dia tidak ingin menatapnya, tetap saja Dinda berusaha mendekati Justin secara lembut.


Awalnya Dinda tidak percaya jika keluarga Ernest memberikan akses seluas ini untuk dia mulai mendekati anak dari suaminya. Dinda sudah mengetahui semua cerita itu dari Felix, sehingga hati naruni ingin mencoba mendekati sekaligus memberikan pengertian supaya Justin tidak lagi salah paham terhadap Dinda ataupun Felix.


Ngapain sih ini Nenek lampir ke sini! Dia 'kan, wanita yang dulu pernah mau merebut Daddy dari Mommy? Terus kenapa sekarang dia malah menikah sama Paman ... Ehh, maksudnya pria itu? Apa dia ada niat jelek sama pria itu?


Justin berbicara pada dirinya sendiri ketika ujung mata masih bisa menangkap apa yang Dinda lakukan. Justin benar-benar bingung kenapa wanita dan pria yang sangat tidak dia suka bisa bersatu, sementara Justin tahu niatan jelek Dinda dulu sama Moana seperti apa hingga membuat Justin sedikit takut akan nasib Felix.


Walaupun Justin kecewa terhadap Felix, tetap saja masih memiliki rasa peduli. Justin tidak ingin orang-orang yang ada di dekatnya terluka akibat ulah Dinda yang belum tentu wanita baik.


"Hai, Justin. Boleh kita kenalan la---"


"Tidak perlu, aku sudah tahu kau itu Nenek lampir yang ingin merebut Daddy dari Mommy, 'kan?" tanya Justin langsung berbalik menghadap Dinda dengan tatapan seorang musuh.


"Ngapain Tante nikah sama Pam ... Maksudnya pria itu? Apa Tante ada niat jahat sama dia, iya? Awas aja kalau sampai Tante jahat sama dia, Justin akan cari Tante saat sudah besar nanti!"


Ancaman dari anak seperti Justin membuat Dinda tersenyum lebar sambil mengusap pipinya. Dinda tidak takut sama sekali, malah merasa senang. Meskipun Justin tidak memanggil Felix dengan sebutan Paman seperti yang diceritakan, tetap saja di dalam hati kecilnya Justin masih menyimpan rasa sayang terhadap Felix.


Sayangnya, rasa kecewa menutup semua rasa sayang itu hingga, menimbulkan kemarahan yang membekas atau sering disebut dendam.

__ADS_1


"Tante tahu, Justin itu anak yang sangat baik. Jadi, tanpa Tante jelaskan Justin bisa menilai apakah Tante jahat atau tidak. Sebelumnya Tante mau minta maaf, mungkin sikap Tante yang tidak enak dulu membuat Justin berpikir seperti ini."


"Dulu Tante memang punya niatan ingin merebut Daddy dari mommy Justin, hanya saja semua itu bukan karena Tante suka sama Daddy. Cuman, Tante di suruh sama Daddy untuk membuat mommy Justin cemburu, dengan begitu daddy Justin akan tahu apakah mommy Justin benar-benar cinta atau tidak, begitu."


"Nah, setelah tahu mommy Justin mencintai Daddy barulah Tante tidak lagi menganggu Daddy karena tugas Tante sudah selesai. Sampai di sini Justin sudah paham?"


Justin terdiam, dia sedang mencoba mencerna inti dari cerita yang Dinda sampaikan. Tanpa disadari, Moana berdiri di dekat pintu sambil mendengarkan obrolan apa yang sedang mereka bicarakan.


Dari cara Dinda menjelaskan, Moana bisa menyimpulkan kalau dia bukan wanita yang seperti ada di dalam isi kepalanya. Penuturan kata yang disampaikan juga tidak terlalu berat untuk bisa dicerna oleh Justin.


Ya, memang anak seusia Justin tidak boleh berpikir terlalu keras. Akan tetapi, jika Dinda tidak menjelaskan seperti itu Jusin akan teris berpikir jelek tentang Dinda juga Felix. Nyatanya, pasangan suami-istri itu adalah orang baik yang pernah salah dalam melangkah.


"Kalau begitu, terus kenapa Tante menikah dengan dia? Apa Tante tidak takut, dia itu orang jahat. Buktinya dia sudah membuang anak kandungnya seperti membuang sampah!"


"A-anak kami? Maksudnya?"


Wajah Justin terlihat bingung saat mendengar kalimat yang baru lagi keluar dari bibir Dinda. Masalah Felix saja belum selesai, Dinda sudah menambah pikiran kembali hingga Justin menjadi penasaran.


Apa yang dia katakan barusan? Kenapa dia mengatakan semua itu, pasti Justin malah akan bertambah benci dengan Felix. Lagian kenapa juga Dinda mengatakan sesuatu yang Justin sendiri belum memahaminya, tahu sendiri Justin belum bisa menerima keadaan kalau dia bukan anak kandung Ernest seperti Barra. Mungkin, seiring berjalannya waktu Justin pasti sudah lebih mengerti kalau Dinda juga termasuk bagian dari ibu sambungnya.

__ADS_1


Suara hati Moana bergejolak, rasanya dia benar-benar gereget mendengar kalimat yang Dinda katakan pada Justin. Moana yang tidak ingin menambah beban pikiran sang anak, bergegas masuk ke dalam. Baru membuka pintu dengan lebar, tiba-tiba Barra kembali menangis. Sehingga, Moana harus segera menidurkannya kembali dengan meninggalkan Justin bersama Dinda.


Tangisan anak kecil yang berasal dari kamar sebelah, berhasil membuat Dinda berhenti melamun. Kemudian, Dinda kembali menjelaskan pada Justin dengan kata-mata yang mudah dipahami.


"Tante sudah banyak mendengar cerita Justin dan mommy Justin. Kalian itu adalah dua orang yang begiru disayangi oleh suami Tante. Kok bisa? Jawabannya karena mommy Justin sudah dianggap adik sendiri oleh suami Tante. Itu jauh sebelum Justin ada di perut mommy ya, sampai seketika ada satu kejadian yang membuat Justin hadir ke dunia ini. Justin tidak perlu tanya kejadian apa, nanti kalau Justin sudah besar Justin bisa lenih detai mengetahui asal mula siapa jati diri Justin sebenarnya."


"Kejadian itu membuat semua orang kecewa, marah, bahkan sakit hati sama kaya apa yang justin rasakan sekarang. Hanya saja Tuhan, begitu baik untuk menghapus semua rasa sedih mommy Justin. Namun, pria yang sering Justin panggil Paman itu merasa bingung karena pada saat itu dia belum siap menjadi seorang ayah. Dari pada dia membiarkan Justin dan mommy hidup menderita dengan kesalahan yang tidak mereka lakukan, lebih baik dia menyerahkan Justin dan mommya kepada Daddy Ernest. Dia adalah orang yang terlahir dari keluarga berkecukupan, sehingga kebahagiaan kalian lebih terjamin di tangan Daddy bukan dia, ayah kandung Justin."


"Sulit sekali menjelaskan bagaimana perasaan dia saat harus melepaskan anak kandung bersama orang lain, tetapi mau bagaimana lagi? Saat dia melihat mommy sama daddy Justin serasi, disitulah dia merelakan semuanya. Meski tidak bisa memiliki Justin, dia tetap merasa senang saat Justin mau main dengannya, mau memeluk dia bahkan apa Justin ingat, Justin pernah membuat daddy Justin cemburu karena dia, 'kan?"


"Nah, itu adalah masa-masa yang tidak pernah dia lupakan. Kedekatan Justin padanya membuat dia begitu menyesal karena sudah menyia-nyiakan anak setampan dan sepintar Justin. Andaikan waktu bisa di putar, dia akan menebus semua kesalahannya sama Justin dan tidak akan memberikan Justin pada orang lain. Namun, harus gimana lagi? Semua ini juga campur tangan takdir Tuhan yang tidak bisa dirubah, tetapi bisa diperbaiki."


"Tante bisa merasakan, kalau saat ini Justin pasti kangen banget sama Paman Felix, bukan? Sama, Oaman Felix juga kangen banget. Setiap malam dia selalu mimpi buruk tentang Justin yang sangat membencinya. Tidak ada satu malam yang terlewatkan untuk Paman Felix menangisi Justin. Bagi Paman Felix, Justin adalah jantungnya. Jika Justin membencinya itu berarti jantungnya akan berhenti sampai Justin bisa memaafkannya. Dia tidak masalah kalau Justin tetap akan memanggil dia dengan sebutan Paman, mungkin itu adalah bentuk hukuman yang pantas dia dapatkan."


Penjelasan Dinda sangatlah detail, meski menggunakan bahasa yang sedikit berantakan, Justin sudah bisa memahaminya. Hanya saja, rasa kecewa Justin pada Felix masih terlihat besar sehingga Dinda harus pelan-pelan untuk mendekat Justin dan mengambil hatinya.


.......


.......

__ADS_1


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2