
Setelah mendengar jawaban dari Ernest, posisi Thoms semakin terpojok hingga membuat Thoms hanya bisa tersenyum penuh kemenangan. Seandainya Sakha tidak meninggal di dalam tangannya, setidaknya Thomsa bisa melihat pria paruh baya itu dibenci oleh keluarga saja sudah cukup.
Apalagi ketika hubungan antara Sakha dengan Elice ataupun Ernest pecah, hati Thoms benar-benar merdeka. Jika kema*tian keluarganya tidak terbalaskan oleh kema*tian pula, maka hancurnya Sakha juga bisa menjadi taruhan untuk membalas semua yang telah Thoms dan Moana rasakan.
"Kenapa diam, Tuan? Apa harus saya yang menjelaskan setiap tetesan da*rah orang tua saya kepada keluargamu, atau----"
"Cukup, TuanThoms. Hentikan ucapanmu! Aku ini bukan pembu*nuh, dan saya bukan penculik dari adikmu. Aku----"
Suara tepukan tangan terdengar nyaring membuat semuanya spontans menatap ke arah Thoms yang baru saja berdiri. Tangan Thoms berulang kali bertepuk sambil berjaln perlahan dalam keadaan wajah terus tersenyum.
"Sungguh, drama yang sangat menyenangkan! Kau bilang tadi apa, hahh? Kau bukan pembu*nuh? Waaw ... Is amazing, bukan pembu*buh tetapi, tanpa sadar memberikan sinyal. Padahal, tadi saya tidak sedang membahas penculikan Moana. Cuman, dengan sendirinya kau mempermudah jalanmu. Hahah ...."
Degh!
Sakha terkejut ketika menyadari kebod*dohannya sendiri yang tanpa sadar telah mengungkap semua masa lalu, di mana keluarganya sendiri juga tidak mengetahuinya. Sakha seperti mengubur dalam-dalam masa lalu itu supaya mereka tidak mengetahui apa yang dilakukan untuk mencapai titik ini.
Akan tetapi, Sakha lupa ketika bangkai yang ditutupi serapat mungkin suatu saat bisa kembali terbongkar hanya dengan mengendus baunya. Dikarenakan sampai kapan pun yang namanya bangkai tidak bisa ditutupi menggunakan cara apa pun.
"A-ayah me-menculik Moana? Ba-bagaimana bisa? Ayah dan Moana tidak saling kenal, a-atau semua yang terjadi padaku, Moana dan Felix adalah campur tangan Ayah. Iya?" ucap Ernest sangat tegas menatap Sakha bagaikan mangsa baginya.
__ADS_1
"Sa-sakha, ka-kamu ...." Elice tidak bisa berkata apa-apa ketika bola matanya sudah dipenuhi oleh kebencian serta amarah yang tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Tidak, Sayang, tidak! Apa yang Ernest katakan bukanlah perbuatanku, aku saja kaget karena Moana adalah anak dari musuh atasanku dulu. Aku mohon, kalian dengarkan dulu pen----"
"Stop, Sakha, stop! Aku tidak mau lagi mendengar penjelasanmu, aku benar-benar tidak menyangka. Ternyata, pekerjaanmu sebagai pelaut itu bukanlah pekerjaan yang sebenarnya. Kau hanya memberikan alasan itu supaya aku tidak mengetahui pekerjaan kotormu itu, dasar suami pemboho!"
"Aku tidak mau lagi hidup bersamamu, aku ingin kita bercerai sekarang juga! Lebih baik aku hidup miskin daripada aku bahagia diatas penderitaan seseorang. Apa kau tidak membayangkan bagaimana jika Ernest berada diposisi Moana dan Tuan Thoms, apakah anakmu bisa bertahan seperti mereka, hahh? Menjalani masa kecil seorang diri tanpa orang tua, hingga dipisahkan dengan saudara kandung sendiri. Aku benar-benar tidak menyangka karena telah menikahi manusia berhati iblis seperti dirimu, Sakha!"
"Sungguh, aku tidak bisa membayangkan betapa menderitanya Tuan Thoms dan Moana saat mereka harus menyimpan rapat masa lalu yang keji itu, padahal tanpa mereka sadari Tuhan telah menakdirkan mereka untuk masuk ke dalam lingkungan keluarga musuhnya sendiri. Kau benar-benar keterlaluan, Sakha! Aku benci denganmu, aku benci. Arrrrghhh ...."
Kenyataan yang telah terungkap berhasil membuat Elice sangat terpukul, apalagi Ernest. Pria itu berkali-kali lipat merasa menyesal karena selama ini tidak hanya dia yang telah menyakiti Moana, tetapi ayahnya sendiri sudah menyakiti mereka jauh sebelum Ernest bertemu dengan sang istri.
Moana masih tidak bisa menerima jika selama ini dia hidup bersama musuhnya sendiri, bahkan telah menganggap orang yang telah menewaskan orang tuanya sebagai pengganti ayahnya. Kalau sudah begini, siapa yang harus Moana salahkan? Takdir? Masa Lalu? Ataukah, nasib malangnya?
Sakha segera memeluk sang istri begitu erat sambil mencoba untuk menenangkan supaya tidak akan kata-kata yang keluar lebih kejam kembali dari mulut istrinya. Sakha benar-benar sangat takut kehilangan keluarganya daripada nyawanya sendiri.
Lebih baik Sakha meninggal tepat di hadapan mereka sambil meminta maaf atas semua masa lalu yang sudah disembunyikan, daripada harus berpisah dengan mereka yang akan membuat dunianya hancur sehancur-hancurnya.
Thoms yang tidak tega melihat adiknya seperti menahan sesuatu langsung memeluknya. Tangis Moana pecah di dalam dekapan sang kakak, bukan lagi suaminya yang tidak bisa melakukan apa selain duduk di atas kursi roda.
__ADS_1
"Menangislah, Dek. Kakak paham apa yang saat ini kamu rasakan. Kaka juga bisa mengerti betapa sakitnya hatimu ketika harus menerima kenyataan, bahwa keluarga suamimu yang selama ini kamu anggap baik ternyata adalah musuh dari keluarga kita. Kakak sendiri kaget setelah melihat tanda yang ada ditangannya, awalnya Kakak tidak percaya. Akan tetapi, setelah Tuhan memberikan Kakak daya ingat yang sangat baik, akhirnya Kakak bisa menemukan siapa musuh yang pada saat itu melarikan diri setelah membunuh Mamih, serta menculikmu dan membuatmu menjadi bagian dari panti asuhan!"
Kemarahan, kekecewaan serta rasa benci benar-benar membuat semuanya tidak bisa habis pikir. Pria paruh baya yang selama ini mereka kenal sebagai pria bertanggung jawab, menyayangi keluarga, serta selalu membahagiakan anak dan istri ternyata memiliki masa lalu yang jauh lebih kejam dari Thoms.
Alasan apa yang akan Sakha jelaskan pada mereka semua agar membuat keluarganya kembali percaya, bahwa cerita sesungguhnya bukanlah seperti itu. Melainkan cerita itu berasal dari cerita yang ada di dalam isi kepala Thoms bukanlah, kejadian sebenarnya.
Terlepas Sakha bersalah atau tidak. Dia tetap harus berani untuk mengungkap semua masa lalu, dan menjelaskan kejadian sesuai dengan fakta yang ada ketika Sakha berada di tempat kejadian.
"Tunggu, Tuan. Kau salah paham! Cerita sesunghuhnya bukanlah seperti itu, tetapi ...."
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...
__ADS_1