
Hati orang tua mana yang tidak sakit saat melihat anak semata wayang harus menjalani kehidupannya sendiri di masa tua. Ernest menjadikan semua ini sebagai balasan dari apa yang sudah dia lakukan pada anak dan istrinya.
Keputusan Ernest ini benar-benar sudah mutlak, sehingga kedua orang tuanya sudah tidak bisa melakukan apapun selain menerimanya dengan perasaan ikhlas.
Orang tua mana yang tidak menginginkan keramaian di dalam rumahnya, saat melihat cucu-cucunya berlarian, bercanda, bahkan sampai berantem. Hanya saja, Elice dan Sakha harus menyimpan semua perasaan itu demi menghormati keputusan anaknya.
Mungkin, semua ini sudah merupakan takdir bagian dari kehidupan Ernest. Jadi, dia harus merasakan kesendirian sampai akhir hayat, lantaran sudah menyakiti anak istrinya sendiri.
"Sudahlah, Bun. Jangan memaksakan keadaan, sampai kapanpun anak itu akan tetap seperti ini. Kita doakan saja, semoga mata hatinya bisa kebura dan dia menemukan cintanya kembali," ucap Sakha, tangannya langsung menggenggam istrinya sambil mengelus punggung tangannya.
"Sampai kapan kita harus seperti ini? Banyak dari teman-teman yang sudah menimang cucu, sementara kita baru merasakan sebentar kemudian mereka sudah pergi begitu saja. Ya, walaupun Justin bukan cucu kandung kita. Tapi, dia adalah cucu yang sangat menggemaskan. Hatinya sama persis sepeti Moana," jawab Elice, kembali mengingat memori mereka bersama sebelum adanya kejadian besar itu.
"Intinya kita harus doakan yang terbaik buat mereka semua, tanpa terkecuali. Ya sudah, aku berangkat kerja dulu ya. Kamu hati-hati di rumah, kalau ada apa-apa atau mau ke mana, kabarin aku. Jangan lupa!"
Elice menganggukan kepalanya perlahan sambil mengukirkan senyuman. Mereka pun berdiri, lalu berpelukan. Tidak lupa, Sakha mencium kening istrinya sebelum berangkat kerja.
Sementara itu, Elice terus mengikirkan senyuman melepaskan suaminya yang pergi mencari nafkah. Meski Elice berusaha kuat untuk menutupi perasaannya yang rapuh, tetapi Sakha bisa merasakan semua ini.
Mereka hanya mengandalkan doa agar semuanya baik-baik saja. Apapun kedepannya nanti, semoga mereka tidak lagi merasakan keadaan yang menyakitkan itu.
Selepas perginya Sakha, Elice membereskan meja makan dalam keadaan air mata yang menetes. Rasanya dia rindu sekali dengan sosok cucu serta menantunya tersebut.
__ADS_1
Namun, apa daya. Dia tidak bisa terlihat lemah seperti ini di depan anak juga suaminya. Semua itu demi menjaga mereka agar tetap selalu kuat menjalani kesehariannya.
Setelah perginya Moana dan Justin yang membuat Elice sangat kesepian juga hancur. Kini, penampilan anaknya yang terlihat kusut layaknya benang, menjadi pikiran tersendiri bagi Elice.
Ernest terlihat seperti tidak pernah di urus, padahal sebelumnya dia sangat menjaga penampilannya. Akan tetapi, saat merasakan kehilangan Ernest semakin cuek. Terpenting baginya bisa sehat untuk melanjutkan kehidupannya, walaupun hatinya telah mati bersama perginya Justin dan Moana.
...🌟🌟🌟🌟🌟...
Jika kehidupan Ernest penuh penyesalan, sampai membuatnya tidak ingin menikah lagi kalau bukan bersama Moana. Beda cerita dengan kehidupan Felix saat ini.
Felix memang sudah berusaha untuk mengikhlaskan apa yang sudah terjadi padanya, sampai dia harus kehilangan anak kandung serta seseorang yang sudah dianggap sebagai adiknya sendiri.
Hari ini, adalah hari yang cukup berkesan untuknya dia harus menyiapkan semuanya demi untuk memperbaiki kehidupannya bersama seseorang yang akan dia jadikan Ratu di dalam rumahnya.
Seakan suasa ini seperti mendukung acara peresmian cinta Felix kepada sang pujaan hatinya. Beberapa bulan ini, Felix sudah mengenai baik siapa wanita yang akan mendampinginya. Semua itu demi tujuan baiknya, agar tidak salah memilih seseorang.
Tepat di jam 7 malam, Felix menjemput wanita impiannya untuk ke suatu tempat. Di mana semua itu sudah Felix rancang sedemikian rupa, supaya berkesan manis di hati keduanya.
Di sebuah rumah kecil, Felix sudah berdiri menyandar di depan mobilnya sambil memainkan ponselnya. Felix memberikan kabar padanya, bahwa saat ini dia sudah ada di halaman rumahnya. Tidak lama seorang wanita cantik keluar dari pintu rumah sambil menguncinya.
Perlahan dia mulai berjalan penuh keangunan, mendekati Felix. Senyuman manis terus dia ukir untuk menyapa pria yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Hai ... Maaf ya, kalau sudah menunggu lama. Tadi aku habis dari kamar mandi, maklum. Setiap aku mau pergi sama kakak selalu bawaannya beser mulu, entahlah. Mungkin karena grogi kali ya, soalnya malam ini kaya beda aja. Soalnya kakak selalu menyuruhku dandan yang cantik, tapi---"
"I-ini beneran kamu, Din?"
"I-iya, ke-kenapa, Kak? A-aku jelek, ya?"
"E-enggak, kamu enggak jelek. Sumpah, gaun yang kamu pakai ini cocok banget. Ternyata aku tidak salah pilih gaun, padahal aku ngasal. Dan hasilnya, is amazing! Kamu sungguh cantik luar biasa, Dinda. Aku tidak menyangka semua ini memang serasi sama postur tubuh dan kulitmu. Aaa ... Aku jadi seneng, kapan-kapan aku beliin lagi ya gaun---"
"No! Ini saja sudah cukup, aku tidak mau merepotkan kakak terus. Lagi pula aku jarang menggunakan gaun sebagus dan semahal ini, kalau kakak belikan aku gaun begini. Lebih baik aku jualan aja, serius deh!"
Felix terrawa renyah ketika mendengar jawaban polos dari Dinda. Wajahnya yang terkejut dan sedikit kesal, ketika mendengar kalau Felix akan kembali membelikannya barang berharga.
Baru kali ini Felix menemukan wanita yang sederhana, apa adanya juga baik. Walaupun mereka tidak kenal bertahun-tahun, tetapi dari cara mereka bersikap dan tatapan satu sama lain udah bisa menilai bila mereka memiliki ketulusan yang hampir sama.
Jadi, ketika mereka jalan bersama banyak orang yang mengira mereka adalah pasangan. Nyatanya tidak, atau belum di resmikan. Awalnya mereka berdua merasa cangung ketika mendengar kalimat itu. Hanya saja makin ke sini makin membuat mereka santai, meskipun di dalam hatinya bertaburan bunga yang membuatnya jantung Ernest brdebar-debar.
.......
.......
.......
__ADS_1
...💜💜>Bersambung<💜💜...