Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Pesan Ibu Negara


__ADS_3

Pagi hari pukul 8, Moana sudah harus kembali bekerja sebagai sekretaris Ernest. Meskipun dia sudah menjadi seorang istri, tetapi tetap saja status Moana di mata Ernest tetaplah sebagai sekretarisnya.


Di dalam usia kandungan yang mulai terlihat, Moana harus berusaha kuat untuk melakukan tugasnya dengan benar. Rasa mual yang selalu dia rasakan benar-benar sedikit menghambat kinerja Moana yang terbilang cekatan.


Hanya saja, Moana tidak bisa memprediksi segala sesuatunya. Terkadang dia bisa kerja dengan santai tanpa rasa mual, bahkan dia juga bisa seharian mual hingga akhirnya tidak masuk kerja. Dan sekarang, rasa mual itu muncul kembali walau tidak separah bisanya.


"Kenapa? Apa perutmu masih mual?" tanya Felix yang melihat Moana terus menutup mulutnya sambil mengerjakan tugasnya.


"Iya, Pak. Maklum, dokter bilang jika usia kandungannya belum memasuki sekitar 7 bulan. Rasa mual akan sering muncul secara tiba-tiba, seiring berjalannya waktu. Mungkin, kalau sudah 7 bulan rasa mualnya akan berkurang atau bisa juga tidak akan merasakan fase itu lagi."


Moana menjawab pertanyaan Felix sambil sedikit mendongak menatapnya yang sedang berdiri di hadapannya.


"Apa semua itu tidak bahaya, jika kamu harus memaksakan semuanya sambil bekerja?" tanya Felix, kembali.


"Ya mudah-mudahan saja semua baik, Tuan. Saya juga sudah konsultasi semuanya kok, jadi tenang saja."


Moana berusaha mengukirkan senyuman kepada Felix, meski tubuhnya mulai terasa lemah. Akan tetapi, Moana terus berusaha memperlihatkan bila dia baik-baik saja dan akan selalu kuat menjalani kehidupan ini untuk pertama kalinya.


"Memang Tuan tidak melarangmu untuk berdiam diri di rumah? 'Kan, sekarang kamu sudah menjadi istrinya. Seharusnya di usia kandunganmu ini kamu harus banyak istirahat, bukan malah kerja yang berat seperti saat ini."


Felix terlihat begitu mengkhawatirkan kondisi Moana. Dia merasa Ernest sedikit kejam terhadap istrinya yang sedang hamil muda. Kalau memang Ernest tidak mencintainya, dia bisa menunjukkan sikap kepeduliannya terhadap anak.

__ADS_1


Hanya saja, Ernest malah membiarkan dan terus memaksa Moana untuk bekerja seperti biasanya tanpa ada rasa kasihan sedikitpun.


"Sudah, Tuan. Tuan Ernest sering kali melarangku, tetapi akunya saja yang bandel. Tuan tahu sendiri, jika badanku tidak di buat kerja pasti akan menjadi sakit-sakitan. Ya aku lebih baik kerja semampuku saja. Tuan Ernest juga tidak memaksaku kok hehe ...."


Moana tertawa kecil untuk menutupi sikap suaminya yang suka berubah-ubah sesuai moodnya sendiri. Melihat tawa Moana, kekhawatiran di dalam diri Felix sedikit berkurang.


Dia langsung mengacak-ngacak rambut di kepala Moana, sampai berhasil membuatnya kesal dan langsung berdiri.


"Ishh, Kak Felix!"


Moana berteriak kesal sambil menaruk kedua tangannya di pinggang, kemudian menatap tajam ke arahnya.


"Ups ... ma-maaf, Tuan Felix. Saya tidak sengaja hihi ... Untung tidak ada yang lihat. Ya sudah sana, pergilah! Aku lagi banyak kerjaan," cicit Moana yang kembali duduk di kursinya sambil menatap ke layar komputernya.


Felix terkekeh ketika melihat sikap Moana yang bisa langsung berubah begitu cepat, dari marah lalu ketawa dan sekarang malah cemberut kesal.


Sebenarnya Felix dan Moana tidak memiliki kedekatan apapun selain teman kerja. Sering berjalannya waktu Felix sudah menganggap Moana sebagai adiknya sendiri, begitu juga Moana yang menganggap Felix bagaikan Kakaknya.


Di tambah Moana juga sangat tahu, bila Felix baru saja melangsungkan pertunangan dengan kekasihnya. Mereka pun sudah berkenalan, tetapi tidak terlalu dekat.


Suara ketukan pintu mulai terdengar saat Felix ingin memasuki ruangan Ernest, ketika sudah ada jawaban dari Ernest barulah Felix berani masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


Baru saja Felix ingin membuka pintu ruangan Ernest. Moana malah menghentikan langkahnya, untuk sekedar menitipkan pesan kepada Felix kepada suaminya.


"Tuan, tunggu!"


Moana menatap Felix, kemudian Felix pun berbalik mengangkat salah satu alisnya.


"Tolong sampaikan pesan saya ke Tuan Ernest, saya ingin dia membelikan rujak yang ada dekat jalan komplek menuju rumah. Sekarang, tidak pakai lama!"


"Terimakasih, Tuan Felix yang baik hati dan tidak sombong. Sekian pesan dari istri atasanmu, kurang lebih mohon maaf. Bye!"


Felix melihat sikap Bumil satu ini yang selalu random, hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ada saja kelakuannya yang menyulitkan suaminya sendiri, bagaimana nanti bila Felix menikah?


Apakah dia juga akan merasakan seperti Ernest, dimana ketika istrinya hamil akan mengidam yang macam-macam? Akhh, sudahlah itu urusan nanti. Sekarang yang terpenting, Felix menyampaikan pesan Ibu negara pada Bapak negara terlebih dahulu. Sebelum Moana kembali meraung bagaikan singa betina kurang kasih sayang.


.......


.......


.......


...***💜💜>Bersambung

__ADS_1


__ADS_2