Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Pertukaran Nyawa


__ADS_3

"Papah, jangan sakiti Opa!" teriak anak kecil yang tidak lain adalah Justin.


Anak itu berlari kencang menuruni tangga tanpa takut terjatuh. Air matanya sudah berjatuhan akibat rasa takut kalau pamannya itu akan menyakiti opanya.


"Den Justin, berhenti!" pekik pembantu berusaha menyeimbangi lari Justin ketika menuruni anak tangga. Sayangnya, pembantu itu kesulitan mengejar Justin karena sambil menggendong Barra.


"Berhenti di situ!" titah salah satu bodyguard menghalangi pembantu itu untuk mendekati semuanya.


Barra menangis di dalam pelukan bibi yang terus mencoba menenangkannya. Sedangkan, Justin sudah berada di depan semuanya sambil melihat keadaan Sakha.


"O-opa? O-opa kenapa hiks ... Opa pasti sakit karena Papah, iya? Kasihan Opa hiks ...."


Justin menangis sesegukan ketika menyaksikan keadaan Sakha yang sudah tidak berdaya. Kemudian, beralih menatap tajam ke arah Thoms yang terus memperhatikan ponakan kesayangannya.


"Papah tega sama Opa. Apa salah Opa sama Papah, kenapa Papah mukul Opa? Padahal, Papah selalu bilang sama Justin, 'kan. Kalau Justin gak boleh jadi anak yang bandel. Terus, kenapa sekarang Papah yang bandel, Papah yang mukulin Opa. Opa itu orang baik. Kenapa Opa disakiti hiks ...."


"Papah jahat, Papah udah nyakiti Opa Justin. Pokoknya Justin tidak mau lagi sama Papah, Justin benci Papah, Justin benci! Papah itu bukan Papah Thoms yang Justin kenal, tapi seorang penjahat yang ada di dalam film!"


Justin berteriak untuk membela Sakha di depan pamannya sendiri. Hati Thoms benar-benar hancur ketika mendengar Justin telah membencinya, sementara dulu mereka sangat dekat bagaikan ayah dan anak.


"Ju-justin ... Ju-justin kenapa membenci Papah? Apa salah Papah? Ini semua tidak seperti apa yang Justin lihat, Papah tidak sejahat itu, Sayang. Papah orang baik, jadi Papah mohon Justin percaya sama Papah, ya. Justin tidak boleh membenci Papah, hati Papah sakit banget mendengar kata-kata itu. Papah mohon, Justin jangan ucapkan kata-kaya itu lagi. Bisa?"


Thoms mengatakan semuanya dengan suara lembut sedikit tersenyum. Kemudian, pria itu berjongkok untuk menyamakan tinggi Justin. Akan tetapi, Justin malah berjalan mundur seperti ketakutan saat melihat wajah Thoms yang bukan seperti dia kenal.


"Ti-tidak, Pa-papah bukan orang baik. Papah udah jadi orang jahat karena Papah sudah buat Opa seperti itu. Justin tidak mau kenal Papah lagi, Justin benci Papah. Justin benci!"


Justin langsung berlari ke arah Ernest dengan wajah ketakutan. Thoms berusaha menahan emosi sambil menjelaskan jika apa yang dilihat anak kecil itu tidak seperti apa yang dia lihat. Akan tetapi, ketika Justin selalu menolak permintaan maafnya.


Dari situlah pemicu amarah Thoms kembali meledak. Hatinya begitu hancur ketika mendengar perkataan ponakan yang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri.

__ADS_1


"Aarrghhh ... Ini semua gara-gara kalian! Lihatlah, anak sekecil Justin sudah bisa membenciku hanya karena salah paham. Sementara dulu, aku menyaksikan semua penderitaan kedua orang tuaku persis sekecil Justin. Terus, sekarang kalian puas melihat seorang ponakan membenci pamannya sendiri, hahh? Puas!"


Thoms membentak mereka semua sambil menatap satu persatu wajahnya. Sampai seketika pandangan Thoms terhenti tepat diwajah sang adik.


"Kamu msih percaya sama mereka daripada kakakmu sendiri, hem? Jika kamu lebih memilih mereka, baiklah. Silakkan kamu masuk ke dalam bagian dari musuh orang tuamu sendiri, tapi jangan salahkan kakakmu ini jika satu persatu keturunannya akan lenyap ditangan kakakmu sendiri!"


"Tunggu, Kak! Jika Kakak bernit ingin menghabiskan semua keturunan mereka, itu artinya Kakak akan menghabisi Barra, keponakan Kakak?" tanya Moana matanya telah dipenuhi oleh rasa khawatir begitu besar.


Thoms tersenyum sekilas menatap Moana dengan wajah cueknya. Lalu berjalan lurus mendekati Barra, spontans membuat Moana khawatir.


"Stop, Kak! Aku mohon berhenti di situ atau sekali saja Kakak melangkah, aku yang akan melenyapkan Kakak!"


Degh!


Hati Thoms benar-benar sudah sangat sakit. Tidak ada satu orang yang mempercayai dirinya termasuk adik atau keponakannya. Semua orang lebih mempercayai pembu*nuh mendiang orang tuanya dari pada dirinya.


Belum sempat salah satu dari mereka semua berhasil mengamankan Barra, Thoms lebih dulu merebut bayi tak bersalah itu dari tangan pembantu dan menatap mereka semua dengan penuh senyuman jahat.


Semua yang ada di sana termasuk Justin dan Kanaya langsung dipegangi oleh bodyguard supaya tidak bisa mendekati Thoms. Tangis serta teriakan permohonan minta maaf terus terdengar, tetapi tidak digunris oleh Thoms. Pria itu menutup mata, telinga, juga hatinya sendiri dari mereka semua.


Satu sisi Thoms kasihan melihat Moana menangis meraung-maung agar dia tidak melakukan sesuatu hal buruk pada putra kecilnya. Sisi lainnya lagi Thoms sebenarnya tidak tega ketika harus melenyapkan keponakan yang dari dalam kandungan selalu dijaga dengan baik sampai detik ini.


Namun, setelah kenyataan itu terungkap membuat Thoms seakan-akan buta akan semua fakta yang ada. Barra sendiri langsung anteng di dalam gendongan Thoms, bahkan bayi kecil itu terus tersenyum menatapnya sesekali memegang wajah paman yang sudah dianggap sebagai ayah sebelum Ernest mengakuinya.


"Kak, aku mohon jangan sakiti Barra. Lebih baik Kakak bu*nuh aku saja, aku siap. Asalkan jangan libatkan anak-anakku di dalam dendam Kakak. Aku mohon, Kak. Aku mohon hiks ...."


Tangis Moana pecah sambil terus berusaha melepaskan diri dari bodyguard yang sudah mengunci tubuhnya agar tidak memiliki akses gerak lebih leluasa.


"Tuan, please! Jangan sentuh anak-anakku ataupun keluargaku. Aku siap menggantikan mereka, jikalau memang kau butuh nyawa dari keluargaku sebagai penggantinya. Lepaskan mereka semua, dan bu*nuhlah aku!"

__ADS_1


Ernest tidak tahu harus melakukan apalagi, hanya inilah yang bisa dia lakukan. Berserah diri dan pasrah atas semua yang terjadi jauh lebih baik.


"Tu-tuan ... Ja-jangan pe-pernah sa-sakiti se-semua ke-keturunanku. Bi-biarlah se-semua ma-masa lalu cukup sayang yang menanggungnya. Tidak dengan mereka. Jadi, saya mo-mohon dengan hormat. Lepaskan mereka dan lenyapkan saya!" titah Sakha dibalik semua rasa sakit yang sudah tidak berdaya.


"Ji-jika Tuan membu-butuhkan pertukaran nyawa 2 orang, biarlah saya dan suami saya yang menggantikan itu semua. Tetapi, jangan anak serta cucu kami yang tidak mengetahui masalah itu. Saya mohon, biarkan mereka hidup bahagia. Cukup kami berdua saja yang menebus semua dosa itu, saya mohon hiks ...." Elice terus memohon agar Thoms bisa melepaskan anak serta cucu mereka semua demi masa depan dan kebahagiaan mereka.


"Jangan pernah sakiti adik Justin, kalau Papah sampai menyakiti mereka jangan salahkan Justin. Jika Justin sampai kapan pun tidak mau mengenal Papah lagi, bahkan tidak mau melihat wajah Papah, serta Justin akan membenci Papah selamanya!"


Degh!


Hanya ancaman Justinlah yang mampu menggetarkan isi hati Thoms ketika semua orang penangis sesegukan tetap tidak mempan untuknya. Thoms tidak tahu harus melakukan apa, hanya satu yang dia tahu.


Dendam harus dibalas dengan dendam! Selebihnya tidak ada toleransi untuk itu, sehingga Thoms harus melawan semua perasaan kasihan, tega, atau apa pun itu demi mencapai misi yang tinggal selangkah lagi.


Thoms langsung membawa Barra berlari ke lantai atas, kemudian berdiri di tengah-tengah lantai atas sambil memegangi Barra. Kode yang Thoms berikan berhasil membuat semua orang tidak kuat untuk melihatnya. Hanya kedua mata Justinlah yang ditutup oleh bodyguard sesuai arahan dari Thoms dan ....


"Barra!"


"Barra!"


"Barra!"


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...

__ADS_1


__ADS_2