
Elice duduk di samping bangkar suaminya sambil memegangi tangannya. Air mata perlahan mulai menetes saat menatap wajah suaminya yang sedikit pucat dalam keadaan masih tertidur.
"Sayang, kamu kenapa sih bisa kaya gini. Kamu itu orang yang sangat menjaga kesehatan loh, tapi kenapa sekalinya kamu sakit malah terkena serangan jantung," ucap Elice, menangis.
Tangannya perlahan mengusap pipinya sambil terus menciumi tangan suaminya. Elice tidak tega melihat Sakha berbaring lemah seperti ini, lantaran dia sangat tahu bila suaminya jarang sekali masuk rumah sakit.
Semua Sakha lakukan, agar bisa menjaga kesehatannya meskipun usianya tidak lagi muda. Sesuai dengan janji mereka dahulu, mereka akan menjaga kesehatan satu sama lain demi bisa menua bersama dan bahagia dengan cucu-cucunya kelak.
Di saat Elice sedang fokus menunggu suaminya terbangun, terdengar suara pintu terbuka yang membuat Elice melirik ke arah pintu dan kembali menatap suaminya ketika tahu siapa yang datang ke kamarnya.
Ernest dengan polosnya datang dalam keadaan terburu-buru dan juga panik. Rasa bersalahnya, membawa Ernest untuk segera meminta maaf kepada kedua orang tuanya lantaran atas perkataannya berhasil membuat Sakha terbaring lemah di atas bangkar.
"Bun, Ayah gapapa? Ayah baik-baik aja, 'kan?" tanya Ernest, cemas. Dia langsung berdiri di samping Sakha tepat di depan Elice. Di mana Elice pun ikut berdiri menatap tajam ke arah anaknya.
"Bagaimana, sudah puaskah kau membuat suamiku jatuh sakit seperti ini, hem? Selama ini aku selalu berusaha menjaga kesehatan suamiku, tapi nyatanya anakku sendiri yang telah merenggut kesehatan suamiku!" ucap Elice, matanya berkaca-kaca penuh kemarahan.
"Ma-maafkan Ernest, Bun. Maaf, Ernest tidak bermaksud membuat Ayah seperti ini. Semua itu karena Ernest terlalu emosi, ketika Ayah lebih membela Moana dari pada anaknya sendiri!" jawab Ernest, jujur.
"Jangankan Ayahmu, aku saja selaku orang yang sudah melahirkanmu akan tetap memilih menantu dan juga cucuku, dari pada harus memilih anak kandungku sendiri yang tidak bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar!" tegas Elice.
__ADS_1
Ernest segera berjalan mendekati Elice, lalu dia bersujud di hadapannya sambil meminta maaf atas semua kesalahannya terhadap Sakha.
Mungkin, ini memang bukan sepenuhnya salah Ernest. Akan tetapi, sikapnya yang selalu mengutamakan emosi membuat dia terjebak sendiri di dalamnya. Sehingga, Ernest tidak bisa menentukan pilihan yang menuntunnya untuk berada dalam kebenaran.
"Sudah cukup, Ernest. Sudah cukup! Bunda sudah lelah dengan sikapmu ini, kamu terlalu mementingkan egomu sendiri dari pada tahu kenyataan yang sebenarnya. Namun, setelah kamu mengetahui semua itu bisa-bisanya kamu malah mengatakan kata-kata kasar seperti itu sama Ayahmu sendiri. Benar-benar anak tidak tahu diri!"
"Lihatlah, sekarang. Lihat! Buka matamu, Ernest. Buka! Ini semua karena ulahmu, suamiku jadi seperti ini. Dia hampir terkena serangan jantung, yang bisa membahayakan hidupnya sendiri. Puas kamu, sekarang melihat Ayahmu kaya gini, hahh? Puas!"
Sorotan mata Elice kepada anaknya begitu sinis, membuat Ernest semakin merasa bersalah terhadap orang tuanya.
Air mata Ernest mulai mengalir sambil memeluk kedua kaki Elice. Tidak henti-hentinya terus meminta maaf sampai Elice bisa memaafkannya.
Di balik kemarahan Elice dengan sikap anaknya, akan tetapi dia bisa merasakan betapa kecewanya Ernest terhadap ujian yang saat ini menimpanya.
Hubungan pernikahan yang di awali oleh kesakitan, lalu berujung kebahagiaan. Kini, kembali terluka akibat semua kenyataan yang seharusnya tidak usah terjadi.
"Apa yang di katakan Ayahmu itu semuanya benar, kalau kamu tidak percaya. Silakan tanya sendiri pada Felix, dia saksi kunci semua yang sudah terjadi di antara kalian. Dan, jika itu tidak juga membuatmu percaya. Maka, lihatlah bagaimana keadaan istrimu saat ini. Dia sangat terpukul atas semua yang terjadi di antara kalian bertiga!"
"Jikalau memang kamu tidak ingin menganggap Justin adalah anakmu, tidak masalah. Bagiku, Justin adalah cucu kesayanganku, karena dia yang selalu membuatku tertawa di saat aku merasa kesepian!"
__ADS_1
Ernest tidak bisa berkutik lagi, ketika dia sudah tidak tahu harus menjawab apa. Pikirannya pun sudah melayang ke mana-mana, antara memikirkan kondisi keluarganya sendiri atau Ayahnya.
Belum sempat Elice memaafkannya, Ernest langsung berdiri dan segera mendekati Sakha. Di situ air nata Ernest runtuh ketika dia harus meminta maaf kepada Ayahnya yag baru saja sadar.
Wajah datar Sakha tanpa ekspresi apa pun, telah berhasil membuat Ernest menjadi khawatir. Sakha memilih untuk diam, tanpa menjawab.
Kekecewaan di wajahnya terlihat jelas, sehingga Ernest selalu menggunakan berbagai cara demi mendapatkan kata maaf darinya.
Setelah beberapa menit, melihat Ernest yang terlihat frustasi. Kedua orang tuanya perlahan mulai memaafkan anaknya, karena memang apa yang Ernest lakukan belum sepenuhnya kesalahannya.
Semua masalah ini berasal dari Felix, dia yang sudah memulainya tanpa tahu bagaimana cara mengembalikan.
Namun, di saat hubungan Ernest dan Sakha kembali membaik. Seseorang datang ke kamar Sakha, membuat semuanya spontan menoleh ke arahnya di mana mereka terkejut atas kehadiran orang tersebut.
.......
.......
.......
__ADS_1
...***💜💜>Bersambung