
Di dalam mobil, Thoms merasa khawatir karena meninggalkan Naya seorang diri. Padahal, tanpa Thoms ketahui Naya telah ditemani oleh Elice yang akan menjaganya selama Thoms pergi. Sementara itu, Sakha dan Ernest sudah kembali ke kamar sebelah.
"Bunda kembali aja temani Tuan Sakha di sana, aku gapapa kok, di sini. Lagi pula juga ada mereka yang pasti menjagaku dengan baik. Udah gapapa, Bun. Bunda kembali ke kam---"
"Sstt ... Udah jangan bawel, suamiku di sana ada cucu-cucunya serta anak dan menantu. Jadi, dia yidak akan merasa kesepian. Kamu yang yidak ada siapa-siapa, makannya Bunda di sini. Udah jangan banyak bicara, sekarang makanlah. Aaa ...."
Elice menyodorkan sendok ke depan mulut Naya yang langsung membuatnya tersenyum, lalu membuka kembali mulut untuk menerima makanan.
"Masasih, Bun." Naya berbicara dalam keadaan mulut terisi.
"Sama-sama, udah makan dulu, jangan banyak ngomong. Pokoknya ini makanan harus habis, belum lagi itu ada buah. Sehabis makan, baru makan buah, terus 10 menit baru minum obat. Selesai semuanya langsung istirahat, Bunda temenin di sini. Paling nanti sesekali cek ke kamar sebelah takut suami Bunda perlu apa-apa."
Naya hanya menganggukan kepala sambil tersenyum. Sudah lama sekali gadis itu tidak merasakan kasih sayang seorang ibu, semenjak ibu kandung Naya telah tiada.
Betapa beruntungnya Naila dipertemukan oleh keluarga sebaik mereka. Terlepas dari masa lalu mereka yang rumit, tetap saja Naya yakin apa yang ada dipikiran Thoms tidaklah benar mengenai Sakha.
Ya, memang sih, Sakha juga termasuk komplotan Mafia sama seperti Thoms. Cuma tetap saja, Sakha sudah berubah menjadi pria yang jauh lebih baik. Sekarang hanya tinggal mencari cara bagaimana Thoms bisa mengikuti jejak Sakha untuk bisa memperbaiki diri dengan menebus dosa-dosa yang sudah dilakukan.
Apa yang Naya dan Elice lakukan semua itu dalam pengawasan bodyguard Thoms. Ada juga yang merekam sekilas mereka yang sedang berbicara atas perintah dari King Mafia.
Melihat rekaman yang telah dikirim oleh salah satu pengawal membuat Thoms merasa jauh lebih tenang. Setidaknya, Naya memiliki teman ngobrol. Tidak masalah jika itu istri dari musuhnya yang penting Naya tidak dalam keadaan bahaya.
Aku akui, keluarga Ernest memang semuanya baik dan penuh kasih sayang. Cuma, aku tidak habis pikir aja kenapa Tuhan menjadikan Sakha musuh yang selama ini aku cari. Apa arti dari semua ini, Tuhan? Kenapa bisa Sakha, Tuhan, kenapa?
Ingin rasanya aku segera membalaskan dendam ini agar hidupku bisa tenang, tetapi kenapa sulit sekali. Ditambah mereka punya bukti kuat yang aku sendiri tidak tahu, bukti apa itu. Setahuku, hanya aku bukti dan saksi mata yang masih hidup. Lantas, bukti yang mereka miliki di dalam map kuning itu apa?
Apakah benar dia bukan orang yang menembak Mamih? Jika benar, terus siapa orang itu? Apakah aku sudah sempat bertemu dengannya, atau orang itu tanpa disengaja telah tewas ditanganku bersama Mafia itu? Arrghhh .... Benar-benar, semua ini membuatku hampir gila!
__ADS_1
Pokoknya sekarang aku fokus mengurus masalah yang jauh lebih penting. Setelah itu, aku akan menyelesaikan dan melihat bukti-bukti apa yang mereka miliki. Jika memang benar Sakha tidak bersalah, aku harus harus meminta maaf sesuai sama apa yang Naya katakan.
Batin Thoms berbicara panjang kali lebar setelah menyaksikan semua rekaman tersebut. Thoms tidak bisa meremehkan kasih sayang yang keluarga Ernest berikan, meskipun Sakha bersalah atau tidak setia orang pasti memiliki sisi baiknya sendiri.
Sama halnya seperti Thoms. Sejahat dan sekejam apa pun dia, tetap akan menolong orang-orang lemah yang butuh akan bantuannya.
Saat ini Thoms sedang berada dijalan menuju suatu tempat. Kurang lebih 45 menit, Thoms sampai di tempat tujuannya yaitu, gedung tua yang sangat jauh dari permukiman dan tidak lagi layak huni.
"Silakkan, Tuan. Semua sudah menunggu di dalam," ucap pengawal sambil membukakan pintu dan tidak lupa memberikan hormat.
Thoms menganggukan kepala, lalu berjalan sambil sedikit membenarkan jasnya. Langkah panjang, wajah datar, dan dingin menambah kesan kewibawaan ketua mafia tersebut.
Semua memberikan rasa hormat dengan menundukkan pandangan ketika Thoms mulai memasuki gedung tua tidak berpenuhi. Tidak peduli seberapa banyak debu menyerang hidung, serta adanya binatang liar di mana-mana yang lalu lalang. Thoms tetap melewatinya, sesekali pengawal menyingkirkan sarang laba-laba yang akan mengenai wajah Thoms.
Sesampainya Thoms di salah satu ruangan, matanya langsung melihat mantan bodyguard telah diikat menggunakan rantai dalam posisi kedua tangan di atas. Wajahnya juga ditutup dengan kain hitam, serta mulut juga dilakban untuk menyimpan energi.
Cara itu Thoms lakukan karena mantan bodyguard yang telah mengkhianatinya sudah tahu seluk beluk bagaimana cara melepaskan diri, menggunakan senjata, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, Thoms sudah memperhitungkan semua yang akan dilakukan.
Sebuah kursi ditaruh tepat di depan mantan bodyguard. Perlahan Thoms mengukirkan senyuman miring, lalu duduk santai sambil memberikan perintah ke salah satu anak buahnya.
"Buka kain penutup itu, saya ingin mendengar suara yang setiap hari bersarang ditelinga saya!"
"Baik, Tuan." Bodyguard Thoms yang lain segera membuka penutup wajah, serta lakban hitam yang menghiasi mulutnya.
Sreeett!
"Arrghh ...." Mantan bodyguard itu langsung berteriak saat lakban dibuka secara kasar.
__ADS_1
"Kenapa? Sakit?" tanya Thoms, tersenyum penuh arti.
"Gimana wanita itu? Apakah dia sudah ma*ti?" tanyanya, balik.
Sebisa mungkin Thoms tetap tersenyum mengontrol emosi yang membuat da*rahnya perlahan mendidih, "Tidak, Tuhan masih memberikan keselamatan padanya. Harusnya saya yang bilang, apakah kau sudah siap ma*ti?"
"Uhh ... Takut, aku takut ma*ti, Tuan. Jangan bu*nuh aku, Tuan. Jangan, kasihanilah aku, Tuan. Aku tidak mau ma*ti sekarang, hidupku masih panjang. Hiks, hiks ...."
Mantan bodyguard tersebut terus menyindir Thoms dengan nada yang dibuat selemah mungkin, hingga berpura-pura seperti orang ketakutan.
"Kaauu!" pekik Thoms, langsung mengeluarkan suaran bariton yang terdengar berat. Kedua mata ketua mafia itu mulai menyala bagaikan kucing di malam hari.
"Apa? Kesal? Marah? Dongkol? Uhh ... Kasihan, hahah ...." Pria tersebut terus mengejek Thoms seakan-akan sedang memancing amarah yang ada di dalam dirinya.
"Maaf, Tuan. Lebih baik kita habiskan dia sekarang, daripada dia terus menghina Tuan. Saya tidak terima!" seru salah satu bodyguard yang diangguki oleh bodyguard lain. Mereka semua juga sudah geram atas tingkah yang dilakukan orang itu.
"Benar, Tuan. Kita tidak perlu menunggu lagi, semakin kita berbaik hati memberikan waktu padanya. Dia akan semakin ngelunjak untuk menginjak-injak harga diri Tuan, selaku King Mafia!" sahut yang lain, tidak terima.
"Waaww ... Seram kali kalian ini ya, beraninya main kroyokan. Dulu aja kalian selalu menuruti perintah saya selaku tangan kanan bosmu itu, tapi sekarang? Jangan mentang-mentang saya ada di posisi ini, semua langsung berpihak padanya. Apa kalian tahu, atasan yang telah menggantikan ketua Mafia almarhum Dewa sangatlah lemah. Dia tidak pantas menjadi ketua Mafia karena hanya sayalah orang yang pantas merebut tahta itu, bukan dia!"
Mantan bodyguard itu tersenyum remeh menatap satu persatu mereka semua yang ada di sekeliling Thoms. Ketidak terimaan mereka langsung menyerbu untuk bergantian memberikan pukulan keras diperut, bahkan wajahnya. Sementara orang itu, tertawa tanpa merasakan sakit atas bogeman yang diberikan bertubi-tubi oleh kelima bodyguard tersebut.
.......
.......
.......
__ADS_1
...💜💜>Bersambung<💜💜...