
"Ma-mau nen*," bisik Ernest dengan suara kecilnya tepat di depan wajah Moana yang sedang menyelimutinya.
Moana terkejut bukan main saat mendengar permintaan suaminya yang cukup membuat tubuhnya langsung merinding.
"A-apa? Ma-mau nen? Ja-jangan ngad---" Belum selesai Moana berbicara, Ernest kembali menangis bagaikan anak kecil. Hanya saja, air matanya tidak menetes.
"Hiks\, a-aku ma-mau ne*n. Po-pokoknya aku mau ne*n\, please!" ucap Ernest dengan segala kegemasan yang sedikit menjengkelkan.
Ketika Moana sudah pasrah dan ingin menganggukan kepalanya, tiba-tiba saja terdengar suara yang cukup berhasil membuat Ernest menjadi jenuh dan juga kesal.
Oeekk ... Oeekk ...
Justin menangis cukup keras, pertanda bila dia sudah mulai lapar kembali. Moana yang tidak tega mendengar tangisan anaknya, segera bergegas mengambil Justin dan menggendongnya.
"Uhh, cupcupcup. Sayangnya Mommy laper, iya?" ucap Moana sambil mengayunkan Justin di dalam dekapannya.
Justin hanya bisa menangis tanpa menjawab apa yang di katakan Moana. Sementara Ernest yang sudah membuka mata, menyaksikan Moana mulai duduk di ranjang sambil menyusui Justin.
Moana menyusui Justin dalam keadaan membelakangi Ernest, dimana dia tiba-tiba saja muncul di sampingnya sambil tiduran di pahanya.
"Ehh, ka-kamu mau ngapain?" ucap Moana sedikit memiringkan tubuhnya agar tidak terlihat oleh suaminya. Seakan-akan dia lupa, jika suaminya juga butuh asupan yang sama seperti Justin.
"A-aku juga ma-mau, bagi dua ya. Justin di kanan, aku di kiri. Boleh 'kan?" ujar Ernest, matanya berbinar di penuhi air mata. Wajahnya juga terlihat menggemaskan, layaknya anak kecil yang sedang merayu Ibunya.
__ADS_1
Moana terdiam sejenak, dia melihat Justin sedang asyik menyusu lalu beralih ke arah wajah suaminya. Rasa tidak tega mulai membuat Moana menjadi bimbang, haruskan dia memberikannya?
Namun, jika dia sudah memberikannya. Apakah kemungkinan saat Ernest sudah sembuh sikap ini masih ada atau akan hilang? Itulah yang menjadi pertanyaan besar di dalam pikiran Moana.
Sampai pada akhirnya, Moana memperbolehkan Ernest untuk saling berbagi susu pada anaknya. Sehingga Moana langsung mencari posisi ternyaman, dalam keadaan menyandar di sandaran ranjang sambil menyelonjorkan kedua kakinya. Lalu, tangannya mulai membuka beberapa kancing ke bawah agar bisa mengeluarkan sesuatu dari kaca matanya.
Wajah Ernest langsung berubah, dia terlihat begitu senang saat sebentar lagi akan mendapatkan mainan yang dia tunggu-tunggu. Entah saat ini Ernest sadar atau tidak, ya beginilah jika dia sakit. Seolah-solah dia telah melupakan sifatnya yang terkenal dingin dan juga bodo amat.
Setelah mainan terlihat, Ernest segera melahapnya tanpa basa-basi. Moana terkejut, sedikit refleks menggigit bibir bawahnya. Bagaimana tidak, apa yang Ernest lakukan jauh sekali perbandingan sama Justin ketika menyusu.
Dimana Justin menyusu sesuai kemampuannya sebagai anak, tetapi Ernest menyusu seperti layaknya mainan yang sesekali dia mainkan sesuka lidahnya.
"Wa-waw, i-ini benar-benar di luar dugaanku. Ke-kenapa rasanya berbeda?" gumam batin Moana, melihat dua Baby menyusu dengan caranya sendiri.
Tidak terasa air mata Moana mulai menetes. Dia tidak ingin kejadian ini cepat berlalu, tapi dia juga tidak ingin melihat suaminya jatuh sakit. Hanya saja, tangis Moana hilang hilang, saat melihat aksi anaknya yang sudah bisa mempertahankan haknya sejak kecil.
Kaki mungil yang terlihat kecil, mampu mengusik kenyaman seseorang yang berada tepat di bawahnya. Siapa lagi kalau bukan Ernest yang tiduran di paha Moana sambil menyusu
Berulang kali Justin menendang kepala Ernest yang sedang asyik menikmati permainannya. Kelakuan Justin sangat menyebalkan, benar-benar berhasil membuat Ernest merasa jengkel.
"Sayang, Justin ...."
Rengekan suara anak kecil lolos dari mulut pria dingin yang mengejutkan. Moana tidak bisa berkata apa-apa lagi, jantungnya bahkan hampir berhenti ketika melihat aksi suaminya yang jauh lebih menggemaskan dari Justin.
__ADS_1
"A-apa? Ke-kenapa?" tanya Moana sedikit syok.
"Masa kepalaku di tendang-tendang, memangnya aku enggak boleh ne*n juga? Ishh, kesel deh!" ucap Ernest, cemberut dalam posisi mata kembali berkaca-kaca.
Sementara Justin yang masih asyik menyusu, sedikit mengukirkan senyuman miring, karena dia sudah berhasil merebutnya. Semua iyu tanpa di sadari oleh Moana dan juga Ernest.
Perlhan Moana mulai menasihati anaknya sambil mengelus pipinya. "Sayangnya Mommy kenapa jadi nakal seperti ini, hem? Kasihan loh Daddynya, masa di tendang. Daddy juga 'kan punya hak atas Mommy, jadi Justin harus berbagi sama Daddy ya. Sama seperti Daddy yang berbagi pada Justin. Untuk itu, Mommy minta Justin harus iz---"
Perkataan Moana terhenti saat melihat reaksi Justin benar-benar di luar ekspetasinya. Justin menangis kencang terus menendang Ernest, hingga membuat Ernest kesal dan terbangun.
"Hyaakk, dasar anak menyebalkan! Asal kamu tahu ya, aku ini suaminya jadi apa yang ada di Mommymu itu semua milikku bukan milikm! Kamu itu tidak berhak atas dirinya, karena akulah pemilik sesungguhnya!" pekik Ernest, jengkel melihat anaknya.
Justi melirik Ernest sudah menjauh dari Moana, tangannya segera memegang layaknya menutupi squishy milik Moana. Di situlah terjadi peperangan antara anak dan Daddy. Dimana Justin menjadi pemenangnya, sementara Ernest yang kalah berusaha merebut miliknya hanya bisa menangis dan merengek.
Ernest menyerah dengan Justin, kemudian langsung tiduran di ranjang sambil membelakanginya dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Layaknya orang yang sedang bersembunyi.
Berbeda sama Justin, dia malah tersenyum di balik wajahnya yang tengil. Mirip anak-anak kecil yang sedang meledek. Sedangkan Moana, terdiam syok melihat aksi mereka yang terbilang cukup mengejutkan. Akan tetapi, Moana pasrah. Lantaran Justin benar-benar tidak memberikan celah sedikir pun Ernest sedikitpun menyentuh sumber makanannya.
.......
.......
.......
__ADS_1
...***💜💜>Bersambung