Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Terima kasih, Tuan!


__ADS_3

Keduanya saling memandang satu sama lain untuk beberapa detik, sampai seketika Naya langsung tersadar lalu mendorong Thoms untuk menjauhinya. Secepat mungkin Naya berusaha berjalan meskipun salah satu kaki terpincang-pincang akibat kebal (mati rasa) juga terluka.


"Ja-jangan dekat-dekat denganku. Pe-pergi sana, pergi! Aku benci Ayah, aku benci!"


Begitulah teriakan Naya apa bila dia kembali teringat sama apa yang dilakukan ayah sambungnya beberapa menit lalu. Naya terus mencoba menghindari dari Thoms yang selalu mengikuti Naya dari arah belakang. Semua itu Thoms lakukan demi menjaga jarak agar tidak membuat Naya semakin takut juga tetap mengawasi gerak Naya supaya tidak jatuh.


Thoms cukup tahu, jika mengendalikan rasa trauma itu tidaklah gampang. Semua itu sulit, sangat sulit. Apa lagi ketika semua bayangan menakutkan terus berputar di kepala yang membuat pikiran dan hati menjadi tidak tenang. Sama halnya seperti Thoms, trauma itu sudah puluhan tahun, tapi sampai detik ini Thoms masih suka kambuh ketika semua kejadian masa lalu kembali menghantuinya.


"Hei, Nona. Ini saya, Thoms. Apa kau lupa, aku ini pelangganmu di resto, bukan pria yang hampir merenggut masa depanmu!"


Thoms mencoba meyakinkan Naya dari arah belakang, tetapi Naya malah melihat wajah Thoms seperti sang ayah yang ingin menodainya.


"Pokoknya Naya tidak mau ketemu Ayah lagi, kalau sampai Ayah ada di hadapan Naya. Naya akan pastikan Ayah akan ma*ti hari itu juga. Pergi, pergi!"


Inilah Naya, dia hanya bisa mengancam lewat mulut juga kata-kata. Akan tetapi, jika dihadapkan oleh masalah yang cukup besar seketika Naya lupa sama apa yang dia katakan akibat terlalu banyak bersedih. Ibaratkan Naya hanya berani berbicara, tidak dengan menunjukkan keberaniaan dirinya sendiri.


Tidak henti-hentinya Naya terus mengusir Thoms sambil sedikit berlari, meskipun tertatih-tatih. Tangis akan ketakutan membuat Naya berusaha keras untuk tetap menghindar dari Thoms yang dia duga sebagai ayah tirinya.


Satu atau dua kali mungkin Thoms tetap menahan diri, tetapi semakin diperhatikan sifat Naya malah semakin membuat Thoms kesal. Dia langsung berjalan cepat dengan langkah panjang untuk membalap langkah Naya. Setelah berada di hadapannya, Naya segera menghentikan langkah kaki secara mendadak akibat terkejut atas kemunculan wajah pria asing yang tidak begitu familiar untuk Naya.


Sedari tadi, Thoms sudah cukup sabar ketika memberikan waktu buat Naya supaya tenang. Akan tetapi, Naya malah semakin tidak terkontrol dan terus berhalusinasi lantaran rasa trauma yang ada di dalam pikirannya.

__ADS_1


Sampai seketika, Naya kembali menatap wajah Thoms untuk beberapa detik. Setelah menyadari bahwa itu bukan sang ayah, spontans Naya bingung karena lagi-lagi dia kembali dipertemukan oleh salah satu pengunjung restoran tempatnya bekerja.


"Tu-tuan? Tu-tuan bukannya pria yang tadi ketemu saya di restoran?" tanya Naya sesegukkan.


"Ya, ini aku Thoms. Apa kau lupa lagi, hahh? Sudah saya bilang bukan, saya ini bukan ayah tirimu kenapa kamu selalu menganggap wajah saya ini dia? Kenapa!"


"Apa kau sudah tidak ingin melihat kenyataan? Tidak semua pria itu seperti ayahmu, apa yang dia lakukan memanglah jahat. Tapi, ingatlah! Kau masih diberikan kesempatan untuk menghindari semua musibah tersebut sampai pria yang menjadi ayah sambungmu itu tidak bisa menyentuhmu seperti apa yang dia inginkan!"


"Bangunlah, wahai Nona Naya! Lihat dan pahami, apa yang ada di dalam bayanganmu itu tidak pernah terjadi. Aku yang sudah menolongmu, jadi aku bisa pastikan bahwa kau masih seperti Naya yang terlahir penuh kesucian. Kau tidak ternodai oleh apapun, karena aku telah mencegah semuanya!"


"Aku tahu, berat rasanya menjadi wanita sepertimu. Cuman aku tidak ingin melihatmu seperti ini, jika kamu ingin melenyapkan pria itu. Aku siap untuk membawanya kehadapanmu saat ini juga, bagaimana? Kau udah siap?"


Thoms menatap lekat manik mata Naya yang sama sekali tidak dialihkan, mereka hanya fokus satu sama lain untuk bertatap-tatapan saling menukar pikiran melalui hati.


"Terima kasih, Tuan. Terima kasih, Tuan sudah menyelamatkan saya, sekali lagi terima kasih, terima kasih. Saya tidak tahu harus mengatakan apa lagi, pokoknya saya sangat-sangat bersyukur masih ada orang baik seperti Tuan. Terima kasih, Tuan, terima kasih!"


Berulang kali kata terima kasih terucap di bibir Naya yang membuat Thoms menjadi pusing. Baru kali ini Thoms melihat ada seorang manusia yang tidak lelah mengatakan kata terima kasih, padahal sekali dua kali saja sudah lebih dari cukup.


Akan tetapi, Naya selalu mengulang kalimat itu hanya untuk menggambarkan betapa bersyukur Naya karena Tuhan telah mengirimkan satu malaikat, supaya bisa menolong hidup dia yang hampir dihancurkan oleh orang yang selama ini sudah diprioritaskan untuk dijaga juga dibahagiakan.


"Sudah cukup, aku bukan Tuhanmu! Jika kau ingin berterima kasih, ucapkan itu untuk Tuhanmu, bukan untukku yang hanya pelantara-Nya saja. Paham?"

__ADS_1


Naya mengangguk kecil, tangisnya kembali terdengar meskipun tidak seemosinal pertama kali ketika semua itu baru terjadi.


"Sekarang ikut aku ke rumah sakit, lukamu harus segera di obati. Kalau tidak, kakimu bisa menjadi sarang penyakit yang pada akhirnya salah satu kakimu bisa dihilangkan. Kau mau itu terjadi?"


"Ti-tidak, Tuan! Saya masih ingin berjalan seperti biasanya, saya tidak mau menjadi orang yang cacat. Hidup saya masih panjang, kalau saya cacat bagaimana saya bisa menghidupi diri saya sendiri. Saya mohon, Tuan. Jangan berkata seperti itu, saya tidak mau kaki saya dihilangkan!"


"Baguslah, jika kau sudah sadar itu semua. Sekarang ikutlah, saya akan antarkan kau ke rumah sakit. Tidak perlu memikirkan biaya, anggap saja apa yang aku lakukan padamu sebagai penebus dosa-dosaku yang pernah aku lakui dengan berbuat baik pada seseorang. Jadi, mari saya bantu!"


"Te-terima kasih, Tuan. Saya tidak akan pernah melupakan semua kebaikan Tuan saat ini, ibaratkan saya telah berhutang nyawa. Jadi, sampai kapan pun hutang itu tidak akan bisa lunas kalau saya tidak membalasnya dengan nyawa saya sendiri!"


"Ssstt ... Sudahlah, jangan banyak berbicara. Cepat naik ke mobil, malam sudah semakin larut. Tempat gelap ini tidak bagus untuk kita semua, saya tidak mau menjadi korban sepertimu. Jadi, cepat naik!"


Thoms membantu Naya untuk berjalan mendekati mobil miliknya, setelah itu Naya masuk dan duduk secara perlahan sambil membenarkan posisi salah satu kaki yang masih mati rasa.


Thoms duduk di samping Naya, sedikit menoleh yang membuat Naya masih merasa ketakutan untuk berdekatan dengan pria. Apa lagi di dalam mobil ada tiga pria termasuk Thoms salah satunya, sedangkan Naya hanya seorang diri dengan tubuh bergetar persis seperti tadi ketika Thoms menemukannya untuk pertama kali.


Thoms tidak ingin banyak bertanya, mungkin Naya butuh ruang sendiri untuk menenangkan pikiran sekaligus perasaan yang masih campur aduk. Setidaknya Naya sudah aman berada di dalam genggaman tangan Rio, bukan lagi bersama pria yang hampir mele*cehkan Naya bagaikan wanita sampah.


.......


.......

__ADS_1


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2