
"Kenapa kamu bilang begitu, Sayang? Apa kamu sudah tidak ingin hidup bersama suamimu? Apa kau tidak ingin kembali berjuang untuk mengambil hatinya, kasihan Justin, Nak. Dia pasti bingung jika suatu saat nanti kalian berpisah, Bunda tidak bisa membayangi betapa sakitnya hati Justin saat dia tahu kalau perpisahan kalian karena dirinya."
Moana yang melihat wajah syok dan juga sedih Elice, segera mengambil alih nampan di kedua tangannya dan menaruhnya di atas meja bupet yang ada di samping depan kamar Justin.
Kemudian, Moana menatap Elice sambil menghapus air mata yang sudah mengalir di wajahnya. Sebenarnya Moana tidak ingin melihat mertuanya menangis seperti ini, tetapi dia juga tidak tahu bagaimana nasibnya untuk kedepannya.
"Jika aku bisa memilih, mungkin aku tidak ingin ada di posisi ini, Bun. Andaikan pada saat itu aku tahu kalau Justin bukan anakku dengan Ernest, aku akan memilih untuk hidup berdua saja. Tidak peduli sebanyak apa cacian yang akan aku hadapi, setidaknya aku tidak menyakiti hati banyak orang karena kenyataan ini!"
"Wajar bila suamiku bersikap seperti itu padaku dan juga Justin, lantaran kalau aku yang ada di posisinya. Aku pasti melakukan apa yang Ernest lakukan padaku, untuk menerima kenyataan ini tidaklah mudah untuknya, sama sepertiku. Jadi, bagaimana pun nanti keadaannya aku harus siap menerima semuanya."
"Kalau Bunda tanya apakah aku tidak ingin kembali berjuang untuk mendapatkan kepercayaan suamiku, maka jawabannya. Aku hanya berjuang semampuku, tidak seperti dulu. Apa bila Ernest tetap menolakku, di situlah tugasku sebagai istrinya sudah selesai. Bagiku, mengurus Justin adalah hal yang paling utama. Aku tidak lagi menurunkan harga diriku, kalau suamiku terus menolakku. Hidupku bukan hanya tentang suamiku, Bun. Tapi, ada anak yang harus aku selamatkan agar mentalnya tidak sampai hancur!"
"Nasib rumah tanggaku, akan aku serahkan pada Tuhan. Jika Dia kembali mengizinkan kami bersatu itu artinya doa terbaik menyertai langkahku, tapi bila sebaliknya. Maka, itu artinya kami harus memilih jalan kami masing-masing agar tidak ada lagi yang tersakiti satu sama lain."
"Namun, Bunda tidak perlu khawatir. Kapan pun Bunda mau main, bahkan bertemu dengan Justin. Pintu rumah akan terbuka lebar, aku tidak akan melarang Bunda. Jika seandainya Ernest juga ingin bertemu Justin, aku juga akan mengizinkan. Tapi, tidak dengan pria itu! Sampai kapan pun aku tidak akan mengizinkannya Felix untuk bertemu dengan anakku!"
Dari sorotan mata Moana tersirat kekecewaan yang sangat besar terhadap Felix dan juga kepasrahan atas nasib rumah tangganya.
__ADS_1
Elice bisa merasakan betapa menderitanya Moana saat ini. Dia harus menyelamatkan mental anaknya sendiri, begitu juga rumah tangganya serta menjauhkan anaknya dari hal-hal yang buruk.
Tidak mudah menjalani semua itu dengan kesendiriannya, tapi Elice tidak berhenti untuk terus mendukung apa pun yang Moana lakukan asalkan itu bisa membuatnya bahagia.
Elice segera memeluk Moana begitu erat, di mana mereka menangis bersama. Bedanya, Elice nangis dengan isakan yang terdengar lirih, sedangkan Moana menangis tanpa sedikit pun terdengar suara. Itu artinya, keadaannya sudah tidak bisa di katakan baik, karena mentalnya telah di guncang oleh ujian yang begitu berat di dalam hidupnya.
"Bunda akan membantumu untuk mendapatkan kebahagiaan, Bunda janji, Nak. Bagi Bunda kamu bukanlah menantu, melainkan anakku sendiri. Jadi, apa pun keputusanmu nantinya Bunda akan mencoba untuk menerimanya walaupun pahit. Terpenting, kamu dan Justin jangan sampai melupakan Bunda. Bunda tidak mau berpisah dengan kalian, Bunda sayang banget sama kalian. Bunda mohon!"
"Bunda tenang saja. Aku tidak akan jauh dari Bunda, meski aku tidak lagi tinggal seatap bersama Bunda. Intinya doakan saja, agar aku bisa melewati semua ini dengan mental yang baik-baik saja. Sebab, masih ada Justin yang harus aku perjuangkan lebih dulu!"
Elice menganggukan kepalanya perlahan, lalu mereka melepaskan pelukan satu sama lain. Di mana sebelum itu, Moana mengusap air matanya sendiri agar tidak terlihat lemah di depan mertuanya.
Di saat mereka sedang menetralkan perasaan satu sama lain, tiba-tiba saja suara anak kecil mengagetkannya dan membuat mereka segera menatap ke arah bawah.
"Loh, Omi cama Oma tok iyem di cini? Enapa ndak macuk? Ustin ungguin loh, atanya cebental. Pas Ustin cek, telnyata Omi cama Oma mayah peyukan di cini. Isshh ... Ngecelin, ndak ajak-ajak Ustin!"
Celoteh Justin, langsung berhasil membuat keduanya mengukir senyuman satu sama lain. Apa lagi saat melihat tingkah marah Justin, malah semakin membuat mereka susah untuk menahan tawanya.
__ADS_1
Justin yang melihat mereka seperti sedang meledeknya malah semakin terlihat kesal. Akan tetapi, saat Moana dan Elice duduk bertumpuan kedua kakinya membuat rasa kesal itu hilang. Mereka berdua mencoba untuk meminta maaf layaknya seorang pembantu pada majikannya.
Tawa Justin terdengar indah di telinga mereka, karena Justin melihat wajah lucu di kedua wanita yang dia sayangi. Tanpa berkata apa-apa, Justin langsung memeluk mereka bersama-sama.
Kebahagiaan di balik kesedihan, memang akan selalu ada. Mereka akan datang secara beriringan. Akan tetapi, tergantung bagaimana seseorang menyikapi apa yang telah terjadi di dalam hidupnya.
Ujian bukanlah sesuatu yang terdengar mengerikan, tetapi itu seperti sebuah tangga yang harus di lewati setiap manusia agar mereka bisa mencapai puncak tertinggi kebahagiaannya.
Setelah mereka kembali berbaikkan, Moana dan Elice masuk ke dalam kamar Justin dalam keadaan tangan Elice di gandeng oleh Justin. Sementara Moana membawa nampan yang berisikan makan siang.
Di situ mereka semua duduk di atas kasur bersama-sama sesuai permintaan Elice. Dia akan menyuapini mereka berdua tanpa membiarkan mereka melakukannya sendiri.
Awalnya Moana menolak, tetapi karena Elice ingin merasakan rasanya menyuapini mereka secara bersamaan, akhirnya Moana menuruti dan hanya membuka mulutnya sama seperti Justin yang begitu lahap makan masakan buatan Omanya.
.......
.......
__ADS_1
.......
...***💜💜>Bersambung